Tech Talk VI, The Habibie Center dan Teknopreneur Indonesia, Industri Migas Nasional, Bahan Bakar atau Bahan Baku

Teknopreneur.com—Industri migas nasional, sebagai bahan bakar atau bahan baku, merupakan topik yang sangat menarik untuk diulas mengenai kondisi ketahanan migas nasional. Energi atau juga sebagai bahan baku industri, terbilang sejak dahulu menjadi tantangan tersendiri bagi sebuah negara, seperti itulah ucapan Ketua The Habiebie Center, A. Ilham Habibie dalam mengawali pembicaraan Forum Diskusi Tech Talk, di Gedung Habibie Center, Jakarta, Senin (23/10) lalu.

Menurutnya membicarakan mengenai ketahanan migas nampak tidak bisa lepas dari pada kondisi migas pada tahun-tahun yang sebelumnya, perubahan industri minyak dan gas  yang sudah mengalami perubahan yang sangat signifikan pada umumnya didorong oleh suksesnya para peneliti dalam melakukan risetnya mengenai inovasi dalam pengolahan migas. Tidak sampai disitu, namun inovasi yang semula sudah diperkirakan tidak akan mungkin dilakukan justru berhasil dan dapat mengubah keseimbangan suply migas global maupun nasional, yang kemudian akan menjadi dua opsi terkait migas yakni menjadi bahan bakar atau bahan baku.

Pihak terkait seperti SVP Research & Technology Center Pertamina, Herutama Trikoranto mengungkapkan. Kondisi permintaan atau demand dalam negeri terkait migas, pihaknya mengklaim pada tahun ini justru mengalami peningkatan. Sedangakan kondisi cadangan migas yang ada mengalami penurunan, sehingga mulai pada tahun 2004 negara Inonesia sudah mulai melakukan impor minyak dari berbagi negara.

“Kita sudah menjadi net importer, dari beberapa tahun kebelakang, dan sekarang permintaan bakar minyak semakin meningkat, sehingga ini yang membuat kita untuk melakukan impor untuk bahan bakar minyak,” ucapnya.

Namun lebih jauh ia mengatakan, dalam upaya memberikan solusi pihaknya telah melakukan berbagai cara untuk memecahkan masalah cadangan minyak yang saat ini mulai mengalami defisit. Yaitu dengan melakukan pembatasan impor dari luar dan aktif dalam melakukan ekspansi dalam mengeksplorasi lahan-lahan baru yang ada di luar maupun dalam negara. “Sudah kita lakukan untuk bisa mendapatkan cadangan-cadangan baru minyak.”

Terkait dengan isu lingkungan dirinya menegaskan, untuk perkembangan bahan bakar minyak (BBM) pihaknya pun telah berencana untuk melakukan peningkatan dari segi kualitas BBM. Untuk saat ini BBM Indonesia masih tergolong dalam kategori Euro dua, yang masih terdapat unsur  kontaminan dalam jenis BBM tersebut, ia menjelaskan bahwa kontaminan tersebut yakni FUX dan Sulfur.

“Kita tidak ingin ketinggalan dengan negara lain yang sudah memiliki jenis BBM Euro tiga dan Euro empat” tegasnya.

Perihal peningkatan kualitas BBM yang terbilang masih Euro dua, Heru kembali memgambarkan wajah pertamina pada tahun-tahun yang akan datang. Menurutnya pada tahun 2018 pihaknya akan menggelar road maping untuk memetakan kilang-kilang minyak yang sudah ada, yang merupakan langkah nyata baginya untuk mulai meningkatkan kualitas BMM ke tahap Euro lima. Dengan menjalankan program peremajaan kilang minyak ada seperti di kota Dumai kepulaan Riau, kabupaten Cilacap, dan di Balikpapan.

Heru melanjutkan, sehingga dari olahan BBM yang memiliki lebih 0,2% kandungan sulfur akan bisa dimanfaatkan secara maksimal pada kilang-kilang yang dijalankan program peremajaan.

“Memang saat ini kita masih belum bisa memanfaatkan secara maksimal, namun dengan adanya perencanaan ini. nantinya kita bisa memanfaatkan jinis minyak lebih banyak untuk menambah olahan bahan baku industri, yang akhirnya harga pasar nantinya akan kita pegang,” jelas Heru.

Membangun Kesadaran Industri Petrokimia

Bersamaan dengan itu, lain pihak pernyataan kontras pun diungkapkan oleh Director for Business Development Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik, Budi Sadiman. Ia menjelaskan, hal yang paling menarik dari permasalahan yang tarik ulur ini ialah Petrokimia sebagai industri hulu dibidang industri.

Dengan bertolak pada tahun-tahun sebelumnya, para pengembang petrokimia sudah mencatat 5,5 juta ton bahan baku industri untuk diolah. Namun dengan kondisi sekarang, pihaknya telah melihat produksi bahan baku berkisar 2,45 juta ton per tahun, yang menurutnya ini sangat mengkhawatirkan lantaran hampir 50% bahan baku industri untuk memenuhi permintaan masih import dari pihak luar.

“Sebagai mitra kami, Pertamina sangat disayangkan, ia hanya berfokus pada bagaimana cara untuk memenuhi bahan bakar minyak negara (fuel), tidak secara maksimal memanfaatkan sisa hasil olahan BBM, bahkan untuk bahan baku TAR saja kita masih Import,” tandas Budi menyikapi kebijakan yang dijelaskan oleh SVP Research & Technology Center Pertamina, Herutama Trikoranto.

Ia menilai hampir 30% dari neraca perdagangan ekspor impor, ia melihat justru dalam laopran neraca perdagangan tersebut porsi industri Petrokimia sudah sangat besar. Dan baginya sangat disayangkan lantaran negara hanya untuk industri plastik saja masih melakukan impor.

“Jadi permasalahan kita adalah dari bahan baku yang masih impor, dimana demand dari permintaan plastic itu inline dengan pertumbuhan ekonomi 5.8% sehingga makin gap-nya akan makin tinggi dan jika ini dibiarkan porsi impor bahan baku ini nanti akan full total nahan baku impor dari luar,” ujar Budi.

Padahal menurutnya jika melirik potensi sumber daya ang ada di Indonesia, dengan sebaran peta wilayah yang memiliki industri petrokimia, dinilai merupakan wilayah yang maju dan besar potensi perekonomiannya dan menjanjikan.

“Contoh, ialah wilayah kota bontang, bontang itu adalah sebagai sektor industri petrokima, yang  dulunya bontang ialah kota yang sangat tertinggal, dengan pemanfaatan sector industry petrokimia. namun kini sudah terbukti perkembangannya. Dan satu lagi yang tak begitu  jauh, ialah cilegon. Menjadi pusat tertinggi dalam perkembangan industry petrokimia di banten ditambah dengan industry baja, dan yang terakhir ialah banda aceh.”

Hasilnya ia pun menyimpulkan bahwa, jika pemerintah fokus dan berupaya dalam pembangunan petrokimia, dengan memaksimalkan potensi diberbagai daerah besar, kemungkinan tingkat perekonomian sektor industri akan lebih berkembang. Tidak harus selalu mengandalkan impor hanya untuk bahan baku industri petrokimia. LIN