Ilustrasi Fintech
Ilustrasi Fintech

Teknopreneur.com—Bank Indonesia (BI) gencarkan Gerakan Nasional  Non Tunai (GNNT) untuk masyarakat Indonesia dalam penggunaan uang elektronik e-money, yang pada praktiknya akan dimaksimalkan dalam pembayaran diseluruh pintu Toll yang ada.

Gerakan Nasional Non Tunai ini digencarkan untuk menjawab tantangan ekonomi digital bagi pemerintah dan merupakan salah satu bentuk kemudahan untuk masyarakat dalam melakukan transkasi cepat dan aman, yang  prosesnya pun terbilang  masih bertahap.

Seperti yang dilansir dari Tempo, Sekretaris Perusahaan Bank Central Asia, Jan Hendra menyebutkan, untuk penetrasi kartu Flazz Bank Central Asia (BCA) di Jabodetabek, pihaknya masih  membutuhkan waktu yang cukup untuk memenuhi kriteria yang diinginkan. Lantaran masih banyak pintu tol yang masih belum memenuhi syarat untuk dilakukan pembayaran e-money.

“Jabodetabek belum ada karena memang belum semua ruas tol bisa menggunakan e-money,” ucap Jan Hendra.

Dan dalam perkara proses sosialisasinya yang dilakukan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dan kalangan perbankan meyebutkan, kurang lebih sudah 1,5 juta keping  kartu perdana eletronik (e-money) yang sudah diedarkan oleh BUJT. Namun sayangnya sosialisasi tak sejalan dengan pengembangan infrastruktur lapangan, banyak yang masih minim dengan alat receiver kartu perdana elektronik tersebut.

Dalam lansiran Merdeka, Direktur Digital Banking dan Technology Bank Mandiri, Rico Usthavia Frans menyebutkan, bahwa penggunaan kartu elektronik atau e-money, pada triwulan III 2017 tercatat sudah mencapai 10,82 juta keping yang sudah beredar di masyarakat.

Menurutnya pengguna e-money nantinya akan terus meningkat dengan signifikan. Ia memaparkan, pertumbuhan mulai dari 8,14 juta pada triwulan II di tahun 2016, kini menjadi 10.82 juta pada triwulan III di tahun 2017. Artinya dari perkembangannya e-money mengalami kenaikan sebanyak 32 persen dari tahun ke tahun kedepannya.

Sejalan dengan laporan Rico Usthavia Frans, berdasar  penelusuran Teknopreneur.com pun penggunaan e-money sangat berkaitan dengan komposisi penggunaan Internet Indonesia berdasarkan kategori pekerjaan,yang tercatat  sudah ada 62 persen atau 82 juta dari jumlah pengguna Internet Indonesia. Yang mengindikasikan bahwa masyarakat pekerja, entah itu di perkotaan maupun di perdesaan dituntut untuk mengikuti langkah kebijakan nasional. Berdasarkan hal ini masyarakat pekerja tentu akan sangat membutuhkan penggunaan kartu perdana elektronik (e-money) dalam mobilitas kesehariannya.

Namun tidak menutup kemungkinan dengan sadarnya penggunaan Internet berdasar kebutuhan, e-money diperkirakan akan selalu meningkat.  Lantaran kecepatan dan kemudahannya dalam melakukan berbagai aktifitas transaksi. Walau masih berkutat dalam pengembangan layanan pembayaran pintu Tol di Jabodetabek.

Selanjutnya Frans mengungkapkan, untuk laporan jumlah transaksi pada triwulan III 2017 yang menggunakan e-money mengalami pertumbuhan sebesar 32,7 persen.  Atau menjadi  351,5 juta transaksi dan akan lebih kecil jika dibadingkan pada tahun lalu. Dengan periode yang sama, tercatat 264,9 juta transaksi dari penggunaan e-money.

Lebih jauh Frans menjelaskan mengenai  jumlah nilai akumulasi transaksi yang akan didapatkan dari tahun 2010-2016, akan nampak meningkat pesat 15 kali lipat, terhitung dari Rp252,2 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp3,8 triliun di tahun 2016. Frans menambahkan, seiring dengan meningkatnya pengguna kartu prabayar e-money akan terus mengalami peningkatan 25 kali lipat, bahkan bisa lebih besar dari tahun yang sebelumnya. WES/LIN