Tech Talk VI, The Habibie Center dan Teknopreneur Indonesia, Industri Migas Nasional, Bahan Bakar atau Bahan baku

Teknopreneur.com—Dilema ketahanan energi migas Indonesia seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap sumber energi yang defisit. Kemudian asumsi  ini menjadi berkembang pada kalangan stekeholder untuk bisa bijak dalam mencari solusi sumber daya energi migas nasional.

Forum diskusi Tech Talk yang diselenggarakan di gedung The Habibie Center pada senin (23/10) lalu, meninggalkan begitu banyak pekerjaan bagi para pemegang hak kendali atas sumber daya migas nasional. Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Budiyanto menjelaskan, pihaknya sudah memiliki program Nawa Cita sebagai bentuk program kerja Jokowi dalam membangun perekonomian Nasional.  Kemudian program kerja di sektor migas, tidak hanya untuk Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), melainkan dapat menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi nasional .

“Kalau dulu energi  itu sebagai komoditas yang diperuntukan pemasukan negara, untuk saat ini lebih untuk menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi negara yang sudah menjadi kesepakatan nasional, atau  dulu energy follow the people sekarang people follow the energy,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, bahwa fenomena meningkatnya permintaan sumber energi merupakan hal yang alamiah terjadi, dan dampaknya gairah perekonomian migas akan menurun. Hal iini dikarenakan biaya produksi migas sudah mencapai  maksimal, namun jumlah produksinya menurun kemudian gejala penurunan perekonomian sudah pasti akan terjadi.

Ia melanjutkan, untuk migas dinilai hanya bisa bertahan sampai 12 tahun memicu untuk mencari pengganti energi yang baru dengan melakukan eksplorasi di berbagai wilayah yang dilihat mampu untuk menjadi alternatif lain untuk menunjang kebutuhan energi nasional.

“Migas akan segera habis jika tidak menemukan yang baru dan tidak melakukan ekplorasi  baru,” ungkap Budiyanto.

Ia menyampaikan, bahwa sekarang rata-rata pemanfaatan gas bumi  global yang sudah mencapai 9% dan pemanfaatannya didalam negeri lebih besar 58% atau 60%. Hal inilah yang membuat defisit migas yang terus berkepanjangan.

Pengembangan migas yang hanya dipandang sebelah mata.

Beberapa kajian mengenai Energi Baru Terbarukan (EBT) yang diusung oleh para peneliti nampak dipandang sebelah mata oleh kalangan elite politik, dari pengembangan EBT seharusnya menjadi pondasi kesadaran energi bagi para kader elite politik untuk menjadi karakter membangun calon pemimpin negara.

Hal ini dinyatakan langsung oleh Direktur Eksekutif Center for Energy and Strategic Resources Indonesia, Prima Agustini. Menurutnya berdasar pada pemilu Presiden pihaknya menggelar kajian-kajian penting terkait kondisi migas saat ini, dalam prosesnya mereka terbuka dalam mengulas secara detail perkara ketahanan migas nasional yang memprihatinkan. Keterbukaan yang semu sudah diprediksi setelah para kader politik naik sebagai petinggi pemerintahan, mereka “menutup mata” dengan masalah ketahanan energi yang ada.

“Sesuai dengan perkiraan kami, jika partai politik tidak terbuka terhadap energi, bahkan ketika wawancara itu dilakukan informasi yang kita dapatkan malah dari pendapat pribadi, tetapi dari partai politiknya tidak menanggapi bagaimana jika presiden mereka yang terpilih hal apa yang akan dilakukan pada energi yang kita punya,” tegasnya.

Pada kesempatan terakhir Prima menilai, dari perkara defisit migas yang berkelanjutan didalam pemerintahan ini masih belum memilki forum yang secara khusus untuk mengungkapkan ketersediaan migas nasional. Alhasil untuk mendapatkan informasi  solusi hanya bersumber dari pengulangan suara, dan miris dalam bentuk nyata tidak dibicarakan secara khusus. WES