Ilustrasi Cleantech
Ilustrasi Cleantech

Teknopreneur.com–Defisit cadangan energi minyak dan gas (migas) nasional diperkirakam akan habis pada 12 tahun kedepan. Itulah ucapan dari Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Budiyantono saat menyikapi isu krisis migas dalam rangkaian gelar Forum Discusion Group (FGD) Techtalk. Bertempat di gedung The Habibie Center, Jakarta, Senin (23/10) lalu.

Menurutnya krisis energi migas yang terus menghantui para pengamat energi, sangat dilematis lantaran kebutuhan bahan bakar minyak nasional terus meningkat tiap tahunnya. Ia menjelaskan, untuk nilai produksi minyak bumi Indonesia terlihat sudah mulai memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Dikarenakan pergerakan trend garis kurva produksi berangsur-angsur turun hingga menyentuh angka 808 ribu barel per hari (rbh), di tahun 2017.

Ditambahkan olehnya ini sangat memprihatinkan, jika dibandingkan dengan lima tahun lalu. Di tahun 2013 misalnya, angka produksi minyak bumi sebesar 824 rbh, 2014 mencapai 789 rbh, 2015 mencapai 786 rbh, 2016 mencapai 831 rbh, dan terakhir di tahun 2017 menurun kembali 808 rbh.

Sedangkan dari segi produksi jenis gas, Budiyantono menerangkan, masih terbilang kritis lantaran sumber energi jenis minyak dan gas adalah jenis sumber daya energi yang tidak bisa diperbarukan. Untuk jumlah produksi gas nasional pun dinilai mengalami penurunan jumlah produksi yang signifikan.

Di tahun 2017, jumlah produksi gas nasional sudah mencapai 7,5 mmscfd lebih besar di tahun lalu yang sudah menyentuh angka 7,9 mmscfd. Ia pun memperkirakan bahwa untuk sumber energi gas nasional akan habis pada 33 tahun kedepan dengan jumlah produksi bahan bakar gas rata-rata 3 TCF.

“Migas akan segera habis jika tidak menemukan yang baru dan tidak melakukan ekplorasi baru,” ungkap Budiyanto.

Pihaknya pun menargetkan untuk energi alternatif energi terbarukan (EBT) di tahun 2025 harus ditingkatkan 23 persen lebih besar ketimbang di tahun 2015 yang hanya terealisasi 5 persen untuk produksi bauran energi alternatif.

Dalam diskusi Forum Discusion Group (FGD) mengenai Terobosan Untuk Kemandirian Energi (mewujudkan nilai tambah sumber daya alam), hasil Pokja Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung 2016, memaparkan bahwa langkah yang tepat untuk solusi krisis energi migas ialah sumber aneka energi yang sudah tersedia secara alami, namun sumber energi panas bumi dan bioteknologi tidak terhitung untuk wilayah aneka energi tersebut.

Dari laporan FGD tersebut menjelaskan, untuk sumber aneka energi seperti energi surya, angin, samudra dan hidro. Merupakan sumber daya lepas yang perlu dimaksimalkan oleh pemerintah. Untuk energi surya misalnya, Potensi energi surya di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, namun yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp.

Saat ini pemerintah telah mengeluarkan roadmap pemanfaatan energi surya yang menargetkan kapasitas PLTS terpasang hingga tahun 2025 adalah sebesar 0.87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun.

Ditambah dengan potensi energi samudra, yakni konversi panas samudera atau Ocean Thermal enegy Conversion (OTEC). Mengingat panas permukaan laut di perairan Indonesia relatif konstan sepanjang tahun, dan perbedaan temperatur antara permukaan laut dgn kedalamam 650-1000 M berkisar 20 -22 derajat C.

Maka konversi energi panas yang dihasilkan sangatlah besar dengan efisiensi paling rendah pun (3-5%) di perkirakan potensi energi listrik yang di hasilkan oleh OTEC di Indonesia mencapai 240,000 MW. Wilayah yang paling ideal terletak pada 6-9 derajat Lintang Selatan, 104-109 derajat Bujur Timur, 20 KM dari garis pantai.

Melihat dari dua potensi sumber daya yang cukup menjanjikan, besar dan sangat dimungkinkan jika pemerintah mulai fokus untuk menggarap proyek besar dibidang sumber energi terbarukan. Mengingat jumlah konsumsi sumber daya energi yang tiap tahun makin meningkat, akan sangat disayangkan jika pemerintah terkesan tutup mata untuk megelola sumber daya potensial. WES/LIN