Tech Talk Seri II, E – Commerce : Menjaga Pasar Sendiri

73

Teknopreneur.id – Sebagai kelanjutan dari program Tech Talk seri pertama, digelar Tech Talk seri kedua yang mengangkat tema terkait e-commerce. Sebelumnya, pada acara Indonesia E-commerce Summit and Expo (IESE) 2017 kemarin, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara juga memberikan arahan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia bisa mencapai 11% dari total produk domestik bruto (PDB) pada 2020 atau sekitar US$130 miliar.

Pemanfaatan ekonomi digital juga sejalan dengan target pemerintah dalam hal pemerataan. Ekonomi digital memiliki tiga fokus utama mulai dari ekonomi sharing (berbagi), pengentasan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), serta inklusi keuangan. Dalam hal ekonomi sharing, Rudiantara memberikan contoh kasus Gojek yang berhasil mengubah pola transportasi konvensional. Bahkan, aplikasi Gojek ini menarik bagi kota lain, seperti kota Rio de Jeneiro, Brasil yang memiliki kondisi yang hampir sama dengan Jakarta. Untuk fokus pengentasan UMKM, Menteri mengambil contoh seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Elevania yang memfasilitasi para pengusaha UMKM di pelosok tanah air untuk bisa memasarkan produknya tidak hanya di dalam negeri, bahkan luar negeri. Dan dalam inklusi keuangan, Menteri mencontohkan salah satu bank yang membuat layanan nomor ponsel menjadi nomor rekening, dimana ini merupakan salah satu terobosan yang bisa dijajaki dunia perbankan.

Rudiantara juga mengingatkan bahwa ke depannya ekonomi Indonesia tidak akan lagi berfokus pada Sumber Daya Alam (SDA) namun beralih ke basis layanan (services). Oleh karena itu, dunia usaha yang masih menggunakan cara-cara konvensional diharapkan mulai mengadopsi basis digital agar tidak tergerus dengan teknologi yang berkembang sangat pesat.

Tak salah jika sebelumnya pemerintah bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia. Karena pertumbuhan ekonomi digital Indonesia terus meningkat terlebih pasar e-commerce. Berdasarkan data perusahaan riset global McKinsey Indonesia merupakan salah satu pasar e-commerce yang bertumbuh paling pesat di dunia. Pada 2025, setidaknya Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan bertambah sekitar Rp2.000 triliun dari sektor ekonomi digital.

Seperti diketahui, perusahaan e-commerce besar dewasa ini tengah memperhatikan pasar e-commerce yang lebih besar seperti China dan India sebagai blueprint untuk membuat pasar Indonesia bertumbuh lebih cepat. Cara ini dikenal oleh investor dan stakeholder sebagai teori time capsule‎.

Kini, e-commerce mewakili lebih dari 10 persen keseluruhan ritel di China. Indonesia sendiri hanya dalam beberapa tahun telah menunjukkan situasi pasar yang serupa dengan adanya pergeseran paradigma yang ditimbulkan oleh tren e-shopping. Bahkan sejumlah ahli juga memprediksi online shopping akan menyumbangkan sekitar 7%-8% pasar ritel lokal pada tahun 2020, naik dari angka sekitar 1%.

Kendati demikian, bukan berarti e-commerce Indonesia selalu mengalami jalan mulus. Masih ada beberapa persoalan yang berpotensi menghambat pertumbuhannya. Terlebih Indonesia dinilai sebagai pasar potensial di Asia Tenggara, sementara Asia tenggara digadang-gadang  akan menjadi kawasan penting untuk e-commerce di masa mendatang. Hal ini bisa dilihat dari persentase penjualan online yang baru 2,5% dibanding keseluruhan penjualan retail. Angka ini masih jauh di bawah penjualan online di Tiongkok, misalnya yang mencapai 12%.

Kendala e-Commerce

Salahsatu yang menjadi persoalan bagi e-commerce di Indonesia adalah persoalan pembayaran atau payment.  Karena selama ini masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan transaksi keuangan cashless, kecuali transfer bank via ATM. Namun hal ini  seharusnya bisa diatasi dengan menggandeng industri payment gateway. Terlebih Bank Indonesia (BI) kini tengah memulai uji coba interkonesi uang elektronik sebagai langkah awal implementasi gerbang pembayaran nasional atau national payment gateway (NPG). Karena payment gateway menyediakan aplikasi e-commerce yang mengintegrasikan berbagai channel pembayaran dari berbagai bank untuk e-business, online-retailer, dan lain lain.

Sementara itu, Indonesia juga dianggap belum mampu menghasilkan produk buatan lokal yang kompetitif dan belum meningkatkan angka jasa logistik. Jika semata hanya sebagai pasar, e-commerce Indonesia akan sangat mudah dikalahkan oleh pendatang dari luar. Maka sudah seharusnyalah competitiveness Indonesia dimaknai produk-produk Indonesia menjadi pilihan di domestik dan bisa akses pasar di regional bahkan global.

Sayangnya saat ini perkembangan bisnis e-commerce justru lebih banyak dinikmati pengusaha-pengusaha asing. Ini ditunjukkan dengan banyaknya perusahaan e-commerce di Indonesia yang pemiliknya sudah berpindahtangan ke pihak pemodal asing. Sebenarnya ini dapat dipahami, karena membangun bisnis e-commerce membutuhkan modal yang tidak sedikit. Oleh sebab itu ada founder e-commerce yang akhirnya menjual sebagian besar kepemilikannya pada pemodal asing.

Harus diakui, saat ini e-commerce sedang digenjot dan mengemuka, sejauh ini perusahaan e-commerce seperti Bukalapak.com masih dapat mengembangkan pangsa pasarnya di seluruh Indonesia. Di khawatirkan di masa yang akan datang, ketika e-commerce telah booming, kejadian seperti Go Jek akan terulang kembali dan kepemilikan e-commerce di Indonesia akan kembali diambilalih oleh pihak luar negeri dan target pemerintah Indonesia untuk menjadi Ekonomi Digital sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia takkan tercapai apabila hal seperti ini terus berulang. Setidaknya dapat dimulai dari regulasi yang berpihak kepada pelaku usaha lokal sehingga pelaku usaha lokal mendapatkan kemudahan untuk menjalankan usahanya.Agar kepemilikan e-commerce nantinya dapat terjaga dari intervensi asing, pemerintah juga mesti melakukan dukungan pendanaan bagi para pelaku usaha dalam negeri.