Tech Talk VI, Industri Migas Nasional, Bahan Bakar atau Bahan Baku

Teknopreneur.com – Krisis ketahanan minyak bumi, seperti itulah mungkin anggapan analisis yang sedang saat ini terjadi hingga menyebabkan banyak sektor perekonomian terpengaruh negatif akibat krisis minyak bumi yang berkepanjangan. Sejarah mencatat bahwa untuk wilayah negara Indonesia pun pernah mengalami masa kejayaan ketahan minyak Bumi pada era 1970-an yang pada saat itu Indonesia sebagai negara pengekspor minyak bumi untuk berbagai belahan dunia.

Secara administrasi pun Indonesia telah diakui oleh negara-negara pengekspor minyak (OPEC), lantaran realita produksi angka minyak bumi Indonesia mencapai 1,6 juta Barel per hari (bph), sementara konsumsi minyak bumi berkisar 800 ribu barel per hari (bph). Ini adalah suatu keuntungan bagi negara Indonesia bahwa minyak bumi sebagai komoditas ekspor untuk mendatangkan devisa negara dalam waktu singkat.

Namun waktu tak bisa diputar balikan, cadangan untuk ladang-ladang minyak Indonesia terbilang mengalami defisit minyak bumi, lantaran eksploitasi atau pengurasan dilakukan begitu cepat tanpa memperhatikan batas maksimal produksi. Dan permasalahan ini pun diperkuat dengan inovasi untuk teknologi penganti minyak bumi alternatif, yang berujung secara konsisiten terus-menerus mengurangi angka produksi minyak.

OPEC yang secara resmi menetapkan bahwa Indonesia sebagai negara pengimpor minyak pada tahun 2008, nampak  mulai sejalan dengan jumlah konsumsi penduduk terhadap ketergantungan minyak bumi. Produksi kendaraan bermotor yang tak terkendali, menambah klimaks masalah krisis minyak bumi yang berkepanjangan. Kendati demikian Indonesia dinilai masih mampu untuk memanfaatkan sumber-sumber energi alternatif untuk dikembangkan sebagai konsumsi utama untuk masyarakat, untuk energi baru terbarukan (EBT) Indonesia masih perlu belajar banyak untuk mengolah secara maksimal pemanfaatan ebergi terbarukan tersebut.

The Habibie Center menggelar diskusi publik TechTalk  yang bertemakan “Industri Migas Nasional, Bahan Bakar Atau Bahan Baku” di Gedung Habibie Center, Jakarta, Senin (23/10/2017). Yang menghadirkan seluruh stakeholder terkait seperti, Ilham A. Habiebie (ketua IDST,The Habiebie Center/Dewan TIK Nasional), Budiyantono (Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM), Herutama Trikoranto (SVP Research & Technology Center PT Pertamina), Budi Sadiman (Director for Business Development Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik), dan yang terakhir Prima Agustini (Direktur Eksekutif Center for Energy and Strategic Resources Indonesia).

Dalam rangkaian dialog hangat tersebut, Ilham A.Habiebie mengungkapkan, bahwa perubahan Industri Energi saat ini banyak didorong dan diinovasi dari sebuah pembicaraan ilmiah yang justru sangat penting bagi unit pemerintah dijadikan perhatian khusus. Terutama dalam hal sumber daya energi minyak yang kian tahun makin menyusut.

Bersamaan dengan itu, senada dengan Ilham Habibie, Budi Sadiman (Director for Business Development Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik) menjelaskan bahwa pertumbuhan industri petrokimia pun sulit berkembang lantaran laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih belum stabil.

“Ada masalah dalam bahan baku impor yang seharusnya jadi titik penanganan kita,” ungkap Sadiman.

Tidak hanya itu, Direktur Eksekutif Center for Energy and Strategic Resources Indonesia, Prisma mengatakan, nampaknya pembahasan migas begitu seksi sehingga membuat para pengamat begitu serius mendengar para stakeholder yang ada didepan, dan baginya ia sangat optimis sekali bahwa ketahanan migas Indonesia bisa pulih kembali, walau masa-masa Indonesia punya minyak banyak kini sudah hilang.

“Sangat seksi jika bicara migas, namun kita harus optimis walau sejarah punya sumber energi minyak banyak hanya tinggal kenangan,” ujarnya.

Diwaktu selanjutnya giliran Budiyanto selaku Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, mengungkapkan analisisnya terkait tema “Industri Migas, Bahan Bakar Atau Bahan Baku”. Baginya, untuk bangsa Indonesia janganlah terlalu fokus untuk mengatasi krisis sumber daya minyak. Masih ada banyak sumber energi lain seperti potensi gas bumi yang akan eksis 33 tahun lagi.

“Jangan hanya minyak yang diperkirakan 12 tahun lagi akan habis, kita fokus ke potensi gas yang masih cukup lama untuk kita kembangkan,” ujarnya.

Mengingat waktu yang sudah berjalan begitu lama, Herutama selaku SVP Research & Technology Center PT Pertamina menjelaskan analisisnya bahwa memang terkait migas cukup luas cakupannya, banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Namun saat era baru kelahiran Energi baru terbarukan adalah solusi untuk menyediakan energi kebutuhan nasional dan terkait mengenai krisis energi migas memang sangat miris sehingga butuh penangangan bersama dari seluruh pihak terkait. “Memang kebutuhan akan migas kita naik dan produksi malah menurun, dan dari sini kita berupaya menambah stok minyak negara dengan mengakuisisi lahan-lahan minyak diluar negeri,” tutupnya. LIN