Inilah Inovasi Agar Produktivitas Tanaman Lada Tinggi

381
Ilustrasi Tanaman Lada

Saat ini, areal tanaman lada di Vietnam seluas kira-kira 50-60 ribu Ha yang mampu menghasilkan 163 ribu ton. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki luas lahan 171 ribu hektar hanya mampu hasilkan 35 ribu ton. Di Indonesia, saat ini rata-rata per hektar hanya mampu hasilkan 0,5  ton.

Sangat jauh jika dibandingkan dengan Thailand contohnya yang mampu hasilkan 3,4 ton per hektar, ada selisih 2,9 ton. Rata-rata saat ini harga lada Rp130 ribu per kilogram, jika dihitung maka ada potensi hasil yang hilang sebesar Rp377 juta per hektar (Rp130 ribu dikali 2900 kg), atau 64,46 triliun rupiah jika dihitung dengan areal seluruh Indonesia (Rp377 juta dikalikan 171 ribu hektar). Artinya, dari rendahnya produktivitas lada saja setiap tahun Indonesia sudah kehilangan potensi pendapatan sebesar 64,46 triliun rupiah!

Seperti yang diulas dalam artikel ini: Terluas di Dunia, Namun Produktivitas Lada Indonesia Terendah ,Vietnam masih merajai pasokan lada di Dunia. Padahal, luas lahan tanaman lada disana hanya sepertiga luas lahan di Indonesia. Daerah yang menjadi sentra budidaya lada adalah propinsi Nam Bo bagian Timur, daerah Tay Nguyen dan beberapa propinsi di Vietnam Tengah. hasil produksi lada Vietnam 95 persennya telah diekspor ke lebih dari 80 negara, 5 persen sisanya untuk kebutuhan di dalam negeri.

Menyadari tingginya nilai lada di pasar internasional, saat ini pemerintah Indonesia tengah menggenjot kembali produktivitas lada. Meskipun agak terlambat, namun upaya ini patut diapresiasi. Untuk mendukung upaya peningkatan produktivitas tanaman lada, diperlukan upaya diseminasi teknologi dan pendampingan kepada para petani. Berikut ini beberapa inovasi yang dapat diterapkan dalam budidaya lada yang dirangkum dari pelbagai sumber.

1. Junjung Hidup

Selama ini, banyak petani lada di Indonesia yang lebih memilih gunakan junjung mati dari batang kayu mati maupun tiang beton sebagai tiang panjat tanaman lada. Padahal, penggunaan junjung hidup pada tanaman lada memiliki banyak keunggulan lebih.

Keunggulan menggunakan junjung hidup adalah petani akan memiliki masa panen yang lebih panjang hingga belasan tahun dibanding dengan junjung mati yang hanya bertahan beberapa tahun saja. Selain itu, para petani juga dapat berkontribusi dalam pengurangan dampak perubahan iklim. Karena pohon tersebut dapat berfungsi sebagai tanaman penghijau, penyimpan air tanah dan peneduh bagi tanaman lada.

Saat ini, jenis pohon yang dapat digunakan untuk Junjung hidung adalah jenis pohon yang berbatang lurus seperti gamal dan kapuk (randu).

2. Gunakan Varietas Unggul

Pemerintah sampai saat ini telah merilis pelbagai varietas lada unggul, yaitu varietas Natar 1, Natar 2 serta varietas Petaling 1 dan 2, dan yang terbaru ada Malonan 1 dari Kalimantan Timur yang baru-baru ini ditetapkan sebagai varietas unggul nasional.

Pemilihan varietas unggul ini perlu dilakukan oleh para petani lada, mengingat varietas unggul ini berproduksi lebih banyak dari varietas lokal dan lebih toleran dan tahan terhadap pelbagai penyakit, hama dan virus. Termasuk penyakit busuk pangkal batang yang saat ini sering menyerang tanaman lada.

Untuk mendapatkan varietas unggul, sayangnya pemerintah belum menyediakan kanal khusus via internet yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Petani yang ingin mendapatkan varietas unggul tersebut harus mendatangi langsung ke Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) atau beberapa balai benih tanaman rempah yang tersebar di beberapa kota.

3. Perbanyakan Dari  Stek

Perbanyakan tanaman lada di Indonesia masih ada yang berasal dari biji. Padahal, perbanyakan melalui sistem stek lebih praktis dan cepat pertumbuhannya ketimbang perbanyakan dari biji. Karena dengan cara stek, tanaman akan cepat berbuah dan diperoleh tanaman yang seragam. Selain itu, akan diperoleh sifat keturunan dari induknya yang masih dalam keadaan utuh.

4. Junjung Modifikasi

Sistem junjung modifikasi ini telah diterapkan di India dan masih sedikit diterapkan di Vietnam dan belum diterapkan di Indonesia. Sistem ini tidak menggunakan junjung hidup (pohon) dan junjung mati sebagai tiang panjat, melainkan menggunakan kawat tahan karat yang dibentuk menjadi tabung vertikal. Didalam tabung kawat vertikal ini diberikan campuran kompos dan serabut halus yang bisa diambil dari limbah kelapa. Nantinya, tanaman lada yang ditanam sekeliling bagian bawah tabung tersebut akan merambat naik.

Uniknya, sistem ini mempermudah petani dalam melakukan perbanyakan stek karena ruas-ruas tanaman lada yang menempel di tabung akan terbentuk akar. Munculnya akar ini akibat adanya media tanam kompos didalam tabung kawat kasa tersebut. Sistem ini juga mempermudah petani dalam melakukan pemupukan, mengingat tabung vertikal tersebut juga berfungsi sebagai bank nutrisi bagi tanaman lada dibawahnya.