Ucapan Terimakasih kepada Ibu Barokah Sri Utami
Ucapan Terimakasih kepada Ibu Barokah Sri Utami

Teknopreneur.com— Penggunaan obat herbal dalam skala nasional masih dibilang minim, lantaran sulitnya melakukan riset guna memproduksi produk obat herbal yang terstandarisasi.

Padahal sumber regulasi nasional yang berdasar pada Undang-undang no. 36 tahun 2009 pasal 48 menyebutkan, untuk di bidang farmasi, salah satu pelayanan kesehatan adalah dengan obat herbal. Ini disampaikan langsung oleh, Komite Manufacturing PP. GP.Farmasi Indonesia, Barokah Sri Utami.

Berdasar peraturan tersebut, seharusnya angka produksi dan ekspor produk herbal meningkat, namun justru hasilnya berkata lain. Ia menuturkan, bahwa untuk total penjualan barang dan jasa di bidang kesehatan Indonesia masih sebesar 2,7 persen masih harus mengejar jauh dari negara tetangga Malaysia dan Thailand yang sudah memperoleh pertumbuhan sebesar 3,8 persen dan 4,1 persen dari total pertambahan nilai Produk Domestik Bruto (PDB).

Tidak hanya itu, pemerintah yang memiliki niat baik untuk mengendalikan mutu dan biaya pengobatan. Pada tahun 2013 berdasar laporan Depkes.go.id, telah membentuk Formularium Nasional (Fornas) yang disusun secara ilmiah dan mutakhir oleh Komite nasional penyusunan Fornas. Artinya, daftar obat yang masuk dalam list Fornas memiliki khasiat yang teruji, dan harga terjangkau oleh masyarakat bawah. Sehingga bisa dijadikan acuan resep dalam sistem jaminan kesehatan nasional (JKN).

Jika mengacu kembali pada peraturan perundang-undangan yang sudah ditegaskan oleh Barokah, berdasar penelusuran Teknopreneur terhadap situs resmi e-Fornas. Nampak pada situs tersebut masih belum menampilkan beberapa produk obat herbal sebagai acuan untuk resep JKN dan masyarakat kalangan bawah. Salah satu contoh yang bisa ditemukan dalam laman tersebut ialah, produk Fentanyl yang berfungsi sebagai pereda rasa sakit yang mungkin akan terdengar lumrah oleh kalangan praktisi farmasi.

Menyikapi perihal tersebut, laman e-Fornas terbilang masih menggandalkan produk obat kimia, untuk dijadikan resep acuan JKN sampai saat ini. Sehingga untuk regulasi yang sudah ditetapkan Indonesia masih belum bisa diterapkan sepenuhnya oleh beberapa pihak yang terkait.

Peraturan Kepala atau PerKa BPOM no.HK.00.05.41.1384 yang diungkapkan Direktur Distribusi PT. Kimia Farma, Andi Prazos. Jelas memaparkan bahwa penggunaan obat produk herbal adalah cara solutif untuk mengatasi penyakit secara aman tanpa efek samping.

Yang kemudian Andi menutupnya dengan pernyataan WHO bahwa produk herbal merupakan hal yang paling penting untuk perkembangan kesehatan. Untuk ketegori obat-obatan herbal ialah bahan yang sediaan bahan bakunya sudah aman digunakan, dan harus memenuhi syarat untuk penggunaannya. Dan obat herbal harus telah mapan serta akrab dikenal oleh masyarakat. WES/LIN