Kajian Ekosistem Startup Indonesia

Digitalisasi kian tak terbendung lagi. Tahun 2016 disebut-sebut menjadi sebuah era bagi perusahaan tradisional untuk mulai menjajaki operasional berbasis digital untuk menjawab tantangan di era yang serba terhubung dengan internet. Era digitalisasi juga berarti bertumbuhnya penggunaan mobile internet secara global dan pertumbuhan pasar smartphone.

Dalam hal penggunaan mobile internet secara global, International Data Center (IDC) memperkirakan bahwa pada tahun 2016 pengguna mobile internet akan menembus angka dua miliar dan Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan yang terbesar. Di sisi lain, meskipun penjualan komputer menurun di kuartal terakhir tahun 2015, IDC memperkirakan bahwa pada kuartal kedua tahun ini akan meningkat kembali.

Sementara pada 2015 silam, dalam sebuah survei disebutkan bahwa konsumen di 24 negara—termasuk Indonesia—kini semakin cerdas dan selektif dalam memilih produk dan layanan digital untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Dalam hasil riset bertajuk Digital Consumer Survey 2015 dikatakan perkembangan teknologi digital telah memicu penduduk seluruh dunia untuk saling terhubung satu sama lain tanpa mengenal usia. Hal ini memunculkan generasi baru bernama screenager.
Perkembangan ini juga terjadi di Indonesia, di mana 93 persen konsumen digital memiliki telepon genggam, dan 77 persen di antaranya menggunakan jenis telepon pintar ( smartphone ). Selain itu, meningkatnya jumlah pengguna teknologi dan layanan digital juga disertai perilaku konsumen yang menginginkan pengalaman
Digitalisasi kian tak terbendung lagi. Tahun 2016 disebut-sebut menjadi sebuah era bagi perusahaan tradisional untuk mulai menjajaki operasional berbasis digital untuk menjawab tantangan di era yang serba terhubung dengan internet . Era digitalisasi juga berarti bertumbuhnya penggunaan mobile internet secara global dan pertumbuhan pasar smartphone .

Situasi industri digital global Yang Terus Meningkat

Perkembangan dunia digital ini juga disinyalir membuka kesempatan yang sangat lebar bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam industri digital. Golden Gate Ventures, sebuah perusahaan venture capital , merilis sebuah laporan riset terkait pembandingan tren investasi di Asia Tenggara dengan investasi di China dan India. Dikatakan bahwa pertumbuhan investasi di Asia Pasifik akan terbagi dalam empat wilayah prospektif, dengan urutan (1) Singapura, (2) Indonesia, Malaysia dan Thailand, (3) Filipina dan Vietnam, (4) Myanmar. Singapura menjadi wilayah paling bertumbuh lantaran Singapura merupakan penghubung dan destinasi pusat bagi para investor di Asia Tenggara.

Sekurangnya US$50 juta akan disiapkan dalam manuver ini. Pada putaran pertama, Golden Gate sukses menanamkan 25 investasi yang menghabiskan sekitar US$35 juta dengan dana yang bersumber dari gabungan beberapa investor, di antaranya Temasek, Eduardo Saverin (Co- Founder Facebook), dan Monitor Capital Partners. Visi yang ingin dicapai oleh Golden Gate Ventures ialah penguatan hubungan antara Silicon Valley dan Asia, dalam kaitannya dengan pengembangan Startup.

Menariknya, Indonesia juga menjadi prioritas berikutnya yang akan bertumbuh. Riset mengatakan komoditi Startup berbasis teknologi masih akan bertumbuh secara signifikan ke depan. Terlebih komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sebentar lagi akan dimulai yang diyakini akan memberikan spirit lebih bagi bertumbuhnya inovasi di wilayah Asia Tenggara.

Golden Gate Ventures juga melihat pertumbuhan Year over Year segmen e-commerce B2C (business to costumer) di Indonesia sangat menarik untuk terus digarap. Untuk Startup yang berbasis di Indonesia, Golden Gate Ventures sampai saat ini sudah mengucurkan pendanaan ke beberapa Startup, portal e-commerce Bilna menjadi salah satunya. Bersama dengan venture capital lain DG Incubation dan TMS Entertainment, pendanaan seri A tersebut dikucurkan.

