Malaysia Biodiesel Association (MBA) dikabarkan telah memperkirakan produksi biodiesel di negeri jiran itu pada 2017 akan sedikit berubah jika dibandingkan 2016. Menurut MBA, prakiraan sebelumnya telah direvisi turun sejak awal tahun karena penundaan memenuhi mandat biofuel.

Teknopreneur.com – Setelah pernah disebutkan akan meningkatkan jumlah produksi biodieselnya, baru-baru ini Malaysia Biodiesel Association (MBA) dikabarkan telah memperkirakan produksi biodiesel di negeri jiran itu pada 2017 akan sedikit berubah jika dibandingkan 2016. Menurut MBA, prakiraan sebelumnya telah direvisi turun sejak awal tahun karena penundaan memenuhi mandat biofuel.

“Pada tahun lalu produksi mencapai setengah juta ton biodiesel. Kecuali kami bergerak menuju B10 atau B7 di yahun ini, saya kira produksinya kurang lebih akan sama dengan tahun lalu,” ujar U.R. Unnithan, presiden MBA, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Ada permintaan di Malaysia agar menaikkan kandungan biodiesel minimal di sektor transportasi hingga 10% atau yang dikenal sebagai B10. Begitupula dengan sector industri dengan minimal kandungan 7% atau dikenal dengan istilah B7. Saat ini di Malaysia  berlaku mandat 7% minimal biodiesel pada sektor transportasi dan tidak ada pengaturan untuk sektor industri.

“Hingga mandat itu diimplementasikan, kami tidak melihat akan adanya peningkatan produksi. Bahkan jika produksi biodiesel naik, volume akan mencapai angka 600.000 ton” lanjut Unnithan.

Penundaan pemberlakuan, berarti mandat biodiesel baru belum dapat dilaksanakan. Para pelaku industri berharap campuran yang meningkat akan menggunakan lebih banyak persediaan minyak sawit pada produsen komoditas sawit terbesar di dunia ini, yang pada giliranya nanti akan meningkatkan harga dan menggurangi penimbunan.

Sebelumnya, Pada bulan Maret, Unitthan  mengatakan Malaysia akan memproduksi 900.000 ton biodiesel pada tahun 2017, dengan asumsi mandat B10 dan B7 diimplementasikan. Angka ini melonjak sekitar 80% dari 500.000 ton pada tahun lalu, sedangkan produksi biodiesel Indonesia diestimasi meningkat menjadi 3,5 juta ton tahun ini, dari 3 juta ton pada 2016, seperti dilansir The Star.

Berbicara di sela 28th Global Palm and Lauric Oils Conference di Kuala Lumpur, pada awal Maret lalu, Unnithan mengatakan proyeksi itu didasarkan pada harga minyak sawit mentah (CPO) dan minyak mentah saat ini. Pada penutupan perdagangan Selasa, harga CPO turun 1,5% menjadi RM2.851 per ton.

Sementara Indonesia telah sukses dengan mandatori B15 baik pada transportasi maupun industri di tahun 2015 dan B20 pada tahun 2016. Mandatori ini akan terus meningkat hingga mencapai angka 30% pada tahun 2025. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat program pemerintah, yakni B15 dan B20 mampu mendorong kenaikan serapan biodiesel dalam negeri.

Melalui program tersebut, pemerintah mewajibkan bahan bakar minyak jenis solar dicampur dengan minyak kelapa sawit sebesar 20 persen. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Bayu Krisnamurthi mengatakan, dengan kebijakan itu, serapan kelapa sawit mengalami peningkatan pada 2016 berkat program yang dijalankan sejak 2015.

“Serapan biodiesel dalam negeri meningkat. Program B15 pada 2015, B20 pada 2016 membuat serapan biodiesel dalam negeri mencapai 2,7 juta kiloliter,” ujar Bayu pada Februati 2017 silam. IN