Ilustrasi Digital
Ilustrasi Digital

Teknopreneur.com—Beban arus lintas Jakarta setiap tahun kian meningkat, akibatnya kemacetan diberbagai lini jalan utama pun tak terhindarkan. Solusi jalan tol atau jalan bebas hambatan yang diharapkan mampu memecah beban arus lalu lintas pun dinilai gagal, lantaran sering terjadi penumpukan kendaraan di pintu gerbang toll.

Sadar akan hal tersebut pemerintah belum lama ini mulai mencanangkan kembali sistem teknologi On Board Unit (OBU) pada pintu tol otomatis. Dengan dibantu teknologi para pengandara akan dimudahkan tak perlu bersusah payah membuka jendela mobil hanya untuk bertransaksi tunai atau menempel kartu non tunai di pintu tol.

Bagi Pemerintah dengan teknologi tersebut merupakan gagasan yang dinilai mampu untuk memecah masalah penumpukan kendaraan yang kerap terjadi didepan pintu tol. Dan untuk kapan sistem OBU itu dijalankan, pemerintah menetapkan OBU akan berlaku penuh pada Desember 2018 diberbagai pintu tol. Dengan teknologi orang biasa menyebut multi lane free flow (MLFF) alias pembayaran di pintu tol tanpa henti.

Dalam perkembangan teknologi transaksi pembayaran non tunai tol sebenarnya sudah diperhitungkan dan kembangkan oleh akademisi William S. Vickrey, seorang akademisi ekonom asal Amerika Serikat yang pernah meraih gelar nobel bergengsi di bidang Ekonomi. Lantaran gagasan inovasinya membuat sistem pembayaran non tunai tanpa harus menghentikan kendaraan di gerbang tol.

Dengan menggunakan transponder yang terpasang dikendaraan, Vickrey mengharapkan dengan hadirnya transponder tersebut akan dapat dijangkau oleh masyarakat AS khususnya dengan harga USD20. Begitu besar gagasannya terhadap perkembangan teknologi oleh pria yang hidup pada tahun  1950-an terkait masa depan yang dinilai akan serba tanpa jaringan kabel.

Dan untuk di wilayah Asia ialah Singapura yang sudah menerapkan sistem ini, melalui Electronic Road Pricing System (ERP) bisa dibilang kelanjutan dari sistem pembayaran untuk memasuki kawasan Central Buiness District (CBD). Sekedar untuk diketahui pemerintah Singapura ternyata memiliki dua skema pembayaran dalam memasuki kawasan CBD tersebut, seperti apa rupa metode pembayarannya dinilai masih belum ada yang menyebutkan.

Perkembangan E-TollPass

Untuk di Indonesia, sebuah bank swasta telah menerbitkan alat pembayaran tol yang bernama E-tollpass. Yang diklaim oleh pihak bank swasta tersebut mirip dengan sistem inovasi yang dikembangkan Vickrey, dengan tanpa harus bersusah payah melakukan transaksi tunai, hanya cukup melaju saja di sela pintu tol yang sudah disiapkan.

Cara kerjanya pun terbilang cukup mudah, para pengguna E-TollPass hanya diharuskan menurunkan kecepatannya kendaraan pada titik 10 km/jam. Dan memanfaatkan kartu elektronik yang dipasangkan di alat E-TollPass, saldo yang berada di kartu elektronik akan berkurang secara otomatis. Namun sangat disayangkan untuk dukungan sistem teknologi ini sekarang baru bisa digunakan di 18 gerbang tol yang tersebar di Jabodetabek.

Yang harus dicatat penting disini ialah, bahwa dalam teknologi E-TollPas komponen Transponder merupakan adalah hal yang paling penting dalam kerja sistem tersebut, yang sudah jelas harus sudah dipasang disisi kendaraan pengguna. Sehingga akan percuma Secanggih apapun pintu tol otomatis dengan berbagai perangkat otomatisasi, tanpa transponder yang terpasang di kendaraan, maka otomatisasi tak bisa bekerja, dan menurut anda, apakah ini akan menjawab permasalahan kemacetan? WES