Sementara dalam grafis World Startup Report yang dirilis oleh The Economist dan memuat tiga perusahaan Startup terbesar di 50 negara, industri digital Indonesia belum menghasilkan Startup Indonesia yang memiliki nilai pasar di atas US$1 miliar — atau US$100 juta sekalipun. Untuk pasar Indonesia, grafis World Startup Report menunjukkan Tokobagus dan Kaskus menduduki posisi pertama dan kedua dengan nilai pasar yang sama, yakni mencapai US$80 juta atau sekitar Rp933 miliar.

Di posisi ketiga, situs Detik yang kini dinaungi oleh salah satu grup perusahaan terbesar di Indonesia yakni CT Corpora Group, dilaporkan memiliki nilai pasar yang mencapai US$40 juta atau setara Rp466 miliar. Jika dibandingkan dengan lima negara Asia Tenggara lain yang termasuk dalam grafis World Startup Report, Indonesia hanya unggul ketimbang Filipina dalam hal nilai pasar Startup terbesarnya. iRemit pada segmen pembayaran online sebagai perusahaan internet terbesar di Filipina memiliki nilai US$78 juta.

Untuk kawasan ini, Singapura yang mengandalkan perusahaan Garena yang memiliki nilai pasar mencapai US$1 miliar, dan Vietnam yang berbangga dengan VNG dengan nilai yang sama. Garena dan VNG merupakan perusahaan Internet yang memiliki berbagai macam produk, dari permainan hingga jejaring sosial. Malaysia menyusul dengan MOL pada segmen pembayaran online yang bernilai US$800 juta dan Thailand dengan AsiaSoft Corp. pada segmen permainan online bernilai US$181 juta.

Di skala global, Amerika Serikat, China, Jepang, dan Korea Selatan adalah yang terdepan untuk nilai pasar dan kematangan ekosistem dengan Google sebagai Startup “Kami menyebutnya, one belt one road (satu sabuk satu jalan),” Direktur Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Siber China (Cyberspace Administration of China – CAC), Li Yuan.

Afrika Selatan sendiri memiliki Naspers yang memiliki kapitalisasi pasar hingga US$52 miliar, tapi perusahaan nomor dua dan tiga tidak mencapai nilai $100 juta. China tidak saja berambisi membuat semua warga negaranya tersambung ke fiber optik, negara ekonomi terbesar kedua di dunia ini berambisi menyambungkan lagi Barat dan Timur, dari Eropa sampai ke Asia Tenggara. Inilah Jalur Sutera modern. Indonesia Sangat Menjanjikan Industri kreatif berbasis digital memiliki prospek bisnis cerah di Indonesia ke depan. Terlebih lagi, dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta, menjadikan Indonesia sebagai negara potensial bagi pasar industri kreatif digital.

Dengan pasar sepotensial ini, seharusnya industri kreatif digital di Indonesia, dalam beberapa tahun ke depan dapat berkembang pesat. Namun untuk memaksimalkan potensi tersebut, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang siap dan memiliki talenta dalam bidang digital atau teknologi Informasi (TI).

Saat ini data potensi ekonomi digital Indonesia bisa dilihat dari nilai transaksi e-commerce yang sangat besar. Tahun 2013, nilai transaksi e-commerce tercatat sebesar 8 miliar dollar AS atau setara Rp107,9 triliun. Di 2014 angka ini berkembang hingga US$12 miliar AS atau setara Rp161,9 triliun. Nilai transaksi tersebut diprediksi bakal terus meningkat hingga mencapai 24,6 miliar dollar AS atau setara Rp331,9 triliun pada 2016.

Keseriusan pemerintah dalam menggarap industri kreatif digital salah satunya ditunjukan dengan meluncurkan Roadmap E-commerce Nasional dengan nilai US$130 miliar. Salah satu caranya dengan menciptakan 1.000 teknopreneur dengan nilai bisnis yang ditargetkan mencapai 10 miliar dolar AS pada tahun 2020.

