Terluas di Dunia, Namun Produktivitas Lada Indonesia Terendah

175
Ilustrasi Tanaman Lada

Salah satu alasan gelombang kolonialisme ke Indonesia, karena melimpahnya rempah nusantara. Salah satu komodoti perkebunan Indonesia yang berharga adalah Lada. Hingga kini, lada Indonesia masih merajai di posisi runner up penghasil lada terbesar dan pemilik lahan pernanaman terluas di Dunia. Namun dibalik pencapaian itu, ternyata produktivitas tanaman lada Indonesia termasuk pada kategori yang rendah. Apa yang menyebabkannya?

Penurunan Produksi

Negeri ini diberkahi tanah yang luas. Hal ini terbukti dari luas lahan tanaman lada Indonesia adalah paling besar di Dunia, sebesar 171 ribu hektar. Dari luas lahan tersebut, Indonesia pada tahun 2014 menurut International Pepper Community (IPC) produksinya hanya mampu mencapai 35.000 ton atau senilai USD 330 juta. Padahal, di tahun 2013, lada Indonesia mencapai 91 ribu ton atau memasok 18,8 persen kebutuhan lada pasar dunia. Sepanjang 2013-2014, ekspor lada Indonesia mengalami penurunan sebesar 23% dalam kuantitas dan 18% berdasarkan nilai. Meski memiliki luas tanam terbesar di Dunia, namun produktivitas lada Indonesia dikalahkan oleh Vietnam yang hanya memiliki 60 persen lahan lada lebih sedikit dari Indonesia.

Produktivitas Tanaman Lada Indonesia Rendah

Salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan tersebut (hingga kini, red), lantaran masih rendahnya nilai produktifitas tanaman lada di Indonesia yang hanya mampu mencapai 0,5 ton per hektar. Angka ini jauh dilampaui negara-negara lain yang justru luas areal tanamnya lebih sedikit.

Contohnya saat ini, pasokan lada terbesar di Dunia masih di dominasi oleh Vietnam yang mampu menyuplai sebesar 34,5 persen kebutuhan lada dunia. Pada tahun 2013 lalu, Vietnam mampu menghasilkan 163 ribu ton dari luas lahan 51 ribu hektar. Luasan ini kurang dari setengah luas lahan lada di Indonesia.

 

Selain Vietnam, negara lain yang memiliki tingkat produktivitas lahan yang tinggi antara lain Rwanda, sebesar 3,9 ton per hektar, disusul Thailand sebesar 3,4 ton per hektar,  Malaysia sebesar 2,5 ton per hektare dan Brasil sebesar 2,3 ton per hektare.

“Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas lahan lada di Vietnam sangat tinggi, yakni sebesar 3,2 ton per hektare,” kata Tjahja Widayanti, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan, seperti dikutip dari Tempo.

Rendahnya adopsi dan diseminasi teknologi para petani lada di Indonesia, diduga menjadi salah satu faktor miskinnya produktivitas lada di Indonesia.

Meski begitu, pemerintah menyatakan bahwa efek perubahan iklim merupakan faktor penyebab rendahnya produktivitas lada.

“Industri lada dunia masih dihadapi oleh tantangan perubahan iklim yang berdampak negatif pada produksi dan kualitas lada,” tambah Tjahja.