Ilustrasi Energi
Ilustrasi Energi

Teknopreneur.com—Dewan Energi Nasional  (DEN) memperkirakan pada tahun 2050 penggunaan kebutuhan listrik nasional mencapai 430 GW, akibatnya pemerintah mulai serius untuk bisa mengembangkan sumber energi baru terbarukan (EBT) sesuai dengan Regulasi yang sudah diterbitkan.

Namun untuk bisa mengantisipasi upaya yang gagal dalam perencanaan target, pemerintah mulai bersiap memaksimalkan sumber daya energi nuklir sebagai langkah selanjutnya dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional di masa depan.

Listrik sebagai bentuk final dari pengolahan sumber daya energi, untuk saat ini tidak sedikit masyarakat masih merasa cemas akibat dampak yang diberikan dari bahan nuklir sebagai penghasil listrik tambahan setelah sumber EBT. Walau masih termakan trauma radiasi yang dibesar-besarkan oleh media di era tahun 90-an.

Menyikapi paradigma masyarakat, sebuah Forum Discussion Group (FGD) Pokja dari Unversitas Institut Teknologi bandung (ITB) memaparkan, untuk pengembangan program nuklir sudah dibuat regulasi seperti Undang-Undang Energi Nomor 30 tahun 2007. Dijelaskan bahwa energi nuklir ialah sebuah energi baru terbarukan sehingga peranannya perlu didorong untuk kebutuhan listrik di masa depan.

Jika mengacu pada kelistrikan Indonesia saat ini, Indonesia masih belum bisa dikatakan maju lantaran jumlah konsumsi listrik per kapita yang terbilang masih rendah. Tercatat hanya 733 Kwh/kapita sedangkan Thailand, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam masingmasing sebesar 2479 Kwh/kapita, 4313 Kwh/kapita, 8690 kwh/kapita, dan 8944 kwh/kapita (DEN, 2014).

Thorium Atau Uranium

Masih mengacu pada pemaparan Forum Discussion Group ITB, bahwa pada prinsipnya sumber energi Nuklir terbagi menjadi dua jenis yakni Uranium dan Thorium yang digunakan sebagai Reaktor daya, atau biasa akrab dengan sebutan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). FGD tersebut menerangkan, sebelumnya di PLTN generasi 1,2 dan 3 masih mengunakan Uranium sebagai Reaktor daya utama untuk menghasilkan hasil final listrik.

Secara detail untuk unsur Uranium memilki Isotop Uranium di alam terdiri atas U-235 (0,7%) dan U-238 (9,93%) yang dipakai sebagai bahan bakar PLTN adalah U-235. Hal ini karena kandungan U-235 di alam hanya 0,7 persen perlu proses pengkayaan sampai dengan 4 sampai 5 persen untuk memenuhi syarat sebagai bahan bakar PLTN, untuk selanjutnya dilakukan proses fabrikasi sebagai bahan bakar nuklir siap pakai.

Sampah dari pengolahan dari unsur U-235 tersebut ialah U-238, yang memiliki sifat radioaktif tinggi dan memancarkan nilai Alpha dengan umur paronya yang sangat panjang. Maka berdasar pengalaman yang dilakukan oleh PLTN di generasi 1 sampai 3, sangat jelas Uranium sebagai bahan baku utamanya. Kemudian untuk inovasi hadir PLTN 4 untuk mengolah lebih dalam dari sisa Uranium seperti SMR ( Small Modular Reactor).

Lain halnya dengan Thorium yang ketersediaannya di alam sampai 100 persen, nampak dalam proses pengolahannya tidak perlu lagi pengkayaan dengan melalui proses yang sangat panjang. Lebih ekonomis dan sudah ada bahan bakunya di Indonesia, dengan limbah minim. Terutama Thorium hasil dari sampahnya tidak bisa di jadikan bahan baku peledak, layaknya seperti Uranium U-235.

Dalam FGD tersebut pun ditegaskan dengan pernyataan DEN kebutuhan energi listrik 430 GW di tahun 2050 diperkirakan Indonesia memerlukan minimum 40 PLTN maupuin PLTT (Pembangkit Listrik Thorium) atau pembangkit listrik dengan bahan bakar pluthonium masing-masing daya 1000 MW, dikarenakan jumlah konsumsi listrik masyarakat kian tahun makin meningkat.

Diperkuat dengan urutan nomor tiga untuk jumlah penduduk di dunia, untuk itu diperlukan sebuah jalan solusi untuk bisa memproduksi bentuk final energi (listrik). Dengan upaya memaksimalkan seluruh bahan reaktor nuklir untuk menjaga ketahanan energi di masa depan.

PLTN dan Thorium- Molten Salt Reactor (T-MSR)

Forum yang dihadiri oleh berbagai ahli dibidang teknik kimia, tidak canggung dalam mengulas secara rinci perkara energi nasional yang selalu menjadi masalah di sektor perekonomian. Berdasar UU17/2007 dan PP14/2015 tidak ada pilihan pemerintah harus segara tanggap genting krisis energi dengan mempercepat pembangunan PLTN.

Dengan harga listrik yang murah jika pembangunan Molten Salt Reactor (T-MSR), seharga USD 6 c/kwh cukup murah dan tidak memerlukan subsidi. Harga ini, akan lebih terjangkau ketimbang harga listrik yang di produksi dari bahan baku batu bara  USD6 sampai USD8.2 c/kwh dan PLTN Uranium USD 11 sampai 12 c/kwh.

Jika dianalsis pun kandungan Thorium sangat menjanjikan kandungan energinya, sebanyak 3,5 juta kalinya batubara dan 200 kalinya Uranium. Dan keuntungan lainnya pada Pembangkit Listrik tenaga Thorium (PLTT-MSR) ialah tidak ada buangan sisa gas CO2 seperti batubara. Limbah yang terkandung pun hanya sekitar 0,0002 persen dari limbah Uranium dan 0,003 persen dari limbah batu bara.

Tidak cukup hanya keramahan lingkungannya, produk nilai dari limbah Thorium pun memiliki nilai komersiilnya hampir setara dengan revenue penjualan listriknya. Di FGD tersebut, menurutnya keberadaan Thorium sangatlah melimpah di dunia. Terutama di Indonesia Bangka Belitung merupakan penghasil sumber daya Thorium terbanyak untuk jangka waktu 1000 tahun, ketimbang batu bara dan Uranium yang hanya cukup untuk untuk 50 tahun. WES/LIN