Ilustrasi Startup
Ilustrasi Startup

Teknopreneur.com— Perkembangan para pelaku industri mata uang virtual Indonesia terlihat masih menjamur, tak menggubris regulasi pemerintah yang sudah jelas melarang transaksi Bitcoin. Mengingat regulasi yang sudah berjalan, tetap saja dirilis startup Pundi X yang mengusung Bitcoin Exchange di market Indonesia.

Nilai yang begitu menjanjikan dari pertumbuhan nilai Bitcoin, nampak masih menjadi primadona masyarakat Indonesia untuk bergabung dan turut andil dalam perkembangan Bitcoin.

Zi Bin Cheah alias Zac, CEO Pundi X menjelaskan, dalam muatan kabar CNN, bahwa ia akan mencoba merebut untung pasar uang virtual Indonesia, walau masyarakat masih belum akrab dengan Starup Pundi X sebagai market Exchange baru.

“Pasar uang virtual di sini sangat besar,” ungkap Zac.

Lebih jauh ia menambahkan, ia memberikan contoh nyata dalam manisnya bisnis di sektor Bitcoin. Bitcoin.co.id menurutnya adalah satu startup market yang sudah mendulang USD 10 juta dalam sehari, dengan melirik banyaknya masyarakat yang senang menarik Bitcoin dalam kurs Rupiah, menjadi titik awal inovasinya untuk mendirikan startup Pundi X.

Namun tidak hanya berawal dari kesenangan masyarakat, alasan ia mendirikan Pundi X, bagi Zac masih minimnya kepemilikan rekening bank masyarakat Indonesia adalah peluang. Dan dimungkinkan dengan hadirnya sistem Blokchain, akan dapat mempermudah Financial Liberation bagi masyarakat Indonesia.

Zac melanjutkan, pihaknya telah menambahkan fitur X Pass dan Pundi X Poss untuk memudahkan layanan startup yang sudah dirilisnya. Menurutnya Pundi X Pass merupakan alat yang berguna sebagai menyimpan pundi Bitcoin atau layaknya kartu ATM yang sering digunakan untuk bertransaksi, dan X Pass semacam mesin electronic data capture (EDC) yang sering ditempatkan dibayak  toko.

Hadirkan USD4 juta di Pre-sale Initial Coin Onfering (ICO)

Dengan mengusung market Bitcoin Exchange dan sebagai alat pembayaran, Pundi X tersiar dibeberapa media luar sudah berhasil menutup Pre-Sale Initial Coin Onfering (ICO) dengan total 3.148 ETH, 613 BTC dan 250.040 XEM – setara dengan 14.000 ETH atau USD4 juta.

“Kami sangat bersyukur untuk mencapai target pre-sale kami, dan berkat komitmen ratusan investor ritel yang antusias,” ujar Zac pada siaran persnya.

Lebih jauh ia menambahkan, pada target ICO yang akan berlangsung pada 20 November 2017. Pihaknya ingin mengumpulkan 280.000 ETH (jenis koin Ethereum), yang nantinya akan mampu mendanai 700.000 perangkat Pundi X POS selama tiga tahun di negara Indonesia, Singapura, dan seluruh wilayah Asia Tenggara.

Dengan rincian untuk setiap perangkat POS, diperkirkan akan memakan biaya sebanyak USD300 atau sekitar Rp3 Juta yang akan dirogoh kocek untuk 100.000 perangkat pertama yang diproduksi. Dan untuk sisa 600 ribu perangkat, menurut Zac bisa dipastikan akan didanai oleh hasil penjualan dari token dan pendapatan dari B2B yang telah berpartisipasi di ekosistem Pundi X. WES/LIN