Tech Talk III : Fintech, Soal Regulasi dan Inklusivitas Keuangan

Fintech merupakan hal yang baru di Indonesia, dan kita masih di tahap awal. Dengan 88 Juta pengguna Internet di Indonesia yang adalah 34 persen dari total penduduk maka potensi untuk berkembangnya Fintech sangat besar. Hampir setiap hari kita membaca di Koran tentang Fintech, dan keingintahuan tentang Fintech ini sangat besar.

Fintech secara pelayanan terdiri atas 3 hal yakni Pembayaran, Lending atau Peminjaman dan Konsultasi, serta semuanya menggunakan teknologi mobile. Dan kedepannya akan menggunakan Artificial Inteligence yang nantinya akan mengedepankan keamanan dan kenyamanan serta dimasa depan akan terkait dengan inklusivitas keuangan. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sepertiga dari penduduk Indonesia memiliki rekening perbankan, meskipun masih sedikit kuantitasnya tetapi bisa dikatakan semua orang saat ini memiliki handphone.

Jadi meskipun hanya sedikit orang memiliki rekening perbankan tetapi memiliki handphone maka teknologi ini memiliki potensi besar untuk menanggulangi persoalan inklusivitas keuangan. Dengan menggunakan layanan Fintech berbagai pelayanan keuangan akan banyak kemudahan, kenyamanan, lebih murah, lebih cepat dan kemudahan. Indonesia sekarang negara dengan posisi sebagai lower middle income dan seringkali identik dengan middle income trap, serta bagaimana kita bangsa Indonesia bisa keluar dari persoalan itu dengan menggunakan kemudahan teknologi Fintech.

Jadi Fintech adalah sebuah alat yang benar untuk kemudahan pelayanan keuangan kita dan juga dapat membantu memberdayakan perekonomian rakyat, Fintech juga mesti dilihat sebagai teknologi yang dapat menopang perekonomian bangsa, selain memiliki sisi bisnis juga memiliki potensi untuk perkembangan bangsa dan negara. (Lin)