Ilustrasi Dinamika
Ilustrasi Dinamika

Teknopreneur.com—Dua tahun berlalu ketika Samsung memulai masuk di sektor Fintech di layananan Smartphone, kini Smartphone asal Korea Selatan dengan layanan Samsung Pay tersebut sudah menjadi Platfrom paling populer. Dengan capaian 6,44 juta pengguna di bulan september.

Naiknya Samsung Pay sebagai layanan pembayaran online, terbilang sudah sangat menjanjikan untuk menyaingi pengembangan Fintech yang lain, seperti Paypal, Android Pay, dan Apple Pay yang lebih dulu aktif dalam pengembangan transaksi online yang berbasis Smartphone.

Seperti yang dilaporkan ANTARA, bahwa Samsung Pay untuk dibulan yang sama pada tahun 2016 jumlah pengguna hanya 3,22 juta pengguna aktif untuk melakukan berbagai transaksi. Namun seiring berjalan waktu, layanan Samsung Pay mulai bisa menyaingi layanan pembayaran online lainnya seperti ISP/ Paybooc dengan 3,99 juta pengguna dan Shinhan Fan yang memiliki 2,64 juta pengguna.

Dan diperingkat terakhir dari Platfrom pembayaran online terpopuler, ada TOSS yang hanya meraih 2,2 juta pengguna. Dan dalam laporan tersebut layanan Samsung Pay, sangat besar dimungkinkan akan ada peningkatan lebih tinggi pada tahun-tahun kedepannya, lantaran untuk negara Korea Selatan jumlah pengguna Android aktif sudah mencapai 37 juta pengguna.

Demi melebarkan sayap promosinya, Samsung mulai serius menyediakan layanan Samsung Pay di 20 negara global. Walau tidak dijelaskan secara rinci negara mana saja yang sudah masuk layanan Samsung Pay, di dalam muatan berita tersebut dijelaskan bahwa untuk menikmati layanan Samsung Pay ini, pengguna diharuskan untuk memiliki Device Samsung yang kompetibel.

Samsung pay: Dari Pembayaran Via Mobile ke e Commerce

Membicarakan sayap promosi layanan Samsung Pay, VP Samsung Pay, Inc. Sang Anh mengungkapkan bahwa layanan belum lama ini sudah berjalan di wilayah Amerika Serikat. Ia mejelaskan, para penyedia usaha yang menggunakan layanan Samsung Pay, masih perlu dilakukan evaluasi terkait dengan metode penggunaan layanan yang diusung oleh Samsung tersebut.

Menurutnya permasalahan yang mucul dalam pelaksanaan layanan Samsung Pay, ialah para pengusaha masih terlalu rumit dengan banyaknya jenis pembayaran yang berlaku di negara tersebut. Akibatnya para pengusaha cenderung sulit untuk mencairkan dana yang didapat.

Sang Anh menjelaskan, pihaknya telah melakukan langkah cepat kerjasama dengan lebih dari 1.500 bank dan lembaga keuangan di Amerika Serikat. Dengan langkah ini, menurutnya akan sangat membatu membangun kepercayaan pada konsumen dan mendidik secara mandiri untuk penggunaan layanan Samsung Pay yang dimilikinya.

Senada dengan Anh, Director Samsung Electronics, Nana Murugesan mengungkapkan, walau Samsung Pay sudah terbilang baru disektor bisinis pengembangan pembayaran online, ia sangat setuju jika Samsung bisa sejajar dengan pengembang layanan Smartphone Pay terdahulu di negara maju lainnya. Ia pun mengakui, di produk layanannya, Samsung Pay masih belum cukup meyakinkan. Sehingga tidak sedikit pengguna konsumen AS pun mencoba metode pembayaran lain untuk kegiatan transaksinya.

“Awalnya kami bertanya, bagaimana caranya untuk bisa melakukan konversi dari penggunaan pembayaran kartu ke produk kami?” jelas Murugesan.

“Tapi sekarang kami telah belajar bahwa upaya yang kita lakukan belum tentu akan berhasil. Kami menyadari,  kami harus melihat keseluruhan perjalanan perdagangan dari pra-pembelian melalui pembelian kembali, dan mengevaluasi bagaimana kita dapat memperbaikinya.” tutupnya. WES/LIN