Tech Talk II : E - Commerce, Menjaga Pasar Sendiri

Pada acara Indonesia E-commerce Summit and Expo (IESE) 2017, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara juga memberikan arahan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia bisa mencapai 11% dari total produk domestik bruto (PDB) pada 2020 atau sekitar US$130 miliar.

Pemanfaatan ekonomi digital juga sejalan dengan target pemerintah dalam hal pemerataan. Ekonomi digital memiliki tiga fokus utama mulai dari ekonomi sharing (berbagi), pengentasan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), serta inklusi keuangan. Dalam hal ekonomi sharing, Rudiantara memberikan contoh kasus Gojek yang berhasil mengubah pola transportasi konvensional. Bahkan, aplikasi Gojek ini menarik bagi kota lain, seperti kota Rio de Jeneiro, Brasil yang memiliki kondisi yang hampir sama dengan Jakarta.

Untuk fokus pengentasan UMKM, Menteri mengambil contoh seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Elevania yang memfasilitasi para pengusaha UMKM di pelosok tanah air untuk bisa memasarkan produknya tidak hanya di dalam negeri, bahkan luar negeri. Dan dalam inklusi keuangan, Menteri mencontohkan salah satu bank yang membuat layanan nomor ponsel menjadi nomor rekening, dimana ini merupakan salah satu terobosan yang bisa dijajaki dunia perbankan.

Rudiantara juga mengingatkan bahwa ke depannya ekonomi Indonesia tidak akan lagi berfokus pada Sumber Daya Alam (SDA) namun beralih ke basis layanan (services). Oleh karena itu, dunia usaha yang masih menggunakan cara- cara konvensional diharapkan mulai mengadopsi basis digital agar tidak tergerus dengan teknologi yang berkembang sangat pesat.

Tak salah jika sebelumnya pemerintah bercita– cita menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia. Karena pertumbuhan ekonomi digital Indonesia terus meningkat terlebih pasar e-commerce. Berdasarkan data perusahaan riset global McKinsey Indonesia merupakan salah satu pasar e-commerce yang bertumbuh paling pesat di dunia. Pada 2025, setidaknya Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan bertambah sekitar Rp2.000 triliun dari sektor ekonomi digital.

Seperti diketahui, perusahaan e-commerce besar dewasa ini tengah memperhatikan pasar e-commerce yang lebih besar seperti China dan India sebagai blueprint untuk membuat pasar Indonesia bertumbuh lebih cepat. Cara ini dikenal oleh investor dan stakeholder sebagai teori time capsule.

Kini, e-commerce mewakili lebih dari 10 persen keseluruhan ritel di China. Indonesia sendiri hanya dalam beberapa tahun telah menunjukkan situasi pasar yang serupa dengan adanya pergeseran paradigma yang ditimbulkan oleh tren e-shopping. Bahkan sejumlah ahli juga memprediksi online shopping akan menyumbangkan sekitar 7%-8% pasar ritel lokal pada tahun 2020, naik dari angka sekitar 1%.

Kendati demikian, bukan berarti e-commerce Indonesia selalu mengalami jalan mulus. Masih ada beberapa persoalan yang berpotensi menghambat pertumbuhannya. Terlebih Indonesia dinilai sebagai pasar potensial di Asia Tenggara, sementara Asia tenggara digadang-gadang akan menjadi kawasan penting untuk e-commerce di masa mendatang. Hal ini bisa dilihat dari persentase penjualan online yang baru 2,5% dibanding keseluruhan penjualan retail. Angka ini masih jauh di bawah penjualan online di Tiongkok, misalnya yang mencapai 12%. (Lin)