Di Indonesia ada 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna perangkat telepon pintar. Pada tahun 2020, diperkirakan pengguna internet sudah mencapai 219 juta, sementara pengguna smartphone akan berjumah 92 juta, sungguh suatu peningkatan dan angka yang
fantastis. Potensi ekonomi yang dimiliki industri digital di Indonesia sangat besar dan merupakan cikal bakal ekonomi raksasa yang mampu menyaingi industri tradisional seperti manufaktur, logistik dan lain-lain.

Analis dari Ernst & Young mendata pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air setiap tahun meningkat 40 persen. E-commerce hanya satu dari sekian banyak dari potensi industri ekonomi kreatif digital. Masih ada game developer, animasi, dan lainnya yang saat ini terus berkembang di Indonesia.

Potensi yang demikian besar di dunia industri kreatif digital terutama e-commerce rupanya mendorong e-commerce dari luar negeri mengincar Indonesia sebagai pasar. Dengan jumlah penduduk di kisaran 250 juta, sementara pengguna internet semakin meningkat setiap tahunnya, Indonesia adalah pasar empuk. Apalagi jika melihat kebiasaan masyarakat yang kian menyukai belanja online dan memanfaatkan berbagai kemudahan yang ditawarkan era transformasi digital dewasa ini.

Bahkan Indonesia sering kali dijadikan sebagai negara acuan dalam bidang e-commerce setelah Cina dan India, terlihat dari prediksi pertumbuhan penjualan pada 2016, Indonesia tumbuh sebesar 22 persen sementara India hanya 0,24 persen dan 0,15 persen secara global.

Hal ini juga menjadikan e-commerce menjadi salah satu sektor yang masih diminati sebanyak 13 persen investor dalam berinvestasi di tahun 2016. Selain itu, bidang yang menjadi daya tarik bagi konsumen maupun investor seperti kehadiran layanan On Demand juga FinTech akan menjadi sektor yang semakin bertumbuh di 2016 dengan masing-masing porsi investasi diperkirakan sebesar 38 persen dan 11 persen.

Dalam prediksi Dailysocial.id disebutkan e-commerce , On Demand service, dan FinTech masih memliki daya tarik yang cukup besar di tahun 2016. Dengan perkembangan mobile dan mulai berubahnya gaya hidup masyarakat ke digital, ketiga sektor tersebut akan semakin mempermudah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Seperti misalnya layanan On Demand kini tidak hanya terbatas pada jasa delivery makanan maupun transportasi, tetapi ada juga layanan asisten pribadi virtual. FinTech juga salah satu sektor yang berkembang secara cepat, dengan kondisi masyarakat Indonesia yang hanya 19 persen yang terjamah produk keuangan modern, FinTech ingin menjangkau masyarakat yang belum terjamah tersebut agar lebih mengenal dan kemudian menggunakan produk keuangan modern. Namun demikian, Presiden Joko Widodo menyatakan pertumbuhan Startup digital di Indonesia masih lambat. Dikatakannya dalam memberikan sambutan di acara Indonesia E-commerce Summit & Expo (IESE) 2016.

Dalam pidato sambutannya, Presiden Jokowi menyatakan “pusing” dengan ketertinggalan perkembangan “Startup” Indonesia dibanding negara lain. Sebelumnya, Jokowi pernah berkunjung ke Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa, salah satu agendanya untuk melihat perkembangan Startup di negara-negara tersebut. Presiden Jokowi mengatakan, saat ini fokus pemerintah adalah bagaimana mempercepat langkah yang dibutuhkan supaya ketertinggalan perkembangan Startup tidak terlalu jauh.

Caranya, dengan mempercepat developer dan Startup untuk mengejar negara-negara yang mulai jauh lebih awal dari Indonesia. Serta, membentuk ekosistem yang akan memungkinkan Startup Indonesia berkompetisi dengan negara-negara lain.

Menurut dia, Startup bisa berkembang jika benar-benar dipikirkan oleh pemerintah serta anggarannya juga disiapkan dengan baik.
“Thailand sudah menyiapkan Rp7 triliun. Kalau kita tidak bisa melebihi mereka kita akan ditinggal. Kalau ditantang anak muda berani, tapi hitungannya suka tertinggal, saya juga mengalami itu. Masuk ke jurang,” lanjutnya.

