Ilustrasi Digital

Teknopreneur.com—Meningkatnya para pengguna Internet dan para pengembang bisnis  yang kian tahun makin marak. Sudah menjadi keharusan bagi pemerintah untuk menjadi fasilitator sebuah sistem teknologi Cloud Service yang kini mulai merambah di pasar Indonesia. Namun sangat disayangkan, Asia Cloud Computing Association, yakni lembaga asosiasi pengembang Cloud Asia menyatakan, bahwa dalam perkembangannya layanan Cloud Computing masih terbentur regulasi di setiap wilayah Asia dan salah satunya ialah Indonesia.

Hal tersebut pun langsung dilontarkan oleh Kirsten Gilbertson, Director Cloud Platform Business Oracle APAC. Menurutnya dalam perkembangan adopsi layanan Cloud banyak didorong oleh beberapa faktor, yakni jika melihat pesatnya pertumbuhan e-commerce di Indonesia adalah awal dari para pengembang mulai bergantung pada infrastruktur cloud, terutama juga perangkat mobile yang tersambung ke internet.

Hal ini bisa dilihat dari startup ternama Indonesia yang mulai muncul seperti Bukalapak.com, Tokopedia, dan Gojek sebagai pionir perkembangan startup lokal. Dan bisa dipastikan bisnis layanan Cloud akan terus terdorong dengan meningkatnya pertumbuhan startup lokal.

Kirsten menambahkan, dibalik kesiapan pesatnya adopsi penggunaan layanan Cloud, untuk regulasi, Indonesia masih belum bisa mendukung. Tak ayal perkembangannya masih terganjal dengan kendala penerapan teknologi di para pebisnis layanan Cloud.

“Ada beberapa tantangan, salah satunya penerapan cloud makin ketat aturannya. Memang bagus, tapi makin banyak halangan bagi perusahaan-perusahaan untuk bisa mengadopsi cloud secara lebih mudah,” ungkapnya terhadap rekan media.

Alih-alih menyalurkan kekecewaannya, ia lantas membandingkan regulasi Indonesia dengan regulasi negara tetangga, Filipina. Menurutnya untuk urusan regulasi Filipina lebih mengutamakan cloud-first, itu artinya pemerintah mendahulukan semua infrastruktur IT ke cloud, yang sangat berbeda sekali dengan regulasi Indonesia.

“Kalau regulasi Indonesia harus mempunyai data center di sini, beda dengan Filipina” tutupnya. WES