Ilustrasi Digital
Ilustrasi Digital

Teknopreneur.com— Tepat dua bulan lalu Tokopedia mendapatkan suntikan dana besar dari modal ventura dari Jepang, Softbank, dan Sequoia Capital dari Amerika Serikat. Sebesar Rp1,3 triliun atau sekitar USD100 juta untuk pengembangan startup yang didirikan oleh William Tanuwijaya.

Pria asal Pematang Siantar tersebut berhasil menjadi tokoh penting di era Young Technopeneur (Y-Tech), yakni tepat pada tahun 2009 ia mulai mengambangkan startup yang berbasis market place tersebut. Bermodal hanya lulusan Sarjana atau Strata satu (S-1) di sebuah Universitas swasta Bina Nusantara (Binus), ia menceritakan, bahwa dalam perjalanannya dalam mengembangkan bisnis startup tidak sedikit suka duka yang harus ditempuhnya, untuk menggapai harapannya tersebut.

Lain pihak, BukaLapak yang didirikan oleh Achmad Zaky, pun tidak bisa begitu saja lepas dari radar pemodal. Dengan motif untuk bersaing, BukaLapak juga mendapatkan suntikan dana besar dari Emtek Group pada tahun 2014. Berapa besarannya? lansiran yang dimuat oleh Tirto, Emtek group masih enggan menyebutkan berapa besaran dana yang sudah disuntikan kepada BukaLapak.

Dan Lebih jauh menyoal besaran dana Emtek Group yang masuk ke Bukalapak, laporan Tirto memperhitungkan bahwa Emtek Group dengan menggunakan anak perusahaannya PT Kreatif Media Karya, telah mengakuisisi jumlah lembar saham BukaLapak sebanyak 459.200 lembar saham, atau 19,68 persen dengan nilai investasi Rp29,4 miliar.

Achmad Zaky, dengan latar pendidikan S-1 lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) lagi-lagi mencatatkan dirinya sebagai Young Techpreneur muda, dalam iklim perkembangan startup lokal Indonesia.  Untuk itu, Teknopreneur.com nampak begitu tertarik untuk melihat seberapa besar lulusan asal kampus Indonesia dalam mencetak para founder muda berkualitas untuk dinamika era Y-Tech.

Teknoprenuer.com mengelompokan 10 profil startup lokal populer (sudah termasuk Bukalapak dan Tokopedia) untuk mendapatkan data simpulan mengenai seberapa besar lulusan asal kampus Indonesia untuk menghadirkan founder startup lokal.

Hasilnya pun masih terbilang sangat miris, untuk latar belakang pendidikan founder lokal. Terdata bahwa sebanyak 40 persen para founder lokal populer, masih berlatar belakang lulusan Universitas luar negeri. Dan lainnya, sebanyak 30 persen untuk lulusan ITB, 20 persen untuk lulusan Universitas Indonesia (UI), dan 10 persen untuk lulusan Bina Nusantara.

Menguji lebih dalam mengenai data tersebut, Teknopreneur melakukan perhitungan lanjutan pada 30 starup lokal lainnya. Hasilnya nampak tidak terlalu berbeda, untuk ketegori founder yang memiliki latar belakang pendidikan luar negeri terhitung 50 persen lebih besar. Yang kemudian disusul dengan founder  berlatar pendidikan lokal sebesar 20 persen, yang kebanyakan 20 persen tersebut ialah lulusan ITB.

Walapun pun demikian berdasarkan data tersebut, ITB terbilang masih cukup berperan dalam mengkaderkan lulusan mahasiswanya menjadi founder startup lokal di era Y-Tech. Beberapa diantaranya ialah Achmad zaky, Gibra Huzaifah (Founder eFishery), dan Arief Widhiyasa (Founder Agate).

Butuh Diperkuat Kurikulum Sekolah Bisnis Dan Menejemen

Menjawab persoalan tersebut, Appcelerate Program Director Ryo Naldho mengungkapkan, bahwa ia mengklaim sangat unik untuk ITB dalam mengelola mahasiswanya mengajarkan dunia bisnis, salah satunya ITB menghadirkan Sekolah Bisnis dan Menejemen (SBM).  Terlebih untuk pengembangan startup misalnya, tidak bisa dipungkiri bahwa untuk materi Bisnis dan Menejemen sangat diperlukan dalam iklim pendidikan, terutama dibidang teknologi.

Menurutnya, sangatlah tidak lengkap jika dalam pengembangan sebuah startup hanya diisi dengan orang-orang yang hanya memiliki skill programmer saja, namun orang bisnis pun juga diperlukan. Disinilah sangat cocok untuk saling melengkapi dan mengembangkan nama sebuah startup yang sedang dijalankan.

“Banyak kasus-kasus startup cenderung masih di isi oleh orang-orang programmer, ketika saya tanya apakah kalian memiliki orang bisinis atau Finance? Justru mereka malah menjawab tidak punya, nah disini miss-nya” ujar Ryo saat ditemui Teknopreneur, Rabu lalu (8/11).

Ia melanjutkan, untuk anak-anak muda yang sedang menjalankan proses perkembangan startup-nya. Ryo menyarankan untuk bisa selalu merangkul kalangan mahasiswa yang memang sangat berkompeten dibidang bisnis atau yang lainnya, lantaran jaringan relasi itu penting dalam kelancaran sebuah starup.

“Terutama peran founder yang layaknya sebagai nahkoda dalam sebuah kapal, jalan suksesnya sebuah starup sangat ditentukan olehnya dalam mengelola bisnis dan sejauh mana visinya untuk kedepan”tutupnya. WES/LIN