Startup Fintech Harus Bersinergi Dengan Lembaga Keuangan, DBS Bank Gelar DBS Accelerator “always on”

162
Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) ingin agar layanan fintech dapat bersinergi dengan lembaga keuangan konvensional. Tujuannya adalah agar keduanya dapat tumbuh bersama.

Teknopreneur – Tren pertumbuhan layanan financial technology (fintech) di Indonesia sudah sedemikian pesat. Tren ini mau tidak mau harus dilihat sebagai perkembangan terhadap layanan keuangan bagi masyarakat. Namun ada kekhawatiran bahwa nantinya akan ada gesekan antara layanan fintech dengan lembaga keuangan konvensional.

Untuk itu Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) ingin agar layanan fintech dapat bersinergi dengan lembaga keuangan konvensional. Tujuannya adalah agar keduanya dapat tumbuh bersama.

Deputi Komisioner Manajemen Strategis IA OJK Imansyah mengatakan, pihaknya tak menampik hadirnya  fintech telah mengambil sebagian pangsa pasar lembaga keuangan konvensional.

Namun,OJK berharap  fintech tidak dijadikan saingan, namun pelengkap dan saling mendukung dalam industri jasa keuangan.

OJK sudah antisipasi bagaimana kami siapkan langkah-langkah, tidak hanya menjadi tantangan, pesaing tapi menjadi pelengkap, saling mendukung di sektor keuangan,” kata Imansyah pada Indonesia Digital Innovation Award 2017, medio Juni lalu.

Sejalan dengan itu, DBS Bank (Hong Kong) dan Nest, sebuah platform inovasi global yang mendukung para wirausaha, telah siap untuk mendorong kesuksesan startup melalui sebuah format program DBS Accelerator “always on” yang dinamis.

Dalam siaran pers yang diterima Teknopreneur disebutkan bahwa DBS Accelerator bertujuan untuk menerapkan teknologi fintech lebih baik di dalam ekosistem bank dengan menciptakan peluang bagi para inovator dari seluruh Asia dan dunia untuk bertransformasi ke arah digital. Kini di tahun ketiga, program ini telah menjadi go-to hub utama di Hong Kong bagi para startup dengan visi dan potensi untuk membangun masa depan keuangan dengan solusi fintech yang inovatif.

Melalui format program “always-on” yang baru, DBS Accelerator akan menjadi host bagi para startups untuk terus membantu memperkuat perjalanan transformasi bank, yang akan terus diperbarui sepanjang tahun.

Startups yang berpartisipasi akan mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi peluang kolaboratif bersama bank DBS. Startup gelombang pertama akan diarahkan pada berbagai cara yang memiliki dampak dalam meningkatkan customer’s digital journey, pengelolaan risiko bank, serta cryptocurrencyblockchain dan cybersecurity.

Sebastian Paredes – CEO DBS Bank (Hong Kong) mengatakan, “Cara baru yang dinamis ini bertujuan untuk meningkatkan manajemen risiko, cybersecurity dan digital customer journey, serta kesempatan untuk menerapkan teknologi blockchain dan cryptocurrency, membantu bank-bank melakukan transformasi melalui inovasi fintech. Melalui keberhasilan program DBS Accelerator, kami sangat antusias dan berkomitmen untuk mendorong kemajuan masa depan fintech.”

Lawrence Morgan – CEO Nest berkata, “Di Nest, kami percaya bahwa inovasi dan kolaborasi yang terbuka akan membuka peluang sekaligus memberdayakan perusahaan dan startups fintech untuk tidak hanya mengatasi kebutuhan konsumen yang terus berubah namun dapat mengatasinya secara lebih cepat dengan dampak yang lebih berarti.”

Hingga Januari 2016, Asosiasi Fintech Indonesia mencatat jumlah pelaku startup fintech domestik yang beroperasi di Indonesia telah mencapai 165 perusahaan. Angka ini tumbuh hampir 4 kali lipat dibandingkan kuartal IV 2014 sebanyak 40 perusahaan. Jumlah ini disinyalir akan terus bertambah pada tahun-tahun ke depan.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai transaksi fintech akan mampu mencapai US$1,9 miliar atau setara Rp24 triliun sepanjang tahun 2017 ini. Perlahan masyarakat mulai memberikan kepercayaan pada layanan fintech demi  kemudahan dan kecepatan transaksi tanpa mengabaikan koridor kehati-hatian.