Ada Potensi Ada Kendala

Dari sebuah riset yang dilakukan tim Teknopreneur di Jakarta ditemukan fakta bahwa pertumbuhan industri kreatif lebih pesat dibandingkan dengan industri lainnya di satu dekade terakhir yang selain ditunjukkan dengan angka pertumbuhan, juga dilakukan pembentukan institusi dalam jajaran pemerintah, yang jelas menunjukkan keseriusan.

Ditemukan pula fakta bahwa para pelaku industri kreatif digital, bisa dikatakan adalah perusahaan rintisan atau Startup. Sebagai Startup tentu saja mereka bukanlah badan usaha yang besar dan memiliki infrastruktur serta modal yang kuat. Bahkan sebagaimana usaha yang tengah dirintis, kebanyakan founder Startup tidak atau sedikit sekali memiliki yang pengalaman bagaimana mengelola sebuah usaha.

Seperti yang diungkapkan oleh founder Bukalapak. com, Ahmad Zaky. Menurutnya, setiap usaha memiliki kendalanya masing-masing. Namun bagi Startup kendalanya bisa berlipat-lipat, hal ini tidak terlepas dari minimnya pengalaman yang dimiliki oleh para founder . “Kebanyakan founder tidak paham bagaimana mengelola Startup yang dibangunnya tersebut sehingga bisa berkembang. Jangankan mengelola usaha, kebanyakan founder itu ya orang teknik jadi wajar kalau tidak paham bagaimana mengelola usaha atau soal manajemen,” ujarnya.

Senada dengan Zaky, pengamat teknologi informasi (TI) Onno W. Purbo mengungkapkan, kebanyakan mereka yang masuk ke dunia Startup adalah anak muda dengan latar belatang TI. Mereka bisa membuat karya berupa konten aplikasi yang bagus, tapi tidak tahu bagaimana memonetize- nya.

Masih dari hasil riset tim Teknopreneur pada pelaku industri kreatif digital di Jakarta, ada beberapa kendala yang mereka ungkapkan secara terbuka dan sebenarnya kasat mata. Pelaku industri kreatif digital ini sebagian besar adalah Startup yang kebanyakan dibangun hanya dengan bermodalkan semangat. Karena kondisi seperti itulah kemudian banyak kendala yang harus dihadapi oleh mereka. Beberapa di antaranya adalah :

Pendanaan
Hal yang paling menarik perhatian adalah pendanaan atau permodalan sebagai kendala dan bantuan yang diharapkan dari pemerintah atau dari lembaga keuangan lainnya. Sama halnya dengan badan usaha lain, setiap Startup pasti butuh dana untuk menunjang aktivitas operasionalnya. Namun, opsi bagi Startup menjadi lebih terbatas karena risiko yang dihadapi relatif lebih tinggi dibandingkan usaha konvensional. Khusus untuk digital Startup, masalah yang lebih pelik ialah seringkali Startup tidak memiliki aset tangible yang dapat dijadikan jaminan untuk mengajukan pendanaan konvensional, baik kepada bank maupun lembaga kredit lainnya. Aspek utama yang bernilai tinggi pada digital Startup bersifat intangible, yaitu pada konsep dan ide bisnis mereka. Hal ini membuat opsi pendanaan dari lembaga konvensional seperti perbankan juga sangat sulit diperoleh.

Opsi pertama yang dapat dan biasanya ditempuh oleh Startup yakni dengan menggunakan biaya sendiri untuk memenuhi kebutuhan operasional di masa awal sebelum menemukan investor. Opsi berikutnya dengan mencari investor yang memang khusus berinvestasi pada perusahaan berisiko tinggi seperti Startup. Tidak
tertutup kemungkinan inkubator bisnis juga akan memberikan pendanaan pada masa awal sehingga founder dapat lebih fokus pada pengembangan ide dan bisnisnya.

Lebih lanjut, ditemukan fakta tentang adanya perbedaan karakter dari Startup yang mendanai secara mandiri dengan yang memperoleh pendanaan dari pihak eksternal (inkubator). Startup yang didanai mandiri akan cenderung lebih berhati-hati dalam setiap pengeluaran biaya, namun juga menyebabkan langkah-langkah ekspansi seringkali harus terbentur dengan masalah dana.

