Tech Talk Report 31 Juli 2017

152
Tech Talk Report Juli 2017

Potensi energi terbarukan di Indonesia merupakan tantangan yang luar biasa, dimana pemanfaatan akan menjadi cukup signifikan di masa yang akan datang. Pembangkit listrik tidak cukup yang sekarang karena kalau kita kembali ke UU Energi dan juga UU Kelistrikan tanggung jawab PLN dalam hal kelistrikan itu ada lima yakni, yang pertama adalah liability yaitu menyediakan listrik dengan kapasitas yang cukup.

Yang kedua adalah kehandalan artinya listrik dengan kapasitas yang cukup harus handal dimana kualitas menjadi prioritas. Yang ketiga adalah accessibility supaya listrik yang cukup dan handal ini dapat dirasakan masyarakat maka akses harus terjangkau, oleh sebab itu harus membangun pembangkit listrik sampai ke pelosok juga membangun transmisi dan gardu induk. Memang tidak semua wilayah perlu dibangun transmisi karena Indonesia unik geografisnya, untuk pulau-pulau besar seperti Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan akan dibangun interkoneksi. Tetapi untuk Nusa Tenggara, sebagian Papua, Maluku dan Kepulauan yang banyak sekali pulau-pulau kecil akan kita bangun secara off grade isolated, jadi dikombinasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan kelistrikan setempat dan bagaimana kondisi geografis dari masing-masing wilayah.

Dari target yang ada maka dipetakan dari masing- masing regional, jadi dapat diukur ketersediaan listriknya. Jaringan yang terpanjang adalah di Sumatera 23.000 km sircuit karena berdasarkan perhitungan PLN kebutuhan listrik termasuk banyak di Sumatera dan memiliki pasokan energi primer yang murah yaitu batubara di selatan Sumatera. Tetapi permintaan listrik ada di utara Sumatera, oleh sebab itu karena tingginya permintaan Sumatera bagian utara digunakan gas sebagai energi primer dan pasokan gasnya dari Papua, kalaupun menggunakan batubara dikirim dari Kalimantan.

Ini adalah masalah infrastruktur dan untuk mengatasinya PLN harus membuat tol listrik, supaya listrik murah pasokan batubara diambil dari selatan Sumatera ke utara. Oleh karena itu dalam prioritas kerja PLN adalah membangun transmisi di Sumatera, demikian juga di Sulawesi dan di Kalimantan, sekarang semuanya belum terhubung. Di Kalimantan ada potensi energi batubara, potensi energi air, semuanya ini adalah energi murah dan Kalimantan memiliki cadangan mineral yang besar, artinya kalau dibangun industri di Kalimantan juga dampaknya akan besar, tentunya untuk membangun industri mineral processing membutuhkan pasokan listrik yang handal dan murah, karena 50 persen apex dari industri mineral processing adalah biaya listrik. Kalimantan ideal kalau Indonesia ingin membangun integrated power plant, oleh sebab itu transmisinya harus diperkuat dan konsep tambangnya pun harus dikembangkan di Kalimantan.

Apabila ingin membangun green belt maka yang pertama harus jadi prioritas adalah Sulawesi, potensi dari energi terbarukan di Sulawesi adalah yang terbesar di Indonesia, jadi hydro power plant di Sulawesi dominan, kemudian pada akhir tahun 2017 wind power plant pertama akan COD. Tantangannya adalah ketika penetrasi energi terbarukan ini meningkat di dalam suatu sistem, maka kehandalannya harus terus improve grade dan menggunakan small grade karena hydro power plant dan wind power plant sangat tergantung pada cuaca, oleh sebab itu PLN harus terus improve grade yang ada agar power plant handal di segala kondisi.

Demikian pula di Maluku dan Papua, memiliki potensi energi hydro yang besar, potensi untuk pengembangan industri juga besar, dan energi terbarukan dapat di integrated di Maluku dan Papua. Dapat diambil kesimpulan bahwa potensi energi terbarukan di Indonesia cukup besar, dan tantangannya sekarang adalah potensi energi terbarukan yang besar tersebut ada di luar Jawa, sedangkan industri dan bisnis masih dominan di Jawa, jadi PLN harus mengkreasikan permintaan baru dan investasi baru.

Ada 67.400 kilometer sircuit transmisi yang akan dibangun dua kali lipat dari apa yang Indonesia miliki sekarang, selama 70 tahun Indonesia telah memiliki sekitar 30.000 kilometer sircuit dan harus membangun dua kalinya lagi dalam 10 tahun kedepan. Yang keempat adalah affordability yang artinya listrik yang sudah masuk ke pelosok-pelosok ini harganya harus terjangkau oleh masyarakat, akan bahaya ketika jalur listrik sudah sampai didepan rumah tetapi masyarakat tidak sanggup membeli.

