Ilustrasi Energi
Ilustrasi Energi

Teknopreneur.com–Seiring dengan tingginya kebutuhan sumber daya energi, paradigma baru mulai berkembang dikalangan para peneliti dan pengembang industri dalam menyikapi defisit energi nasional. Namun sangat disayangkan pesatnya perkembangan zaman terkait ketahanan energi, justru tak diimbangi oleh elite poltik untuk sadar dan berupaya untuk mengembangkan sumber daya energi.

“Kalau dulu energi itu sebagai komoditas yang diperuntukkan pemasukan negara, untuk saat ini lebih menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi negara yang sudah menjadi kesepakatan nasional, atau dulu energy follow the people sekarang people follow the energy,” ucap Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Budiyanto.

Guna menyikapi paradigma baru harusnya seluruh pihak terkait untuk sadar akan permasalahan ketahanan sumber daya energi nasional.

Ia menambahkan, sumber daya energi terutama Bahan Bakar Minyak dan Gas, yang kian tahun makin naik grafik permintaanya sudah menjadi hal lumrah dari hukum perekonomian di sektor energi. Sehingga pemerintah sudah banyak melakukan berbagai kajian dan eksplorasi, sumber daya energi di berbagai daerah Indonesia.

Menyikapi bahwa Pemerintah telah melakukan upaya untuk mengatasi defisit bahan bakan cair yang terperediksi akan habis selama 12 tahun. Direktur Eksekutif Center for Energy and Strategic Resources Indonesia, Prima Agustini menyikapi secara tegas justru pihak pemerintah masih memandang sebelah mata dari problem cadangan miyak bumi nasional yang makin menipis.

Memang dalam penelusuran teknopreneur.com, laporan CNN mencatat pada tahap kuartal pertama 2017 di bulan April, produksi migas terproduksi sebesar 815,6 ribu barel per hari. Lebih besar 0,07 persen ketimbang yang sudah ditargetkan oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 815 ribu barel per hari.

Namun bagi Prima, capaian tersebut akan sama saja jika pemikiran mengenai para elite politik, yang merupakan kader pemimpin bangsa kedepannya hanya merespon sebelah mata terkait problema ketahanan energi.

Ia melanjutkan dengan nada kecewa, bahwa ia dan jajarannya telah melakukan kampanye kajian-kajian penting terkait ketahanan energi nasional. Dengan nada suara yang berat, Prima menjelaskan sudah memprediksi untuk para pihak terkait masih belum peduli dan cenderung hanya memberikan feedback palsu.

“Sesuai dengan perkiraan kami, jika partai politik tidak terbuka terhadap energi, bahkan ketika wawancara itu dilakukan informasi yang kita dapatkan malah dari pendapat pribadi, tetapi dari partai politiknya tidak menanggapi bagaimana jika presiden mereka yang terpilih hal apa yang akan dilakukan pada energi yang kita punya,” ucap Prima tegas melempar senyum.

Senada dengan Prima, pun tertuang dalam paparan tertulis hasil Forum Discusion Grup (FGD) Terobosan Untuk Kemandirian Energi (mewujudkan nilai tambah sumber daya alam). Hasil Pokja Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung 2016, mejelaskan, bahwa pemerintah masih terbelenggu bagaimana cara untuk memberikan subsidi dan baru tahun-tahun ini pemerintah mulai sadar untuk mandiri energi.

Berdasar asumsi tersebut, besar kemungkinan pemerintah masih belum niat dalam upaya meningkatkan nilai tambah dari barang komuditas hulu, untuk dijadikan penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. WES/LIN