Teknopreneur.com – Indonesia sebagai bangsa yang memiliki keragaman hayati yang melimpah, merupakan wilayah yang kaya dengan Sumber Daya Alamnya. Beragamnya tumbuhan yang ada di Indonesia merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Salah satu potensi keragaman hayati Indonesia adalah di bidang kesehatan, dengan banyaknya tumbuhan herbal yang ada di Indonesia. Maka Indonesia adalah negara yang memiliki begitu besar peluang untuk memanfaatkannya untuk kesehatan.

Fitofarmaka beranjak dari ramuan tradisional secara turun temurun di Indonesia untuk kesehatan. Secara tradisional pula telah lama dimanfaatkan di Indonesia, dan telah melalui uji praklinis dan klinis yang setara dengan pengobatan konvensional. Pada perkembangannya Indonesia yang memiliki 90.000 jenis tanaman, yang 9.600 jenis diantaranya bermanfaat untuk pengobatan. Fakta ini membuat Indonesia begitu kaya dengan ragam pengobatan untuk kesehatan.

Pada Tech Talk yang diselenggarakan oleh The Habibie Center di Le Meridien, Jakarta, Kamis (9/11/2017) membedah persoalan fitofarmaka terkait dengan potensi dan peluang pengembangan agar menjadi jenis pengobatan yang bermanfaat di Indonesia dan dipergunakan secara umum. Saat ini fitofarmaka sesungguhnya sudah akrab dikenal masyarakat Indonesia. Tetapi sebagai sebuah bangsa yang memiliki potensi besar di keragaman hayati, peluang yang ada untuk pengembangan fitofarmaka masih sangat minim. Selain melimpahnya keragaman hayati, peneliti fitofarmaka juga banyak di Indonesia, sehingga dipandang perlu untuk menjadikan fitofarmaka sebagai bentuk pengobatan yang akrab di masyarakat.

Pembicara yang hadir diskusi adalah Andi Prazos, Direktur Distribusi PT Kimia Farma (Persero) Tbk; Ondri Dwi Sampurno, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen Badan Pengawasan Obat dan Makanan; Barokah Sri Utami, Sekretaris Komite Manufacturing Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia. Paparan pembuka disampaikan oleh Ilham A Habibie, Ketua IDST The Habibie Center. Keynote Speech dari Sadiah, Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan yang mewakili Ibu Menteri Kesehatan.

Ada beberapa produk fitofarmaka yang telah beredar di masyarakat adalah sebagai berikut:

1. Nodiar (Kimia Farma) untuk pengobatan Diare.
2. Stimuno (Dexa Medica) untuk Modulator Imun.
3. Tensigard (Phapros) untuk Hipertensi.
4. Rheumeneer (Nyonya Meneer) untuk pengobatan Rematik.
5. X-Gra (Phapros) untuk Aphrodisiak.
6. Incalin (Dexa Medica) untuk Fertilitas.
7. Livitens (Dexa Medica) untuk Hipertensi.
8. New Divens (Ferron) untuk Modulator Imun.
9. Resindex (Dexa Medica) untuk Diabetes.

“Pada pengembangannya Herbal dibuat sistem prasyarat untuk kelayakan konsumsi pengobatan. Fitofarmaka dikembangkan jika dalam bentuk Obat Herbal Terstandar (OHT) sudah teruji dari semua faktornya, diantaranya ekonomis, medis, teknologi dan regulasi. OHT dikembangkan jika sudah teruji dari semua faktornya. OHT yang akan dikembangkan dapat di seleksi dari yang sudah tersedia di pasar. Pendekatan pengembangan produk dapat berdasarkan kelas terapi pareto di Indonesia,” ujar Andi Frazos.

Ia mengungkapkan, untuk pengembangan fitofarmaka, perlu juga melakukan studi profit and loss mengingat diperlukan biaya yang besar, sedangkan di sisi lain dokter belum mau meresepkan fitofarmaka. Selain pengembangan produk jadi, perlu juga untuk melakukan pengembangan industri simplisia tanaman obat dan industri ekstrak tanaman obat sebagai supporting system dari pengembangan obat tradisional di Indonesia.

“Peningkatan peresepan obat oleh dokter juga merupakan faktor yang menentukan, khususnya fitofarmaka. Harapannya menjadi standard care di lingkungan kedokteran, dengan dukungan dari para dokter tentunya pengembangan fitofarmaka akan lebih menguat dan dokter sebagai ujung tombak di bidang kesehatan merupakan faktor penting,” pungkas Andi.

Masa depan fitofarmaka sangat bagus apabila dalam pemanfaatan dan pengelolaannya dapat berjalan dengan baik. Tentunya apabila pengembangan fitofarmaka ini mengemuka di masyarakat dapat dipastikan akan menjadi terobosan dan menjadi iklim yang kondusif di bidang kesehatan. Dukungan dari berbagai pihak juga perlu untuk pengembangan fitofarmaka, sehingga dapat menjadi jenis pengobatan yang akrab di masyarakat. LIN