Ilustrasi Startup
Ilustrasi Startup

Teknopreneur.com – “Hacker, hipster, hustler. Harus ada yang ngerti teknis, desain, sama ngejalanin bisnisnya,” ungkap Leonika Sari Njoto Boedioetomo, seorang founder sekaligus CEO Redblood, kepada rekan media massa, April tahun lalu.

Menurutnya ketiga unsur tersebut adalah sebuah keharusan yang nantinya akan saling mengisi dalam perkembangan sebuah startup yang sedangkan dijalankan. Lanjutnya, bagaimana untuk bisa dikatakan tidak, proses untuk membangun sebuah startup berkulaitas tidak hanya diisi oleh para programer yang memiliki kompetensi di bidang teknis saja, namun harus ada Hipster yang sangat berperan penting dalam mengembangkan tampilan estetika dalam User Interface (UI) dan User Experience (EX) di sebuah startup.

Begitu pun dengan dengan Hustler, Sari menjelaskan. Bahwa untuk kategori ini, ialah orang-orang yang sudah paham betul dengan dunia bisnis. Terutama dalam pergerakan mereka di bidang penjualan, baginya mereka adalah nafas bagi jalannya sebuah startup yang sedang berkembang atau pun yang terbilang yang sudah memilih cukup nama.

Untuk itu, di era tren Y-Tech saat ini. Teknopreneur.com berhasil memetakan besaran peran ketiga kategori tersebut dalam perkembangan digital ekonomi nasional, dengan mengambil sampel 10 profil ternama seperti Gojek, Tokopedia, Tiket.com, Kaskus, Bukalapak, Traveloka, HijUp, eFishery, Blibli, dan Agate.

Dengan pengelompokan 10 founder populer berdasarkan latar belakang jurusan, Teknopreneur mendapatkan angka 40 persen founder populer mempunyai latar belakang jurusan Teknologi Informasi (TI), atau bisa dibilang 40 persen tersebut termasuk dalam kategori Hacker yang justru dominan dalam mengembangkan startup yang sudah ada di taraf nasional.

Lainnya, tercatat ada 30 persen founder yang memiliki latar belakang jurusan teknik umum yang berada diluar rumpun kategori teknologi. 10 persen jurusan di bidang Desain (Hipster), dan ada founder yang memiliki latar belakang jurusan Sospol dan Biologi dengan masing-masing memiliki persentase 10 persen.

Tidak cukup pada 10 starup populer, perhitungan pun dilanjutkan pada 30 starup lokal lain. hasilnya pun senada, bahwa dari 30 founder yang ada, untuk yang berlatar belakang jurusan TI masih 40 persen lebih besar atau berjumlah 12 orang, yang sangat meninggalkan jauh dari jurusan-jurusan lain.

Uniknya, untuk sebaran data ketegori Hacker, hipster, dan hustler, berdasarkan data tersebut. Untuk kategori Hustler terbilang masih belum nampak di Indonesia. Sehingga tak aneh jika kemampuan mengembangkan pasar dan manajemen adalah hal paling penting bagi para founder.

Peningkatan Kurikulum Berbasis IT Pada Level Dasar Dan Menengah

Berdasarkan data 40 persen latar belakang founder startup nasional berjurusan Teknik Informatika, dan minimnya Hustler untuk pekembangan startup nasional. Nampaknya ditanggapi serius oleh presiden Joko Widodo sebagaimana yang dikatakannya pada media massa pada akhir 2016 lalu , bahwa Indonesia harus bisa menjadi negara digital terbesar di tahun 2020. Namun hal itu tidak bisa diwujudkan jika ada beberapa hal krusial yang masih belum diakomodir oleh pemerintah.

Yakni yang selalu menjadi sorotan ialah di bidang pendidikan, Ketua lembaga Penelitian dan Pelatihan Ekonomika & Bisnis (P2EB) Universitas Gadjah Mada, Purwanto menjelaskan, ia menilai bahwa Indonesia masih sangat tertinggal dalam hal pendidikan teknologi.

Dalam penjelasannya, pendidikan yang dimaksud oleh Purwanto ialah penguatan teknologi pada level dasar dan menengah, yang seharusnya sekolah sudah memberikan bekal dini soal pemanfaatan teknologi yang menurutnya terbilang masih sangat jarang.

“Sekarang pertanyaan saya, guru-guru dasar dan menengah punya kecerdasan teknologi digital enggak? Kalau enggak, gimana mereka mau menerjemahkan ke dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong kreativitas?” ujar Purwanto.

Menurutnya ini sangat disayangkan, lantaran hal yang paling penting ialah pembekalan materi teknologi dasar di tingkat sekolah dasar maupun menengah. Bukan hanya sampai di situ, Ia pun khawatir kualitas pengajar di sekolah dasar begitu minim sehingga potensi murid disalahkan begitu besar, karena sang guru tak bisa mengimbangi penguasaan teknologi anak ajarnya. WES/LIN