Ilustrasi Dinamika

Teknopreneur.com—Satu keping Bitcoin tembus kurang lebih 50 Juta Rupiah dalam market perekonomian wilayah Indonesia, besar kemungkinan berawal dari ketegangan di wilayah asia yang tensinya mulai meninggi di wilayah Semenanjung Korea dan Selatan Cina membuat para investor di pasar keuangan mencari alternatif, namun bukan produk investasi seperti emas atau bentuk obligasi pemerintah yang menjadi pilihan investor. Justru mata uang Bitcoin menjadi pilihan favorit dibalik semua konflik ekonomi asia yang sedang terjadi.

Hal tersebut akan dapat dibuktikan jika melihat lansiran media ternama Forbes, yang mencatat dalam sembilan bulan terakhir ini kenaikan mata uang Bitcoin hampir mencapai 780 persen. Estimasi tersebut cukup besar jika di konversi dalam mata uang USD dan Rupiah, terbilang USD4.224 atau sekitar Rp56 juta untuk satu kepingnya.

Melihat ini analisis mata uang digital Vinsensius Sitepu mengungkapkan, tak lain ialah dari segi penggunaan yang mudah dan praktis seiring dengan perkembangan zaman dan efek dari masifnya penggunaan Internet di Negara Indonesia. “Mata uang virtual menganut paham pasar bebas. Supply and demand. Supply sedikit dan demand-nya besar, maka harga naik,” kata Vinsen, soal analisis pergerakan Bitcoin.

Ia menilai untuk masa depan perkembangan mata uang digital, walau dalam kategori aset tak aman (safe haven). Para investor masih akan tetap melirik produk ini sebagai ladang keuntungan yang bisa dimaksimalkan dan dikembangkan. Vinsen melanjutkan, hal tersebut tak lain didukung dengan hasil penelitian Cambridge University tahun ini, penelitian itu mengungkapkan bahwa ada peningkatan dompet virtual kripto dari pengguna pengguna dunia. Tercatat ada 2,9 juta menjadi 5,8 juta pengguna, dan semua itu adalah pengguna kripto Bitcoin.

Ia pun memprediksikan dalam periode satu tahun pun akan terjadi peningkatan yang cukup signifikan, bahkan bisa mencapai 60 sampai 100 juta per keping. Dan hal yang paling menariknya, dalam periode yang sama pun akan terjadi penurunan yang sigfnifikan pula. Lantaran para pengguna merasa jenuh dan sudah cukup memiliki profit yang tinggi sehingga akan menjual kripto Bitcoin ke mata uang konvensional.

“Perdagangan aset digital seperti mata uang virtual adalah aktivitas berisiko tinggi. Harganya sangat fluktuatif” ungkapnya.

Sehingga dapat diasumsikan bahwa perkembangan Fintech terutama dalam pengguna kripto Bitcoin, adalah sangat riskan jika tidak didampingi estimasi analisis akurat. Belum lagi kabar buruk pembobolan pertukaran mata kripto (exchanger) seperti yang terjadi pada Bithumb, di Korea Selatan, awal Juli kemarin.

Baginya dengan sistem menganut pasar bebas, perkembangan kripto Bitcoin akan sangat bergantung pada kepercayaan pasar. “Potensi naik dan potensi hilang pamor tentu saja ada,” tutupnya. WES