Di sana—yang tersembunyi dari sinar matahari—alga diberi makan apa yang mungkin disamakan dengan jus pepaya.

Teknopreneur.com – Peneliti Amerika Serikat meriset pemanfaatan pepaya yang terbuang sebagai bagian dari upaya sistem zero waste untuk menghasilkan minyak alga sebagai bahan baku biodiesel.

Ahli patologi tanaman di Agricultural Research Service (ARS) Hilo, Hawai, Lisa Keith telah memimpin sebuah upaya untuk menghasilkan biodiesel dengan menggunakan sejenis ganggang hijau yang dikenal sebagai prototipe Auxenochlorella (dahulu Chlorella protothecoides).

Sebagaimana disebutkan dalam biofuels-news.com, Lisa Keith juga menggunakan pulp dari pepaya yang tidak diserap pasar karena dianggap terlalu kotor, cacat, atau rusak.

Pada bagian inilah ilmu dan teknologi  berperan seiring dengan dukungan dari pemerintah negara bagian Hawaii, dengan harapan dapat meringankan ketergantungan negara terhadap impor bahan bakar minyak berbasis minyak bumi.

Sistem yang dirancang oleh Keith dan koleganya menyerukan untuk menumbuhkan ganggang di tong raksasa, yang disebut “bioreaktor.” Di sana—yang tersembunyi dari sinar matahari—alga diberi makan apa yang mungkin disamakan dengan jus pepaya.

“Sementara hampir semua alga mampu menggunakan energi dari cahaya untuk menghasilkan molekul organik dari karbon dioksida dan air, beberapa alga, termasuk prototipe Auxenochlorella, juga dapat menyerap molekul organik seperti gula dari sumber alami seperti jus pepaya,” ujar Keith. Keith bekerja sama dengan ARS Daniel K. Inouye, yang berbasis di Pusat Penelitian Pertanian Wilayah Pasifik AS di Hilo.

Dalam prosesnya, alga yang produktif ini akhirnya menyimpan 60% berat selulernya di lipid. Sejenis minyak yang disebut sebagai Lipid in, pada gilirannya, menyediakan bahan yang dimanfaatkan untuk membuat biodiesel.

Tim Keith menganggap sisa-sisa alga dari proses ekstraksi minyak, yang disebut “algae meal,” dapat memberi sumber makanan ternak murah kepada petani Hawaii serta memotong biaya impor. Pemanfaatan papaya apkir ini juga bisa memberi jalan bagi para petani untuk mengatasi beberapa kerugian sekitar sepertiga hasil panen pepaya  di Hawaii yang terbuang karena cacat. Menurut Agricultural Research Service kerugian tersebut senilai US$11 juta dan kini bisa dihindari.

Ini semua adalah bagian dari apa yang oleh Keith dan rekan-rekannya sebut sebagai sistem “zero-waste”.

“Tujuannya adalah untuk membuat pertanian lebih menguntungkan dan untuk mengatasi masalah keamanan makanan dan energi di Hawaii,” pungkasnya. IN