Ilustrasi Cleantech
Ilustrasi Cleantech

Teknopreneur.com—Indonesia yang disebut sebagai negara berkembang, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut konsumsi listrik masih terbilang minim. Dengan angka 956 per Kilowatt-hour (KWh) per kapita, dan hanya 23,9 persen dari konsumsi listrik negara maju sebanyak 4 ribu KWh per kapita.

Perihal tersebut ditegaskan langsung oleh Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, di laporan CNN pada awal tahun lalu. Ia menjelaskan, untuk Indonesia jika ingin masuk ke dalam kategori sebagai negara yang maju, harus meningkatkan rasio elektrifikasi dan peningkatan cadangan listrik yang cukup untuk kebutuhan listrik nasional. Faktor ini juga harus didukung dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Pasalnya, sebagaimana yang sudah diketahui bahwa sember energi listrik sangat diperlukan untuk pengembangan Usaha Kecil menengah (UKM). Kemudian, dari tersedianya jumlah listrik yang cukup, akibatnya memiliki korelasi yang positif untuk pengembangan perekonomian nasional.

“Indonesia masih dalam tahap 900 per Kilowatt-hour (KWh) per kapita. Sementara, sebuah negara dikatakan maju kalau konsumsi listriknya 4 ribu per kapita. Artinya, Indonesia perlu usaha empat kali lipat agar bisa menuju negara maju,” ujarnya.

Ia berterus terang, bahwa dalam prosesnya tidaklah mudah dan masih banyak faktor yang menghambat. Ia merincikan, saat ini saja masih terdapat 2.519 desa yang belum teraliri listrik di Indonesia, itu pun pada tahun 2017.

Sementara itu senada dengan Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, Direktur Eksekutif Center for Energy and Strategic Resources Indonesia (CESRI), Prima Agustini memaparkan, untuk Indonesia dengan kondisi krisis migas terbilang masih sangat sulit untuk bisa menyaingi negara maju, yang sudah mengonsumsi lebih dari 4 ribu KWh per kapita.

Untuk produksi migas pun di tahun 2017 diperkirakan mencapai 1.900 Million Barel Oil Equivalent Per Day (MBOEPD), lebih kecil dari tahun 2016 yang produksinya mencapai 2.000 MBOEPD. Bahkan sampai beberapa tahun ke depan penurunan jumlah produksi migas akan selalu mengalami penurunan, lantaran sumber daya migas yang kian tahun makin menipis.

“Untuk di tahun 2050 saja diperkirakan jumlah produksi migas, hanya 200 MBOEPD,” ungkapnya miris.

Untuk itu terkait jumlah konsumsi listrik nasional, pemerintah telah memberikan jatah 14,61 persen untuk migas yang di konversi untuk dijadikan energi listrik nasional. Prima melanjutkan, 14,61 persen itu pun jatah yang diporsikan ditahun 2016. Artinya, jumlah migas yang diproduksi pada tahun 2016 sebesar 2000 MBOEPD, ada 292,2 MBOEPD digunakan untuk memproduksi energi listrik nasional, walau untuk tahun ini mereka (pemerintah) masih belum mengumumkan, berapa porsi untuk listrik dari bahan bakar migas.

Menurutnya, dengan porsi jatah sedemikain rupa masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan dan menambah cadangan listrik nasional. Sangat sulit mengingat permasalahan krisis sumber daya energi yang terus mengalami defisit, walau pemerintah sudah sangat tegas untuk rencana pembangunan sumber energi nasional dengan memanfatkan sumber energi terbarukan (EBT) sebesar 23 persen di tahun 2025.

“Untuk itu perlu ada kesadaran tinggi dari masyarakat mengenai ketahanan sumber daya energi,” tutupnya. WES/LIN