Sebaliknya, Startup yang didanai oleh investor memiliki keleluasaan untuk menggunakan dana untuk pengembangan Startup dengan lebih optimal. Namun dampak negatifnya, Startup menjadi lebih agresif dan cenderung berani mengambil risiko yang lebih tinggi dalam penggunaan dana tersebut, sehingga tidak memberikan dampak yang optimal bagi Startup.

Manajemen
Seperti yang diungkapkan oleh Onno W. Purbo, kebanyakan dari founder adalah anak muda dengan latar belakang TI jadi tidak tahu bagaimana mengelola usaha. Padahal dalam bidang usaha apapun, pemahaman bisnis adalah hal yang mutlak dimiliki oleh pebisnis.

Dalam konteks industri digital, salah satu narasumber merasa bahwa entrepreneur di bidang ini masih belum memiliki jiwa entrepreneurship yang cukup untuk membangun bisnis yang mampu sustainable. Pada awal- awal menjamurnya Startup Indonesia, dikatakan bahwa para founder kurang memahami bagaimana model bisnis yang baik bagi Startup-nya dan bagaimana cara melakukan inovasi dengan baik. Pada masa itu, para founder seolah berlomba untuk menciptakan ide yang unik dan kreatif, namun belum memikirkan sisi bisnis dan keberlangsungan usaha mereka di masa mendatang. Untuk itu mereka berharap ada lembaga-lembaga, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun perusahaan besar, yang mau membimbing mereka entah dalam bentuk pelatihan, workshop, ataupun program inkubasi. Karena ketika persaingan semakin terbuka, maka mau tidak mau mereka harus memiliki kemampuan yang setara dengan para pesaingnya. “Belum lagi mau menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang artinya kita harus siap bersaing dengan orang dari seluruh Asia tenggara. Bersaing dengan Startup Singapura tentu tak mudah,” ujar Rezza founder Studio Animasi POCI.

Sumber Daya Manusia
Ini yang sedikit rumit, dalam survei yang dilakukan Tim Teknopreneur ditemukan juga kendala yang terkait dengan SDM, yaitu kebutuhan akan tim yang solid dan SDM yang berkualitas.

Tanpa dukungan tim dan personil yang mampu mengawal Startup tersebut dalam proses eksekusinya, ide dan konsep sebagus apapun tidak akan membantu. Salah satu narasumber mengakui bahwa kendala yang dijumpainya adalah membentuk tim yang satu visi dengan komitmen yang kuat untuk bersama-sama mengembangkan Startup. Di awal, mereka berkendala, lalu menemukan formasi yang tepat untuk berkolaborasi membuat dan membangun Startup. Jika mereka mengambil SDM dengan standar yang tinggi, maka konsekuensinya adalah gaji yang juga tinggi. Sementara jika ingin yang lebih rendah, mereka belum bisa banyak berharap pada lulusan SMK atau fresh graduate.

Promosi dan Pemasaran
Akses kepada pasar sangat menentukan keberlangsungan hidup sebuah Startup company. Sebaik apapun produk dan layanan yang dihasilkan, jika tidak dapat disampaikan atau terjangkau oleh pasar, maka Startup tersebut tidak akan dapat memperoleh pendapatan yang cukup untuk menjadi sustainable company. Kendala ini tampaknya merupakan kendala yang hampir dialami oleh semua Startup Indonesia di Indonesia. Akses menuju pasar menjadi sulit tatkala Startup Indonesia yang bootstrap harus bersaing dengan perusahaan yang sudah mapan, apalagi Startup asing yang memiliki dukungan modal kuat untuk bersaing merebut perhatian pasar. Oleh karena itu, dukungan dari inkubator yang sudah
memiliki akses tersebut menjadi perhatian utama bagi Startup yang hendak mengikuti program inkubasi. Platform menjadi masalah lain dalam upaya menyalurkan produk digital di Indonesia. Seperti disebutkan oleh salah seorang narasumber, pada awalnya, Startup tersebut mempertimbangkan produknya untuk masuk di dua platform mobile apps yakni Google Play dan Apple Store sebagai produk berbayar.

