Ucapan Terimakasih kepada Drs Ondri Dwi Sampurno
Ucapan Terimakasih kepada Drs Ondri Dwi Sampurno

Teknopreneur.com— Jenis obat Fitofarmaka sebagai jenis obat herbal yang sudah teruji keamanan serta khasiatnya secara klinis dan terstandarisasi. Nampaknya Indonesia perlu belajar kembali untuk memproduksi produk Fitofarmaka secara maksimal. Mengingat potensi sumber daya alam nasional masih sangat besar untuk di manfaatkan.

Hal tersebut dapat dibuktikan dalam sajian laporan yang diutarakan oleh Komite Manufacturing PP. GP.farmasi Indonesia, Barokah Sri Utami. Bahwa Indonesia saat ini dikenal sebagai negara Megadiversity, yakni negara sebagai penghasil tumbuhan obat terbesar di dunia, yang diperkirakan sudah ada 30.000 jenis tanaman terdaftar.

Ia mengungkapkan, untuk tradisi perkembangan obat herbal saja, Indonesia sudah menggunakannya sejak ratusan tahun yang lalu. Kemudian di perkembangan jaman saat ini, pihaknya telah melakukan uji empiris terhadap sebaran tanaman obat yang sudah tersedia secara lokal. Hasilnya untuk tanaman pencegah penyakit terdata sudah ada 48,9 persen, penunjang kesehatan 22,47 persen, tanaman penyembuhan sebanyak 21.78 persen, dan untuk sisanya ialah tanaman untuk bahan dasar kosmetik.

Baginya untuk perkembangan obat herbal lokal yang sudah ada sejak dulu, Indonesia patut bangga lantaran untuk jenis obat jamu sudah masuk dalam kategori warisan budaya yang dilindungi oleh World Health Organization (WHO).

Membicarakan satu level lebih tinggi mengenai obat herbal Fitofarmaka, menurut Deputi Bidang Pengawasan Obat tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen (BPOM) Ondri Dwi Sampurno menjelaskan, untuk produk obat Fitofarmaka yang sudah terdaftar saat ini, sudah ada 18 produk. Kemudian yang sedang dalam proses uji kelayakan kini sudah 3 produk yang nantinya akan dinilai layak atau tidak beredar di masyarakat.

“Dan mudah-mudahan yang 3 ini  bisa memenuhi data klinik, sehingga nanti bisa bertambah menjadi 21 produk,” ungkap Ondri, Kamis lalu (9/10).

Namun demikian, untuk pemerataan industri Fitofarmaka Indonesia terbilang masih lambat, dikarenakan masih banyak kendala yang harus segara dituntaskan. Untuk saat ini, ada kurang lebih 7 sampai 5 industri, yang masih aktif memproduksi jenis obat Fitofarmaka tersebut.

Berdasar pernyataan tersebut, contoh paling dekat untuk mengambarkan produk Fitofarmaka yang sudah banyak beredar saat ini, ialah Tensigard produk obat yang berguna untuk menurunkan dan menstabilkan tekanan darah, dan Nodiar yang tidak lain untuk mengatasi penyakit diare non spesifik.

Lebih jauh jika berdasar laporan Ondri, untuk produk Fitofarmaka masih terlihat sulit untuk berkembang. Sangat berbeda dengan produk jamu, tercatat produknya sudah begitu banyak yakni sudah mencapai 7.710 dan telah dibuktikan secara empiris.

Tahapan Proses Fitofarmaka

Lain pihak seperti Direktur Distribusi PT. Kimia Farma, Andi Prazos menyikapi sulitnya untuk membuat produk obat berjenis Fitofarmaka. Baginya, dalam proses pembuatannya ia menyebutkan terdiri dari 3 klasifikasi.

Klasifikasi pertama, tidak sedikit masyarakat yang sudah tahu mengenai produk jamu. Jamu menurutnya untuk prosesnya sendiri ialah tanaman yang seratnya sudah difraksinasi secara uji biologis. Yang selanjutnya bahan tanaman tersebut mulai dimasukan kedalam tahap farmakologi (menguji efek bahan baku obat).

Kemudian selanjutnya, klasifikasi yang kedua yaitu Obat herbal terstandarisasi (produk OHT). Baginya untuk klasifikasi seperti ini bahan baku yang sudah diproses tahap uji toksis lanjut dan tahap Farmakologi, maka sudah layak disebut sebagai produk OHT. Maka untuk klasifikasi terakhir, ia menuturkan adalah Fitofarmaka, lebih jelasnya Fitofarmaka merupakan produk dari bahan baku obat yang sudah teruji melalui beberapa proses uji klinis sesuai dengan prosedur.

Andi menambahkan, ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan produk Fitoframaka. Artinya,  faktor ekonomi, medis, bahan baku, dan regulasi pun harus menjadi pertimbangan. Ia mencontohkan faktor ekonomi, jika dalam upaya pengembangannya dari segi pendanaan modal masih belum mencukupi. Sudah dipastikan untuk industri yang ditawarkan untuk memproduksi Fitofarmaka akan menolak, dan memilih untuk memproduksi jenis obat lain.

“Kita butuh biaya yang cukup besar, sehingga empat faktor ini yang harus diperhatikan dari segi ekonominya, bahan baku, medis dan regulasinya,” tutupnya. WES/LIN