Ilustrasi Bioteknologi
Ilustrasi Bioteknologi

Teknopreneur.com – Beberapa waktu berselang diawal bulan Agustus 2017, masyarakat Indonesia dikagetkan oleh sebuah kabar yang mengejutkan, dimana sebuah perusahaan yang telah berdiri sejak 1919 dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang. Pabrik Jamu legendaris PT Nyonya Meneer merupakan salah satu tulang punggung terbesar di industry pengobatan tradisional herbal dan fitofarmaka. Fenomena ini memunculkan pertanyaan tersendiri atas eksistensi pengobatan tradisional di Indonesia yang ternyata kalah bersaing dengan pengobatan kimiawi.

Secara kuantitas, Indonesia yang memiliki beragam habitat tumbuhan herbal dan fitofarmaka sesungguhnya memiliki keunggulan tersendiri, sehingga fakta dimana PT Nyonya Meneer pailit sulit dapat dicerna masyarakat. Sebab secara produksi dan distribusi pemasaran, masyarakat Indonesia pada umumnya sangat akrab dengan produk-produk PT Nyonya Meneer atau bisa disebut dengan laris dipasaran. Alas PT Nyonya Meneer mengalami gagal bayar utang sebesar Rp7,04 Milyar dan penggugat tidak bersedia untuk menempuh keputusan damai.

Terkait dengan potensi fitofarmaka sesungguhnya memiliki kualitas yang bersaing dengan pengobatan kimia dan telah teruji secara klinis khasiatnya. Bahkan sebagai sebuah media pengobatan, fitofarmaka dianggap memiliki keistimewaan tersendiri diantara pengobatan tradisional dan herbal. Fitofarmaka adalah asupan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan diuji praklinis dengan hewan percobaan dan telah melalui uji klinis pada manusia serta bahan baku dan produknya telah terstandarisasi.

Fitofarmaka merupakan obat yang biasa disejajarkan dengan obat modern, selain itu fitofarmaka juga mulai direkomendasikan oleh dokter karena perkiraan manfaatnya terhadap penyakit tertentu cukup besar, memiliki rasio resiko dan kegunaan yang menguntungkan pasien, hal ini dapat dibuktikan karena fitofarmaka dalam produksinya telah melalui beberapa uji, yakni :

  • Uji Toksisitas : untuk mengetahui ada tidaknya efek yang beracun dalam zat berkhasiat.
  • Uji Farmakologik Eksperimental : pengujian pada hewan percobaan untuk mengetahui khasiat fitofarmaka.
  • Uji Klinik Fitofarmaka : pengujian pada manusia untuk mengetahui atau memastikan adanya efek farma kologik, tolerabilitas, keamanan dan manfaat klinik untuk pengobatan atau pencegahan gejala penyakit.

Salah satu contoh fitofarmaka yang populer adalah Stimuno yang di produksi oleh PT Ferron Par Pharmaceuticals. Stimuno terdaftar sebagai fitofarmaka karena dibuat dari ekstrak Meniran Phyllanthus Niruri sebagai imunomodulator (memperbaiki sistem imun) yang telah terstandarisasi dan telah melalui uji pra klinik dan uji klinik.

Memiliki Ragam Habitat Pengobatan Alami yang Banyak, Namun Menjadi Tamu di Negeri Sendiri.

Sebagai salah satu pengobatan alternative yang dapat dipertanggungjawabkan pemanfaatannya, Fitofarmaka akrab digunakan untuk beberapa penyakit tertentu seperti Diare. Dengan mengonsumsi Fitofarmaka dianggap pasien dapat sembuh dengan alamiah dan tak terkontaminasi bahan-bahan kimiawi pengobatan konvensional. Yang menjadi ironi dari itu semua adalah Fitofarmaka merupakan potensi pengobatan alami yang besar, namun masih dianggap sebagai obat sekunder dan masih sedikit dianjurkan oleh dokter. Padahal ragam habitat tumbuhannya sangat banyak di Indonesia dan dapat dijadikan sebagai sumber daya pengobatan yang sustainable.

Minimnya perhatian terhadap pemanfaatan khasiat Fitofarmaka juga menjadi kendala tersendiri, sehingga ketika belum dianjurkan secara umum di dunia pengobatan konvensional, maka pemanfaatannya pun pada akhirnya masih minim pula. Masyarakat masih menganggap bahwa Fitofarmaka merupakan pola pengobatan alternative, sementara sudah melalui pengujian pra klinis dan pengujian klinis yang modern. Sehingga tampak jelas sekali ketimpangan yang ada dan membuat banyak produsen pengobatan Fitofarmaka mengalami kesulitan dalam pemasarannya.

Keberpihakan Pemerintah Indonesia Terhadap Pengobatan Alami.

Untuk penggejalaan pemanfaatan khasiat Fitofarmaka, tentunya dibutuhkan peran dan kontribusi banyak kalangan terutama Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Kenapa hal ini harus dilakukan karena ada beberapa sebab:

  1. Fitofarmaka secara khasiat dan manfaat aman serta kualitasnya sejajar dengan pengobatan konvensional.
  2. Proses pengobatan Fitofarmaka juga sudah melalui uji medis ilmiah yang juga sama dengan pengobatan konvensional.
  3. Secara Nilai Keekonomian, industri pengobatan alami terutama Fitofarmaka merupakan salah satu simpul industry Ekonomi Kerakyatan yang melakukan kerja-kerja keekonomiannya secara tradisional dan banyak menyerap tenaga kerja rakyat di pedesaan. Yang artinya dari sisi bisnis harus diberikan proteksi terhadap keberlangsungan usaha pengobatan alami.
  4. Dilihat dari sisi potensi produksi Fitofarmaka juga dapat menghasilkan sebuah produk pengobatan sustainable, sebab ragam habitat tumbuhannya banyak di Indonesia, sehingga ke khawatiran akan ketidakmampuan untuk memenuhi permintaan pasar bisa diatasi.
  5. Sebagai usaha kerja rakyat kebanyakan industry pengobatan alami merupakan jenis usaha home industry di pedesaan, jadi sesungguhnya produksi Fitofarmaka merupakan urat nadi perekonomian di pedesaan Indonesia, sehingga menjadi wajar apabila Pemerintah Indonesia didorong keberpihakannya terhadap Fitofarmaka.

Oleh sebab itu kebutuhan untuk menjadikan pengobatan alami di Indonesia sebagai salah satu bentuk upaya meningkatkan atau menjaga perekonomian rakyat Indonesia perlu diperhatikan dan didukung oleh berbagai kalangan. Dan sebagai salah satu ciri khas tradisional yang berkembang di masyarakat tetap terjaga kelestariannya, juga agar Fitofarmaka menjadi tuan rumah di bidang kesehatan masyarakat di Indonesia. Sehingga di masa yang akan datang ketergantungan masyarakat Indonesia atas pengobatan konvensional yang bersifat kimiawi dapat teratasi dengan baik. LIN