Teknopreneur.com—Tema Fitofarmaka Indonesia, Paduan Tradisi Dan Teknlogi menjadi perbincangan hangat bagi stakeholder terkait. Dalam acara Techtalk yang beriringan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) The Habiebie Center yang ke-18, bertempat Di Ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (9/11).

Gelaran forum diskusi dihadiri oleh beberapa tokoh penting di dunia Farmasi seperti, Ketua IDST The Habiebie Center A. Ilham Habibie yang juga menjabat sebagai Dewan TIK Nasional, kemudian Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Ondri Dwi Sampurno, selanjutnya Komite manufcturing Perusahaan Farmasi Indonesia, Barokah Sri Utami. Dan yang terakhir Direktur Utama PT Kimia farma, Honesti Basyir.

Perbincangan dengan tema Fitofarmaka sebagai Paduan taradisi Dan teknologi kali ini, bertujuan untuk memaparkan kondisi permasalahan farmasi Indonesia, dalam hal sudah sejauh mana upaya mengembangkan Fitofarmaka sebagai paduan tradisi dan teknologi.

Dalam sambutan A. Ilham Habibie mengungkapkan, bahwa dalam dunia kesehatan kajian mengenai Fitofarmaka dirasa sangat penting untuk meningkatkan kualitas obat-obatan dikemudian hari. Dan Menurutnya Indonesia sesungguhnya memiliki sumber daya tanaman obat herbal yang sangat melimpah, bahkan sudah diakui oleh berbagai belahan dunia, dengan urutan no. 2 dengan kekayaan alam tanaman obat di seluruh dunia.

Ia melanjutkan, sungguh sangat disayangkan dari sektor perindustrian banyak dari mereka yang masih belum bisa memaksimalkan riset atau penelitian mengenai obat-obatan. Terlebih saat ini yang harus diperhatikan ialah adanya trend di dunia faramsi, bahwa untuk obat-obatan jenis Fitofarmaka akan menjadi terobosan baru dalam dunia kesehatan.

Di sesi waktu yang berbeda, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Ondri Dwi Sampurno menambahkan, untuk upaya peningkatan kualitas obat-obatan pihaknya akan terus melakukan pengawasan, dan memberikan kesempatan Push Market bagi industri. Selanjutnya ia menegaskan, bahwa saat ini sudah ada 7.710 produk obat-obatan dan 18 produk untuk jenis Fitofarmaka.

Untuk itu, pihaknya telah mengupayakan lebih jauh untuk percepatan peningkatan produk kesehatan jenis Fitofarmaka. Yakni dengan banyak menggelar Forum Discusion Group (FGD) dengan para stakeholder terkait.

Melihat dari sisi yang berbeda, Komite manufcturing Perusahaan Farmasi Indonesia, Barokah Sri Utami menjelaskan. Bahwa membicarakan dunia kesehatan itu penting, dan juga tidak bisa lepas begitu saja dari sektor industri. Untuk perkembangan industri, menurutnya minimal harus ada pemodal yang menyediakan Rp100 miliar. Baginya, dari sektor perkembangan teknologi dan pengetehuan pun harus sangat mendukung demi memberikan kualitas obat terbaik yang bisa dikonsumsi masyarakat.

“Dari segi perekonomian industri farmasi masih sangat terbuka luas,” ucapnya.

Menyikapi turunnya tren penggunaan obat-obatan jenis Fitofarmaka, ia menyebutkan bahwa masyarakat kini sudah terfasilitasi dengan program pemerintah yang sudah berjalan saat ini. Sehingga kedepannya memang perlu kajian lebih dalam lagi terkait peningkatan obat-obatan Jenis Fitofarmaka. WES/LIN