Ilustrasi Fintech
Ilustrasi Fintech

Teknopreneur.com – Pembayaran non tunai dengan transaksi virtual sudah sangat berkembang. Salah satu negara tertinggi penggunaan pembayaran non tunai adalah Singapura. Dengan jumlah transaksi 61 persen di Singapura, juga di Belanda 60 persen, transaksi virtual sangat marak di negara-negara tersebut.

Di Indonesia mengalami kemajuan pesat dalam pertumbuhan penggunaan pembayaran non tunai, contohnya dalam penggunaan e – money untuk pembayaran transportasi. Model transaksi virtual yang sedang digenjot di Indonesia adalah melalui perangkat genggam atau smartphone.

Dilihat dari kesiapan, keinginan menggunakan, dan jumlah pengguna pembayaran mobile, Indonesia masih tertinggal dari negara lainnya. Padahal, masyarakat kita sudah familiar dengan perangkat telekomunikasi. Saat ini tercatat ada 160 juta pengguna ponsel dan ada 300 juta lebih kartu SIM yang terdata beredar di Indonesia.

Seperti yang dilansir dari selular.id, Brata Rafly, CEO Dimo Pay Indonesia, meyakini bahwa pertumbuhan transaksi dari sisi mobile payment di Indonesia bisa terus meningkat, seperti India dan China, di mana kedua negara itu juga sama-sama memiliki mobile usage yang besar namun populasinya masih banyak yang belum mempunyai rekening bank.

Bila dibandingkan dengan negara tetangga, Thailand, pertumbuhan mobile transaction kita masih tertinggal. Pertumbuhan transaksi mobile di Negeri Gajah Putih tersebut sudah mencapai 30 persen. Padahal bila dilihat dari produk domestik bruto (GDP), nilai Thailand tidak lebih dari setengah dibandingkan Indonesia. Lantas, kenapa mobile transaction Indonesia belum take off?

“Hal ini karena pemain mobile payment masih bersifat eksklusif seperti khusus bank tertentu, telco tertentu, teknologi tertentu, atau juga merchant tertentu,” kata Brata.

Ia mencontohkan, penyedia layanan mobile payment kebanyakan tersedia secara khusus untuk produknya saja, misalkan mobile payment untuk parkiran, untuk coffee shop, untuk belanja di departement store, dan masih banyak lagi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena tidak bisa sepenuhnya diakses oleh penduduk Indonesia yang tidak berlangganan suatu produk. Lain hal dengan China.

“95 persen market di China pakai aplikasi WeChat sehingga distribusinya majority. Ujung-ujungnya mobile payment bukan sekedar aplikasi tapi platform agregat yang mendorong merchant ecosystem,” jelasnya.

“Tantangan, dan juga peluang, terbesar industri fintech di Indonesia saat ini adalah untuk memperkenalkan sebuah teknologi layanan keuangan bersifat agnostis dan inklusif yang dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” lanjutnya. “Semakin eksklusif, semakin terpisah-pisah, semakin sulit bertumbuh, dan semakin kecil kemungkinan teknologi tersebut untuk diadopsi secara masal.”

Dimo sendiri memiliki fokus untuk menghadirkan pengalaman transaksi keuangan melalui teknologi Quick Response (QR) Code. Berbeda dengan layanan pembayaran lain, konsep Pay by QR yang dikedepankan Dimo bersifat inklusif, dimana Dimo menyediakan sebuah “bahasa” yang dapat digunakan oleh sumber dana manapun (bank, telko, e-wallet), pengguna smartphone dengan brand mana pun, dan juga merchant apa pun. LIN