iCIO Community Dorong Pemerintah dan Telegram Duduk Bersama Cari Win-Win Solution

81
Halal Bi Halal dan Charity Night Perkumpulan Chief Information Officer Indonesia (iCIO Community)

Teknopreneur.id – Perkumpulan Chief Information Officer Indonesia (iCIO Community) mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Telegram duduk bersama dan mencari jalan keluar terbaik yang sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa mengorbankan kepentingan para pengguna layanan Telegram di Indonesia.

Sebagaimana diberitakan di banyak media, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 14 Juli 2017, pekan lalu memutuskan untuk memblokir layanan platform media sosial Telegram, khususnya yang berbasis web dan kemungkinan diperluas akan melanjutkannya pada layanan berbasis aplikasi jika Telegram tidak mematuhi aturan yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia terkait penyebarluasan konten terkait terorisme. Seperti diketahui, Telegram adalah platform messaging yang menyediakan layanan chatting gratis yang menjamin kerahasiaan dan keamanan terbaik sehingga ‘hampir’ tidak mungkin diretas oleh pihak ketiga. Selain itu layanan Telegram juga menawarkan fitur-fitur yang memungkinkan penggunanya untuk melakukan komunikasi baik rahasia maupun terbuka.

iCIO Community mendukung dan mendorong penuh pemerintah, Kementerian Komunikasi dan Informatika, untuk secara tegas menegakkan aturan yang berlaku kepada semua pelaku bisnis yang memberikan layanan dan beroperasi di Indonesia secara konsisten. Selain itu iCIO Community juga mengapresiasi respon cepat manajemen Telegram dalam merespon langkah Pemerintah Indonesia dengan harapan kepentingan para pengguna layanan Telegram tidak terganggu.

“iCIO Community mendorong Kominfo dan Telegram untuk sesegera mungkin duduk bersama dan menemukan win-win solution yang sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia,” kata Dino Bramanto, Koordinator Divisi Advokasi iCIO Community.

Win-win solution  lanjut Dino tidak semata untuk memenuhi kepentingan bisnis Telegram dan para pengguna layanannya di Indonesia, namun pada akhirnya juga untuk menjaga reputasi Indonesia dan memberikan kepastian hukum bagi para pelaku bisnis lainnya.

Sementara itu Jean Reksodiputro, Koordinator Advokasi, iCIO Community yang lain, menambahkan semua pelaku bisnis tidak terkecuali harus memenuhi peraturan dan regulasi yang berlaku di Indonesia. Namun saat ini, Internet memang menghadirkan tantangan bagi pemerintahan diberbagai negara karena memungkinkan pelaku bisnis dapat menghadirkan layanan tanpa harus hadir secara fisik di wilayah atau negara tertentu.

“Kita harus memberikan apresiasi atas ketegasan dan transparansi Kominfo serta keinginan baik Telegram untuk memenuhi peraturan dan regulasi yang berlaku. Komunikasi yang baik antara pemerintah selaku regulator dan pelaku industri teknologi informasi dan komunikasi baik yang telah beroperasi di wilayah hukum negara kita atau pun belum memang harus terus ditingkatkan ke depan untuk meminimalkan berbagai efek negatif maupun merugikan dari perkembangan teknologi dan kasus seperti Telegram ini tidak terulang kembali,” tambah Jean.

 

iCIO Community Siap Menjadi  Mitra Diskusi Pelaku Bisnis Internasional

“Seiring perjalanan sejarah manusia, pena dan media sosial maupun teknologi digital adalah bagian realitas sosial menuju peradaban masa depan. Upaya menangkal propaganda negatif dan destruktif yang terjadi di media sosial mesti didukung sepenuhnya. Penyedia jasa teknologi selayaknya tidak semata-mata bertumpu pada kebebasan dan privasi total, sebaliknya pihak otoritas tidak melakukan tindakan yang bisa mencederai realitas sosial yang menjadi konsekuensi dari kemajuan teknologi,” kata Agus Wicaksono, Chairman, iCIO Community.

 

Apalagi lanjut Agus, ekonomi digital saat ini telah terbukti menjadi driver pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Kerjasama yang baik antara regulator dan pelaku bisnis menjadi faktor utama agar manfaatkan ekonomi digital itu dapat dinikamati secara berkelanjutan. iCIO Community siap menjadi mitra diskusi bagi para pelaku bisnis maupun Pemerintah Republik Indonesia untuk mengoptimalkan manfaat dari perkembangan teknologi digital bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Dengan lebih dari 200 anggota, yang merupakan para eksekutif di bidang teknologi informasi dan komunikasi dari berbagai perusahaan dengan latar belakang industri yang berbeda-beda, menjadikan pengalaman dan pengetahuan kolektif para CIO anggota kami dapat menjadi sumber referensi yang bermanfaat tidak hanya bagi pelaku bisnis yang baru berencana menggarap pasar di sini tetapi dapat menjadi masukan yang berharga pada pemerintah selaku regulator dalam membuat aturan dibidang teknologi informasi dan komunikasi yang pro bisnis dan investasi,” tambah  Agus. (Lin)