Ilustrasi Energi
Ilustrasi Energi

Teknopreneur.com – Indonesia defisit sumber daya energi migas untuk beberapa tahun kedepan, nampaknya ditanggapi serius oleh pemerintah. Akhirnya pemerintah menargetkan pembangunan 6 kilang minyak, yang di dalamnya meliputi 4 Refinery Development Master Plan (RDMP) atau pengembangan minyak yang sudah ada sebelumnya, dan pembangunan 2 kilang baru New Grass Root Refinery (NGRR).

Langkah ini dinilai penting, lantaran PT. Pertamina merupakan pihak terdepan dalam mengatasi perkara kebutuhan sumber daya energi nasional, terus mengalami peningkatan yang signifikan di beberapa tahun kedepan.

Perihal langkah tersebut, berkaitan dengan hasil Forum Discusion Group (FGD) mengenai Terobosan Untuk Kemandirian Energi (mewujudkan nilai tambah sumber daya alam), hasil Pokja Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung 2016 menjelaskan, bahwa roadmap kebutuhan energi ditahun 2010 – 2050 yang didasarkan oleh  Dewan Energi Nasional (DEN) menjelaskan, bahwa untuk kebutuhan per sektor di berbagai bidang, seperti kelistrikan, industri, dan transportasi masih terus meningkat.

Sehingga diperoleh kesimpulan, Bahwa Kurva Energi Demand, direntang waktu 2010-2050 kebutuhan sumber daya migas masih membutuhkan kilang minyak sebesar 3 juta bbl/d. Di tahun 2050 guna memenuhi 20 persen energi dalam bentuk Crude yang diproses dalam bentuk BBM. Walaupun di dalam forum tersebut sebagian dari produk BBM (a.l diesel) sudah tidak lagi impor dari negara luar.

Terkait perihal tersebut dalam laporan Finance Detik, Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengutarakan, kilang-kilang yang nantinya akan dilakukan modifikasi antara lain kilang Dumai, Cilacap, Balikpapan, dan Balongan. Dan sementara untuk kilang baru yakni Tuban dan Bontang akan segera menyusul, yang ditargetkan rampung ditahun 2023.

“Kita ada 4 RDMP dan 2 NGRR. Sebanyak 4 RDMP sudah jalan, tapi yang sudah BED (desain teknik dasar) adalah Balikpapan dan Cilacap. Dan kilang baru yang sudah proses jalan atau di 2017 sudah eksekusi lapangan yaitu di Tuban,” ucap Dwi Soetjipto.

Sehingga untuk kapasitas daya tampung migas nasional yang terpasang diseluruh kilang Pertamina total mencapai 853 ribu barel per hari (bph), namun sangat disayangkan nilai daya tampung nasional sangat bertolak belakang dengan total kebutuhan minyak Indonesia yang sudah mencapai 1,57 juta bph menurut Dwi Soetjipto.

Namun akan terlihat kontras dengan laporan FGD, terkait pemetaan kilang-kilang Pertamina yang tersebar di berbagai daerah. Laporan FGD menyebutkan, bahwa saat ini Indonesia sudah memiliki 7 Refeneries, yakni Dumai dengan kapasitas 170 MBSD, Plaju 135 MBSD, Cilacap 350 MBSD, Balikpapan 260 MBSD, Balongan 135 MBSD, Kasim Papua 10 MBSD.

Berdasar laporan itupun, didapat kapasitas daya tampung migas sebesar 915 MBSD, dengan tambahan Kasim Papua sebagai kilang dengan daya tampung terkecil dari enam yang lainnya.

Sementara itu Dwi melanjutkan, untuk dua kilang yang baru versinya atau Grass Root Refinery (GRR) yakni Tuban dan Bontang. Direncanakan masing-masing akan memiliki daya tampung 300 ribu bph, yang disinyalir akan rampung di tahun 2023. Sehingga Indonesia untuk di tahun 2023 tidak akan impor lagi soal bahan bakar minyak (BBM). WES/LIN