Ilustrasi Cleantech
Ilustrasi Cleantech

Teknopreneur.com—Seiring dengan jalannya program Nawacita yang diusung oleh Presiden Jokowi, kemandirian ekonomi dan sumber daya  untuk meningkatakan pertumbuhan ekonomi, sudah merupakan tujuan pemerintah. Seperti itulah ungkapan Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Budiyanto, terkait langkah strategi dan permasalahan ketahanan energi.

Ia menjelaskan, bahwa strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan ketahanan energi nasional ialah dengan mengubah paradigma masyarakat, dengan mengubah cara berfikir sumber daya bukan lagi sebagai barang komoditas, namun sumber daya energi saat ini sudah harus menjadi faktor pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dulu energy follow the people sekarang people follow the energy,” ucapnya.

Dengan cara ini, bisa sangat dimungkinkan untuk bisa menekan grafik permintaan akan sumber daya minyak yang kian tahun makin meningkat. Langkah ini jika berhasil akan berdampak pada pengurangan beban emisi polusi CO2, yang mayoritas dihasilkan dari pembakaran bahan bakar minyak transportasi atau kendaraan bermotor.

Mengingat saat ini cadangan minyak bumi hanya 3,6 miliar barel, dengan rata-rata produksi bahan bakar minyak sebesar 288 juta barel. Selain dengan mengubah paradigma berfikir masyarakat, pemanfaatan sumber daya energi baru terbarukan (EBT) harus dimaksimalkan.

Budiyantono menambahkan, untuk sumber daya energi baru terbarukan di tahun 2025 kita mewajibkan jumlah produksinya sampai 23 persen, lebih besar dari upaya tahun 2015 yang hanya 5 persen.

Sementara itu Director for Business Development Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik, Budi Sadiman menjelaskan, untuk strategi  menghadapi permasalahan ketahanan sumber daya khususnya bahan akar gas, jika difokuskan untuk diolah dan dibuat pertambahan nilai untuk pengelola industri. Menurutnya akan sangat bernilai positif, bahkan bisa membentuk sebuah sistem multiplier effect di sektor pertumbuhan ekonomi industri.

Salah satu yang Budi Sadiman contohkan ialah, ketika sebuah industri petrokimia mulai digalakkan. Sudah bisa dipastikan akan akan banyak menyerap tenaga kerja profesional untuk mengembangkan sumber daya menjadi komoditas bahan baku yang memiliki nilai jual yang tinggi. Dan menurutnya akan sangat mengurangi beban impor nasional bahan baku industri Petrokimia, yang saat ini masih mendominasi sebanyak 30 persen dari neraca perdagangan ekspor impor Indonesia.

“Untuk porsi impor industri petrokimia masih sangat besar,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, untuk wilayah yang sudah memiliki produk dari industri petrokimia seperti daerah Cilogon (Banten), Banda Aceh dan Bontang merupakan contoh dari manfaat hadirnya industri petrokimia di wilayah tersebut.

“Contoh, ialah wilayah kota Bontang yang merupakan sektor industri petrokimia. Dulunya Bontang ialah kota yang sangat tertinggal, dengan pemanfaatan sektor industri petrokimia, kini sudah terbukti perkembangannya. Dan satu lagi yang tak begitu jauh, ialah Cilegon. Menjadi pusat tertinggi dalam perkembangan industri petrokimia di Banten ditambah dengan industri baja, dan yang terakhir ialah Banda Aceh,” ujar Budi.

Tidak cukup dengan strategi meningkatkan industri petrokimia untuk pertumbuhan ekonomi, dalam sebuah forum Discusion Group (FGD), mengenai Terobosan Untuk kemandirian Enenrgi, hasil dari Pokja Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan, untuk energi terbarukan memang Indonesia memiliki cadangan yang lumayan besar. Seperti geothermal sebesar 28.000 MW yang dikatakan 40 persen cadangan dunia ada di Indonesia.

Kemudian peran energi terbarukan yang berbasis zero carbon (nir karbon) dan high density yaitu Nuklir (Uranium dan Thorium) yang harus masuk dalam bauran energi secepatnya untuk menambah cadangan energi nasional Indonesia. WES/LIN