Narasumber Telah Duduk di Kursi Panggung. (kiri) Drs Ondri Dwi Sampurno. Andi Prazos, Barokah Sri Utami
Narasumber Telah Duduk di Kursi Panggung. (kiri) Drs Ondri Dwi Sampurno. Andi Prazos, Barokah Sri Utami

Teknopreneur.com—Potensi market industri bidang farmasi Indonesia nampak lesu untuk dikembangkan, pasalnya untuk angka penjualan barang dan jasa di bidang kesehatan atau Expenditure Health hanya 2,7 persen dari total nilai Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Angka tersebut didapatkan berdasarkan laporan Pharmaceutical & Healthcare Countries Report 2014, artinya Indonesia masih belum maksimal dalam upaya pengembangan produksi obat lokal.

Data laporan pharmaceutical & Healthcare Report yang disajikan oleh Komite Manufacturing PP. GP.Farmasi Indonesia, Barokah Sri Utami. Lebih rinci ia menjelaskan, bahwa Indonesia masih harus dibawah bayang-bayang negara Malaysia dan Thailand untuk angka expenditure Health sudah mencapai 3,8 persen dan 4,1 persen di wilayah Asia Tenggara.

Meskipun demikian Barokah optimis, bahwa untuk kedepannya industri farmasi Indonesia sudah dipastikan akan mengalami kenaikan signifikan yang positif, lantaran ia menyimpulkan hasil dari laporan dengan sumber yang sama. Bahwa Indonesia untuk total penjualan produk obat nasional meningkat Rp450 triliun di tahun 2025, Lebih besar ketimbang ditahun ini yang hanya mendapat Rp100 triliun.

Untuk potensi ekspor pun Indonesia untuk kedepannya mampu mendapatkan pemasukan yang cukup besar dari perkembangan industri farmasi lokal, dengan sumber laporan yang sama di tahun 2025 Indonesia disinyalir sudah bisa menghasilkan pemasukan dari ekspor sebesar Rp250 triliun, angka tersebut akan lebih besar jika lagi-lagi dibandingkan dengan jumlah pemasukan ekspor Indonesia tahun ini yang hanya kurang lebih Rp80 triliun.

Data yang dihimpun oleh Teknopreneur pun memperkuat, bahwa untuk industri farmasi dalam produk obat herbal yang sudah teruji secara klinis dan empiris. Didapat, untuk total penjualan di tahun 2017 sudah mencapai USD800 juta, lebih besar dari 4 tahun sebelumnya yang hanya memperoleh USD663 juta di tahun 2013.

Menyikapi hal tersebut Barokah menuturkan, untuk langkah pastinya Indonesia sebenarnya membutuhkan pemodal kuat untuk mengembangkan lebih maksimal di sektor industri farmasi. Baginya untuk melancarkan langkah tersebut minimal industri farmasi membutuhkan suntikan dana sebesar Rp100 miliar untuk satu sediaan produk obat yang siap digunakan.

“Memang untuk industri farmasi herbal ialah industri yang padat akan modal,” ucap Barokah dalam mengutarakan sikapnya dibincang Techtalk dengan tema Fitofarmaka Indonesia, Paduan Tradisi dan Teknologi, Kamis lalu (9/11).

Kemudian menurutnya, untuk membuat sebuah industri farmasi saat ini harus dihadapi tantangan besar. Salah satunya adalah dari 207 jumlah industri farmasi yang ada, biaya ekspansi marketingnya itu sekitar Rp7 Triliun. Namun sayang, besar keuntungannya untuk industri masih belum bisa dipastikan, tapi akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan industri rokok, dimana untuk satu industri saja untuk pemasukan keuntungannya pun sudah sama sebesar Rp7 Triliun.

Artinya, besar diasumsikan bahwa untuk industri  farmasi masih harus mencari cara lain untuk bisa menyaingi pasar, lantaran pasar pengguna rokok lebih besar ketimbang pasar pengguna obat yang ada di Indonesia. Dan jika menarik lebih luas, simpulan lain pun bisa didapatkan, bahwa masyarakat untuk sadar kesehatan masih terbilang kurang. Ditandai dengan biaya marketing Rp7 triliun untuk produk obat herbal masih belum efektif ketimbang hasil untung industri rokok saat ini.

Tidak cukup sampai disitu yang membuat lesunya potensi berkembangnya industri farmasi lokal, persaingan ketat industri farmasi luar pun menjadi faktor penyebabnya. Dengan kelebihan teknologi yang lebih unggul mereka pun dapat merangkul lebih dekat masyarakat untuk menggunakan produk mereka.

“Bagaimana dengan kita?, nah ini menjadi sebuah tantangan. Kemudian untuk ekspor ke masyarakat ekonomi Asia, Indonesia harus lebih banyak ke arah peluang yang menjanjikan. seperti daerah-daerah tertentu yang memang masih terbuka pasarnya,” tutupnya. WES/LIN