Namun, ketika akan meluncurkan produknya, terdapat kendala bahwa saat itu Google Play belum mengeluarkan lisensi bagi pengembang Indonesia untuk menerbitkan aplikasi berbayar, sementara Apple Store sudah bisa. Di Indonesia, hal ini menjadi masalah karena pengguna sistem operasi Android besutan Google jauh lebih dominan dibandingkan dengan sistem operasi iOS besutan Apple.

Masalah berikutnya dalam hal akses pasar adalah masih minimnya penggunaan kartu kredit di Indonesia. Padahal, kartu kredit merupakan media pembayaran yang paling efisien untuk produk digital. Akibatnya, customer menjadi malas untuk membeli produk digital karena tidak memiliki kartu kredit. Hingga saat ini, jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia baru mencapai 2 persen dari total populasi Indonesia. Jika menghitung pengguna aktif, tentu jumlah tersebut akan berkurang lagi.

Di luar permasalahan-permasalahan tersebut, masih ada beberapa persoalan yang dirasakan sebagai kendala yang akan menghambat gerak maju Startup Indonesia. Namun jika dirangkum dan diterjemahkan ulang, maka masalah yang paling sering muncul dan dianggap paling rumit oleh sebagian Startup Indonesia adalah yang telah disebutkan di atas.

Jawaban dari kendala dan harapan tersebut adalah hadirnya sebuah inkubator bisnis kreatif digital yang bisa diakses dengan mudah oleh para pelaku Startup dimana program inkubator harus lebih terbuka. Inkubator inilah yang melakukan proses inkubasi terhadap calon wirausaha dengan memberikan pembinaan, pendampingan, dan wawasan pengembangan bisnis. Selain inkubator bisnis yang khusus bagi mereka yang terpilih, di tempat yang sama juga bisa dijadikan sebagai creative corner atau collaboration space atau apapun yang bersifat terbuka, nyaman, dan kondusif untuk para pelaku industri kreatif digital beraktivitas atau bahkan hanya untuk sekedar duduk-duduk mencari inspirasi.

Tentu bukan hanya sebatas itu, kawasan tersebut nantinya juga diharapkan memiliki program coaching clinic, workshop dan agenda berbagi lainnya, termasuk galeri pamer bagi karya kreatif.

“Saya rasa masih banyak potensi di Indonesia yang belum disadari. Banyak peluang bagi pengusaha dan investor untuk menciptakan sesuatu dengan valuasi tinggi di Indonesia,” ujar Rezza.

Startup Butuh Ekosistem Mapan

Pentingnya sebuah ekosistem sangat dirasakan oleh para pelaku industri kreatif digital. Bukan hanya persoalan modal, banyak hal yang juga menjadi bagian dari ekosistem yang dibutuhkan oleh para Startup.

Sebut saja masalah SDM, selama ini ketika Startup mulai berkembang, mereka akan merasa kesulitan untuk mendapatkan SDM yang berkualitas. Ini disebabkan kurangnya kualitas pelajar SMK atau Universitas sebagai akibat dari kurikulum yang tidak mengikuti perkembangan teknologi. Begitupula dengan kebutuhan akan kemudahan kepengurusan intellectual property (IP). Saat ini angka IP di Indonesia masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga riset. Minimnya jumlah IP ini salah satu sebabnya karena keengganan untuk mengurus lantaran prosesnya yang dianggap masih berbelit-belit.

Untungnya, ajang kompetisi bagi para Startup sudah mulai bermunculan walau jumlahnya belum terlalu banyak. Keberadaan kompetisi dan seleksi menjadi penting bagi para Startup untuk menguji kualitas dari produk yang mereka hasilkan. Selain itu, dalam setiap kompetisi biasanya juga disediakan workshop atau
diskusi dengan para ekpertis di bidang yang terkait dengan produk mereka. Kebutuhan akan kompetisi ini juga diakui oleh Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika. Ia menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan banyak kompetisi yang dijadikan ajang menguji kemampuan pengembang aplikasi untuk mengembangkan ekosistem digital.

