Ilustrasi Bioteknologi
Ilustrasi Bioteknologi

Teknopreneur.com—Lambatnya perkembangan industri farmasi lokal, dikarenakan sifat bisnis industri yang bersifat Capital Intensif. Artinya, bisnis ini masih membutuhkan banyak modal dari para insvestor.

Hal tersebut, ditegaskan oleh Komite Manufacturing GP. PP.Kimia Farma Barokah Sri Utami. bahwa untuk mendirikan satu industri saja minimal dana yang harus dikeluarkan kurang lebih sekitar Rp100 miliar. Menurutnya, besar anggaran itu baru menyediakan satu jenis obat fitofarmaka. Belum terhitung untuk pembangunan infrastruktur, dan fasilitas yang diperlukan.

Barokah menuturkan, industri farmasi sedang mengalami tantangan berat untuk menjawab kebutuhan pasar yang masih belum sesuai. Disisi lain, industri farmasi membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang besar untuk satu perkembangan riset.

Untuk itu, dalam perkembangannya sangat dibutuhkan bantuan modal besar dari pemerintah. Guna bisa menambah jumlah produk fitofarmaka yang sudah beredar sebelumnya.

Ia melanjutkan, ada beberapa hal yang begitu disayangkan. Dikarenakan, dari ekspansi iklan yang sudah dilakukan oleh para pengembang industri. Masih belum memiliki efek positif, hasilnya dana yang dikeluarkan Rp7 triliun dari 207 industri. Masih kalah jauh, dengan untung dari satu pabrik rokok yang besarnya sama dari biaya iklan industri farmasi.

“industri farmasi saat ini menghadapi tantangan yang berat” ucapnya, kamis lalu (9/11).

Menyikapi seberapa besar bantuan modal pemerintah untuk perkembangan Fitofarmaka, secara umum lansiran Pikiran Rakyat menjelaskan. Jumlah anggaran untuk belanja riset Indonesia untuk tahun ini, baru senilai 0,25 persen per Gross Domestic Product (GDP) atau sekitar 30,8 triliun. Yang sebagian besar besaran dana tersebut masih bersumber dari APBN senilai 82 persen, atau Rp26 triliun.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir Mengungkapkan. Anggran dana yang sudah dijatahkan tersebut, masih sangat kecil ketimbang dari negara Korea Selatan, yang sudah 4,2 persen per GDP.

Namun demikian, Kemeristekdikti sudah mengupayakan penambahan anggaran sebesar Rp40 triliun atau sekitar 2 persen dari GDP nasional untuk tahun 2018.

“pengajuan tambahan dana tersebut sudah masuk dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek” ungkap Nasir.

Laporan lain seperti Tirto pun menyebutkan, bahwa untuk untuk pembangunan infrastruktur seperti fasilitas Biosafety level (BSL) 3. Pemodal, harus mengeluarkan dana kurang lebih sebesar Rp35 sampai Rp50 miliar. Yang nantinya angka itu naik, bergantung pada seberapa canggih fasilitas yang akan dibangun.

Diterangkan oleh Enny, Selaku Deputi Ilmu Pengetahuan hayati (IPH). Mengindikasikan bahwa Indonesia masih perlu suntikan dana besar oleh para investor. Dan fakta lainnya, hampir 97 persen bahan baku  yang masih impor menyebabkan harga produk fitofarmaka sulit dijangkau oleh masyarakat.WES