Ilustrasi Startup
Ilustrasi Startup

Teknopreneur.com – Reid Hoffman, founder dari LinkedIn, mengatakan “Silicon Valley adalah pola pikir, bukan lokasi.” Ini mungkin terdengar berlebihan, namun memang demikian kenyataannya. Istilah “Silicon Valley” tidak lagi merujuk pada sebuah wilayah yang menjadi bagian dari South Bay di San Francisco Bay Area, California Utara, Amerika Serikat (AS).

Istilah ini lebih merujuk pada sebuah pola pikir untuk saling berbagi dan berjejaring untuk bisa berhasil menciptakan kesejahteraan sosial lewat inovasi teknologi, sebagaimana yang dilakukan oleh para founder stratup di Silicon Valley.

Dengan kesadaran tersebut, maka digagaslah program “Ytech”. Sebuah program yang diinisiasi untuk menemukan teknopreneur muda Indonesia yang terbaik, dengan pola pikir ala Silicon Valley, yang memiliki solusi untuk kesejahteraan sosial.

Program ini dikemas sebagai sebuah perjalanan bagi para teknopreneur muda, mulai dari menemukan masalah dan solusi hingga menerapkannya kepada masyarakat untuk kemudian hingga ke seluruh dunia. Untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut merasakan pengalaman yang sama, program ini juga akan hadir sebagai reality show pada webseries.

Berdasarkan data 50 founder startup di Indonesia yang telah terkumpul oleh Teknopreneur.com, ditemukan fakta bahwa para teknopreneur muda di Indonesia memiliki beberapa kesamaan diantaranya tempat mereka menempuh pendidikan, di Indonesia ada 8 founder yang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), 4 founder menempuh pendidikan di Universitas Katolik Parahyangan, 3 founder startup yang menempuh pendidikan di Purdue University dan 3 founder startup yang menempuh pendidikan di Deakin University.

Iklim pendidikan yang kondusif membuat para teknopreneur muda terpacu untuk melakukan inovasi di bidang teknologi. Sebagai founder dari startup, merekapun beberapa diantaranya yang menyeberang dari jurusan kuliahnya, dimana bidang startup yang mereka geluti tidak selalu sama dengan bidang pendidikan yang mereka tempuh.

Meskipun begitu dari pengamatan yang ada terlihat bahwa para founder startup muda di Indonesia memiliki pergaulan yang luas, dimana terlihat dari lintas bidang yang digeluti. Yang artinya, tentunya ada koneksi dengan teman perkuliahan yang lintas bidang tersebut untuk mengumpulkan resource bagi pembuatan startup.

Tetapi apabila di telisik dari Top 10 founder startup muda Indonesia hampir semua seragam, dimana menempuh pendidikan yang terkait dengan ilmu komputer. Sehingga dapat dimaklumi apabila mereka berkembang menjadi founder startup yang menguasai seluk beluk teknis pembuatan startup dan pengelolaannya. Tentunya kemampuan mereka di bidang pendidikan yang ada membawa mereka menjadi teknopreneur muda yang unggul di Indonesia.

Dari temuan Teknopreneur.com juga diketahui bahwa ada beberapa founder startup Indonesia yang drop out dari kuliahnya, tentunya fokus untuk membuat dan mengembangkan startup membuat kuliah mereka terbengkalai. Dan dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata lulus kuliah tidak selamanya menjadi jaminan bahwa akan sukses di bidang professional. Banyak dari kita berpendapat bahwa lulus kuliah kemudian mencari pekerjaan merupakan jalan keluar, tetapi tidak bagi para founder startup ini, mereka lebih memilih jalan teknopreneurship sebagai pilihan hidupnya dan mereka telah merasakan kesuksesannya sekarang.

Rata-rata umur founder startup pun menarik untuk di simak, dimana ketika membuat startup di dominasi oleh angkatan muda yang berumur 20 sampai 26 tahun. Sehingga dapat diketahui bahwa kesuksesan di masa muda bukanlah hal mustahil dan teknopreneur muda Indonesia banyak yang berkecimpung di dunia startup. Tentunya anak muda memiliki kegairahan tersendiri terkait kesuksesan, dibarengi dengan kecermatan membaca peluang bisnis, teknopreneur muda di Indonesia memiliki masa depan yang cerah.

Begitupula dengan tempat kelahiran para founder, dari 50 data founder yang terkumpul, 22 diantaranya atau hampir setengahnya berasal dari Jakarta. Tentunya fasilitas kota dan infrastruktur yang ada di Jakarta menjadi faktor pendukung dari banyaknya founder yang berasal dari Jakarta.

Pola pikir untuk fokus kepada teknopreneurship mengantar para founder menjadi sosok-sosok yang out of the box dari kebiasaan yang ada di masyarakat. Terkait hal tersebut para founder startup muda inipun tentunya memiliki motivasi yang kuat untuk meraih kesuksesan. Sehingga dapat diketahui dan dirasakan dampak kesuksesan mereka dengan begitu maraknya pertumbuhan teknologi di Indonesia. Dan tentunya diharapkan gairah untuk terus melakukan terobosan di bidang teknopreneur mesti terus dijaga dan didukung pertumbuhan dan kemajuannya. LIN