Kebutuhan selanjutnya adalah lembaga inkubasi, akselerasi dan seed capital. Ini masih terkait dengan kompetisi atau seleksi. Saat ini memang banyak kompetisi yang memungkinkan bagi para Startup untuk mendapatkan modal awal atau seed capital. Namun yang disayangkan tidak banyak kompetisi sejenis yang juga memberikan pembinaan atau inkubasi. Padahal, selain modal hal yang juga mendesak dibutuhkan oleh para Startup adalah mentor , promotor, network, inkubator, akselerator dan regulator.

Banyak Startup yang muncul hanya bermodalkan ide kreatif dari founder -nya tanpa pernah tahu apakah ide itu bisa dilanjutkan hingga menjadi produk yang bisa diterima oleh masyarakat. Atau mereka menjadi follower dari tren yang tengah berlangsung. Saat ramai e-commerce semua lantas ikut-ikutan membuat. Tidak salah memang, namun belum tentu pilihan mereka tepat bila dilihat dari potensi market, kompetensi, dan masa depan usaha.

Keberadaan lembaga inkubator dan akselerator menjadi harapan bagi para Startup atau innovator untuk bisa mengembangkan Startup mereka. Kalaupun ternyata produk mereka tidak memiliki potensi, paling tidak mereka tahu langkah pivot apa yang harus mereka lakukan.

Keberadaan market dan permodalan besar juga tak kalah penting. Bagi beberapa jenis Startup mungkin pasar sangat terbuka luas dengan persaingan yang berimbang. Namun bagi banyak lainnya butuh campur tangan pemerintah untuk bisa membantu mereka agar mendapatkan pasar dan persaingan yang adil. Bagaimana mungkin animasi lokal harus bersaing dengan animasi buatan studio luar negeri yang bagi stasiun televisi jauh lebih murah.

Dukungan lain yang diharapkan dari pemerintah adalah terbitnya regulasi yang mendukung perkembangan Startup digital kreatif. Sementara yang terjadi saat ini pemerintah dinilai kurang peka dengan pertumbuhan Startup. Hal ini muncul sebagai efek dari rencana pemerintah mengeluarkan regulasi terkait e-commerce .

Menurut Co- Founder East Ventures (EV), Wilson Cuaca, jika pemerintah ingin membuat regulasi yang tegas, pemerintah seharusnya menunggu hingga ekosistem Startup Indonesia benar-benar mapan.

“Di negara lain industrinya dibiarkan berkembang dulu. Lebih baik Startup diwadahi dulu hingga jadi industri yang mapan. Nah kalau sudah begitu baru diregulasi,” katanya menjelaskan. Saat ini, menurut Wilson, para pelaku Startup sedang merapatkan isu ini. Pihaknya juga terus berdiskusi dengan pemerintahan. “Pada dasarnya, mereka (pemerintah) ingin menerima feedback. Tapi mereka belum paham industri ini dan belum belajar dari negara lain. Makanya kita akan terus sosialisasikan ini ke mereka,” ujar Wilson.

Dr. Ivan Sandjaja, Direktur University of Ciputra Entrepreneurship Center percaya bahwa negara-negara seperti Malaysia masih jauh di depan Indonesia dalam hal membina Startup. Ia menjelaskan, “Pemerintah Malaysia juga aktif mengundang komunitas Startup Indonesia untuk bekerjasama dengan rekan-rekan mereka di Malaysia melalui berbagai skema. Namun, saya tidak yakin jika pemerintah Malaysia menyediakan dana secara langsung, terutama untuk Startup asing yang datang ke Malaysia.”

Ivan menambahkan bahwa di masa lalu, kementerian Indonesia telah mencoba menerapkan inisiatif kreatif dan bermanfaat bagi Startup, salah satunya HUB.ID yaitu sebuah Platform yang memungkinkan entrepreneur dan investor bisa terhubung satu sama lain. Namun upaya tersebut berangsur-angsur tidak terdengar karena kurangnya dukungan dari kementerian, komunitas bisnis, dan pihak lainnya. Menurut Ivan, pemerintah Indonesia juga menunjuk Dirjen Entrepreneurship , tapi karena anggaran yang begitu kecil, mengordinasi gerakan dengan skala yang besar tentunya menjadi sebuah kendala tersendiri. Maka bisa disimpulkan, tanpa adanya ekosistem maka Startup di Indonesia akan selalu sulit untuk berkembang.

