APJII (Asosiasi Pengelola Jasa Internet Indonesia), MASTEL (Masyarakat Telematika), MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Digital Indonesia), dan Teknopreneur Indonesia dengan dukungan WANTIKNAS (Dewan TIK Nasional), BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif), dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, menggelar diskusi bersama untuk merumuskan strategi pembudayaan penggunaan aplikasi lokal dan penguatan ekosistem aplikasi lokal, yang selanjutnya didorong sebagai sebuahGerakan #appslokal.

Teknopreneur.com – Jumlah pengguna internet di Indonesia bertumbuh sangat cepat dalam tahun-tahun terakhir, tercatat mencapai angka 132 juta pengguna, dengan dominasi akses menggunakan smartphone. Sayangnya, sebagian besar aplikasi yang digunakan oleh pengguna internet di Indonesia adalah aplikasi milik asing, mulai dari untuk kebutuhan komunikasi, interaksi sosial, hiburan, hingga pekerjaan. Di mana berarti juga, sebagian besar bandwith internet harus ke luar Indonesia, sebagian besar data dan informasi tersebar ke luar Indonesia, hingga potensi bisnis pun dinikmati perusahaan di luar Indonesia. Yang berarti dalam skala makro, mengurangi kedaulatan Indonesia, terutama di dunia digital.

Menyikapi hal tersebut, APJII (Asosiasi Pengelola Jasa Internet Indonesia), MASTEL (Masyarakat Telematika), MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Digital Indonesia), dan Teknopreneur Indonesia dengan dukungan WANTIKNAS (Dewan TIK Nasional), BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif), dan Kementerian Komunikasi dan Informatika, menggelar diskusi bersama untuk merumuskan strategi pembudayaan penggunaan aplikasi lokal dan penguatan ekosistem aplikasi lokal, yang selanjutnya didorong sebagai sebuahGerakan #appslokal.

Acara yang bertajuk “Ngopi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, MENUJU KEDAULATAN DIGITAL INDONESIA MELALUI APLIKASI LOKAL” ini diselenggarakan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi dengan menghadirkan para tokoh kunci di ekosistem aplikasi lokal nasional, termasuk Pemerintah, Industri, Media, dan Akademisi.

Menurut Muhammad Andy Zaky dari MIKTI, diskusi ini dilakukan selain bicara kedaulatan digital, sekaligus dalam semangat Peringatan 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Diskusi ini bertujuan untuk menggali rumusan strategi dan langkah aksi untuk mendorong pembudayaan penggunaan aplikasi lokal dan penguatan ekosistem aplikasi lokal. Serta membuat komitmen bersama dalam pembudayaan penggunaan aplikasi lokal dan penguatan ekosistem aplikasi lokal. Selain itu, diharapkan acara ini bias membangun kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam penguatan ekosistem aplikasi lokal. Ini sejalan dengan semangat kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72,” ujarnya.

Sementara dalam sambutannya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengemukakan pandangannya tentang kedaulatan digital, dimana yang menjadi kepedulian pemerintah adalah bahwa memang sekarang ini dunia telah borderless tanpa batas dan sekat-sekat, sinergitas antara fenomena global dengan lokal mesti memberikan benefit kepada bangsa Indonesia.

“Kita memang tidak bisa menutup Indonesia dari dunia tetapi kita bisa menempatkan keberpihakan kita kepada aplikasi Indonesia, sehingga dalam perilaku digital kita menunjukkan bahwa kita menggunakan aplikasi buatan dalam negeri. Kedaulatan digital juga adalah adanya kepastian bahwa pelaku usaha aplikasi lokal juga mendapat market share yang sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya, sehingga masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna saja tetapi juga menjadi aplikasi unggulan di market share,” ujar Rudi.

Selain Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, acara ini juga turut dihadiri oleh Ketua Tim Pelaksana WANTIKNAS, Ilham Habibie, Deputi Infrastruktur Bekraf Harry Sungkari, Ketua Umum MASTEL, Kristiono dan beberapa perwakilan baik dari kementerian, asosiasi, dan para founder startup. IN