Kalau sekarang gelap bersama, tetapi kalau sampai listriknya sudah terkoneksi tetapi tak sanggup membeli jangan sampai terjadi. Affordibility merupakan tantangan PLN dihari ini dan hal ini harus didesain secara sistem, agar ketika target akses listrik tercapai, harganya bisa terjangkau. Kemudian yang kelima adalah sustainability yang terkait dengan energi terbarukan, itu sebabnya PLN menjadikan energi terbarukan sebagai prioritas dan energi terbarukan adalah solusinya. Sustainability kita wajibkan karena PLN tahu bahwa energi fosil ada batasnya.

PLN tidak hanya menyiapkan pasokan listrik untuk kebutuhan saja, tetapi PLN juga harus membuat cadangan, minimal 30 persen dari beban puncak sistem yang telah terintegrasi. Sesungguhnya saat ini sudah tidak ada lagi di suatu wilayah yang sistem integrasinya defisit, semua wilayah sudah ada cadangan tetapi belum memenuhi target 30 persen. Pada 2019, beberapa wilayah sudah COD dan transmisinya sudah cukup, yang sedang dirintis adalah keterjangkauan harganya dan bagaimana PLN mampu mengelola agar segala progress yang sudah dibuat dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Artinya dalam dua tahun ini semua pihak yang terkait dengan kedaulatan energi telah memberikan kontribusi yang bagus, tidak ada lagi wilayah yang defisit. Kemudian adalah strategi PLN untuk meningkatkan ratio elektrifikasi 9 persen dan hal ini merupakan hal yang tersulit karena mencakup pulau-pulau terbesar, terdepan dan perbatasan. Karena tingkat kesulitan instalasinya tinggi maka PLN mengadakan beberapa perubahan, yang pertama adalah Distribution Generalisation yang menggunakan sistem mobile atau menggunakan sistem hybrid, potensi energi terbarukan apapun harus dioptimalkan. Kemudian berikutnya adalah membangun transmisi langsung di sumber- sumber energinya, seperti di tambang batubara, di mulut tambangnya.

Mengapa PLN masih membahas soal pembangkit listrik tenaga batubara karena selain lebih murah harganya, kebijakan nasional masih prioritaskan energi batubara sebesar 50 persen karena Indonesia secara keadaan dan kondisinya berbeda dengan negara lain, lalu 25 persen adalah energi gas dan 25 persen lainnya energi terbarukan. Kemudian reserve margin yang dibahas sebelumnya yakni target pengadaan cadangan listrik.

Bahwa ada 12.500 desa yang belum teraliri listrik adalah merupakan pekerjaan rumah bersama dan harus diselesaikan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Dalam memenuhi target kemandirian energi dan ketahanan energi nasional harus dioptimalkan potensi daerah masing-masing, dan apabila mau besar bisa digabungkan potensi energi terbarukan dengan industrial development di suatu area sehingga dapat mendorong permintaan dan energi terbarukan dapat memberikan nilai tambah serta berkelanjutan dan harganya lebih kompetitif.

Untuk PLTS, PLN telah membangun beberapa transmisi dan pada implementasinya kita mengundang beberapa investor. PLN juga telah mengembangkan geothermal, saat ini geothermal telah mencapai 1.700 mw, targetnya pada 2025 adalah 7.200 mw, PLN pun tidak menutup mata bahwa resiko pada eksplorasinya cukup besar tapi tidak boleh menyerah. Efisiensi biaya produksi listrik pun jadi bahan pertimbangan PLN dalam penggunaan sumber daya energi yang akan dipakai untuk pembangkit listrik, sehingga harga yang terjangkau pun tercapai. Oleh sebab itu apabila ada penghitungan harga mineral yang tak meyakinkan maka PLN pun melakukan peninjauan kembali atas kebijakannya dan mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan jarak dan kondisi wilayah antara pembangkit listrik dengan sumber daya energinya.

Penambahan pembangkit listrik energi terbarukan PLN ada 21.500 mw dalam 10 tahun kedepan dan PLN sangat terbuka dengan seluruh potensi energi yang ada di Indonesia serta akan terus mengupayakan berbagai bentuk inovasi dan pengembangan jenis- jenis pembangkit listrik yang ada. Saat ini target energi terbarukan sesungguihnya sudah mencapai 12 persen yang artinya kita sudah setengah perjalanan dari 25 persen komposisi total penggunaan energi listrik di Indonesia, dan semua pengerjaan pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan ini bukanlah hal yang mustahil. LIN