Syarat Menjadi Ekosistem Yang Mapan

Maka muncul pertanyaan, apakah kita bisa melahirkan para Startup lokal yang mampu berbicara di kancah global? Untuk menjawab dan mewujudkan itu maka kita harus dapat menciptakan ekosistem yang berkiblat ke ekosistem Startup kelas dunia. Saat ini posisi ekosistem Startup terbaik di dunia masih dipegang oleh Silicon Valley. Maka wajar jika kemudian kita menjadikan Silicon Valley sebagai model ideal dari ekosistem Startup bagi Indonesia dengan tentunya diperbandingkan dengan ekosistem di Negara lainnya di kawasan Asia Tenggara maupun yang dianggap memiliki karakteristik yang mirip dengan Indonesia.

Jika kita mengacu pada Silicon Valley maka yang harus disadari adalah bahwa Silicon Valley bukan semata sebuah lokasi, namun juga sebuah pemikiran atau mindset bagi para Startup yang berdomisili di sana. Mereka memiliki budaya kerja yang bagus yang terbentuk bertahun-tahun sebelumnya hasil dari interaksi para stakeholder yang ada di sana.

Secara infrastruktur, Silicon Valley telah sangat mumpuni. Hingga kini, ia masih menjadi favorit perusahaan- perusahaan teknologi internasional seperti Google, Apple, Western Digital, Marvel Technology, dan Applied Materials, termasuk yang kantor pusatnya berada di luar AS seperti Lenovo, Huawei, dan Samsung Semiconductor.

Suplai Sumber Daya Manusia berkualitas lulusan Stanford dan UC Berkeley, serta lokasi strategis Silicon Valley yang sangat dekat dengan kota kultural paling liberal se-AS yaitu San Francisco merupakan daya tarik utama. Belum lagi kebijakan pemerintah federal yang sangat ramah investasi, dan kelengkapan faktor dalam ekosistem seperti perusahaan v e n t u r e c a pit al , inkubator, akselerator bahkan lembaga-lembaga riset juga menjadi daya tarik yang paling kuat bagi Silicon Valley. Maka tak heran jika keberadan Silicon Valley mempengaruhi banyak negara yang juga menginginkan untuk membangun ekosistem digital. Tak heran jika Global Startup Ecosystem Report 2015 yang dirilis oleh Compass, tetap memposisikan lembah digital ini pada nomor paling atas di rangking global.

Sementara dari negara tetangga, Singapura, banyak analis yang menyebutkan bahwa infrastruktur dan dukungan jaringan ekonomi Singapura untuk usaha Startup akan terus membedakannya dari negara-negara lain di kawasan ASEAN. Beberapa inisiatif pemerintah Singapura yang dimaksudkan untuk memacu inovasi dan entrepreneurship seperti i.Jam dan Dana Riset Nasional/ National Research Fund (NRF), Skema Inkubasi teknologi, yang menginvestasikan hingga 85% dari investasi yang dilakukan oleh inkubator yang direkomendasikan.

Terlepas dari dana hibah, pemerintah Singapura juga telah membangun lingkungan yang kondusif sebagai bagian dari ekosistem bagi pengusaha untuk tumbuh dan sukses. Penciptaan Blok 71 adalah contoh nyata, kawasan ini bertindak sebagai proyek infrastruktur fisik menggabungkan komunitas pengusaha, investor, dan layanan dukungan Startup untuk saling mengisi. Dalam banyak hal, Blok 71 berfungsi sebagai ruang kantor (disewakan kepada mereka dengan harga diskon). Seiring waktu, klasterisasi usaha terkait cenderung bertambah, menjadi sangat bermanfaat dan menghasilkan dividen bagi perekonomian lokal.

Ide klasterisasi ini sangat bermanfaat bagi para pelaku bisnis digital, karena perusahaan dengan minat yang sama bisa saling melengkapi, kompetensi, dan kebutuhan berkumpul. Ini menciptakan rantai nilai keseluruhan dalam cluster seperti investor, pengusaha, vendor , produsen, distributor, lembaga akademis, peneliti, dan pelatihan tenaga kerja.