Ilustrasi Cleantech
Ilustrasi Cleantech

Teknopreneur.com— Ketergantungan terhadap energi fosil akan berdampak pada krisis energi  berkempanjangan, krisis ekonomi, dan mempengaruhi sosial masyarakat. Untuk itu Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) memetakan bauran energi baru terbarukan di wilayah Indonesia masih perlu dioptimalkan.

Menurutnya, sumber daya alam terbarukan seperti angin, air, panas bumi, batu bara, dan gas adalah modal utama untuk mengemban sumber daya energi nasional. Untuk sumber daya energi air mereka memetakan potensi menghasilkan 75 GW+ 19.3 GW, kemudian sumber tenaga surya pun dinilai berpontesi memberikan sumbangsih energi 207.8 GW yang cukup menjanjikan.

Ia menambahkan potensi lain seperti panas bumi menghasilkan 11 GW dan reserve 17.5 GW, sedangkan untuk sumber daya angin, bioenergi dan energi gelombang masing-masing menghasilkan 60.6 GW, 32.6 GW, dan 17.2 GW. Yang kemudian total perhitungan potensi  EBT nasional 441.7 GW untuk supply energi  Nasional.

Namun data realisasi riil energi bauran baru terbarukan (EBT) yang dihasilkan justru jauh api dari panggang dari perhitungan potensi yang telah dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Mereka memperhitungkan justru supply riil energi  nasional masuk  hanya 8.80 GW atau berkisar 2% dari hitungan potensi yang dilakukan.

Berdasarkan estimasi tersebut akan sangat riskan jika masih mengandalkan energi  fosil dan batu bara, minyak bumi misalnya untuk tahun ini tersedia 3.6 milar barel, yang akan habis dalam hitungan 13 tahun.

Pengusaha Butuh Insentif

Wakil Ketua Umum Bidang EBT‎ Kadin Indonesia Halim Kalla mengungkapkan, bahwa pemerintah harus  lebih memperhatikan lagi kebijakan yang berlaku, lantaran menurutnya harus ada insentif untuk para pengusaha, berupa bunga bank yang rendah, lahan yang sudah dibebaskan, serta pembebasan pengenaan pajak.

“Itu tidak apple to apple, karena di Qatar dan Arab Saudi bunga nol, insentif khsusus, lahan gratis, transmisi sudah tersedia, dan skala besar sehingga efektif,” ucap Halim.

Menurutnya, banyak dari pengusaha luar yang tertarik untuk masuk berinvestasi dalam perkembangan EBT Indonesia. Terutama  program pemerintah sudah menargetkan 23 persen EBT 2026 harus terlaksana. “23 persen EBT 2026 harus terlaksana,” ujar Halim. WES