“Kita tidak mengambil saham mereka, ini murni program bantuan. Lagipula dengan penguasaan saham atau penyertaan modal seperti itu biasanya malah membuat startup jadi tidak berkembang karena bergantung dengan pemodalnya. Kita menginginkan mereka berkembang dengan produknya sendiri melalui mentoring dan akses terhadap pasar industri,” ujar Arya.

Teknopreneur.com – Untuk memperkuat posisi sebagai ICT Total Solution Company , Lintasarta bekerja sama dengan tiga universitas di Indonesia membantu mahasiswa yang ingin memulai bisnis startup. Hal ini dilakukan oleh Lintasarta untuk mendapatkan startup yang bisa memberikan solusi digital demi mendukung platform bisnis Lintasarta sendiri.

Untuk mendapatkan startup berkualitas, Lintasarta menggandeng tiga kampus besar yakni Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Dalam pemaparannya di hadapan media, GM IT Service Product & Development Lintasarta, Gidion S. Barus mengatakan produk dari startup ini nantinya akan dijadikan bagian dari solusi digital yang ditawarkan kepada klien-klien Lintasarta.

“Kami menjadikan mereka sebagai mitra, mereka dibantu untuk membuat produk yang memang dibutuhkan oleh industri, hingga para startup ini menjadi mapan. Lintasarta memiliki relasi yang besar, dari berbagai industri yang pastinya juga membutuhkan aplikasi atau produk solusi yang bisa dihasilkan oleh para startup. Itulah mengapa kami hanya memilih startup dengan model bisnis B to B bukan ritel,” tambah Gidion dalam Media Briefing di Cirebon, Jumat (3/11/2017).

Lebih lanjut Gidion menjelaskan bahwa Lintasarta memiliki relasi dengan berbagai industri. Sehingga, start up yang didukung adalah yang bisa memberikan solusi pada berbagai industri.

Gidion menambahkan alasan Lintasarta bekerjasama dengan industri untuk membantu mahasiswa membuat start up karena sekarang zaman sudah mudah bikin aplikasi.

Lintasarta melakukan penjaringan startup melalui program Appcelerate. Program ini merupakan ajang kompetisi rencana bisnis yang berfokus pada inovasi produk berbasis aplikasi digital, seperti mobile application, yang memiliki nilai bisnis dan dapat diterapkan untuk mendukung berbagai sektor industri; perbankan, keuangan, migas, perkebunan, manufaktur, kesehatan, logistik, transportasi, kelautan, dan pariwisata.

Rangkaian kegiatan Appcelerate meliputi beberapa tahapan seleksi di mana meliputi kegiatan inkubasi bisnis, mentoring yang meliputi kegiatan mentoring yang melibatkan pihak Lintasarta. Dalam masa inkubasi, tim yang terpilih juga akan mendapatkan dana bantuan pengembangan produk.

Di akhir masa inkubasi, kesepuluh tim akan kembali mempresentasikan produk akhir yang telah dikembangkan, tiga tim terbaik akan memenangkan dana dengan total ratusan juta rupiah, yang dapat digunakan untuk mengembangkan bisnis lebih lanjut.

Berbeda dengan program sejenis lainnya, President Director Lintasarta, Arya Damar, menyatakan bahwa tidak ada sharing kepemilikan antara Lintasarta dengan startup yang terpilih.

“Kita tidak mengambil saham mereka, ini murni program bantuan. Lagipula dengan penguasaan saham atau penyertaan modal seperti itu biasanya malah membuat startup jadi tidak berkembang karena bergantung dengan pemodalnya. Kita menginginkan mereka berkembang dengan produknya sendiri melalui mentoring dan akses terhadap pasar industri,” ujar Arya.

Saat ini ada tiga startup B to B yang telah masuk kedalam layanan bisnis Lintasarta. Masing-masing bergerak dibidang kedokteran, psikologi, dan pertanian.