Kejar Elektrifikasi, Ini yang Harus Dilakukan Oleh Daerah Untuk Bangun Pembangkit Listrik

126

Teknopreneur.com – Berdasarkan catatan, angka elektrifikasi Indonesia mengalami peningkatan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berhasil mengaliri listrik ke rumah tangga (rasio elektrifikasi) hingga 89,53% per Agustus 2016 dengan konsumsi listrik 947,7 kwh per kapita.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, ada kenaikan rasio elektrifikasi setiap tahunnya. Pada 2014 angka elektrifikasi Indonesia sebesar 84,12% sementara pada Agustus 2015 tercatat rasio elektrifikasi sebesar 88,3%. Kenaikan rasio elektrifikasi ini selaras dengan terpasangnya beberapa pembangkit di tahun ini sebesar 57.603 megawatt (mw) atau mengalami peningkatan 4.018 mw dibandingkan tahun lalu sekira 56.048 mw.

Untuk mengejar angka 100%, maka pemerintah memberikan kemudahan bagi pemerintah daerah yang ingin membangun pembangkit listrik dengan mengajukan ke Kementerian ESDM. Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Maritje Hutapea menyatakan ada beberapa tahap yang harus dipenuhi.

“Pertama harus membuat feasibility study dan DD. Persyaratan kedua adalah lahan. Lahan ini menjadi hal yang krusial. Kita tidak mengalokasikan anggaran untuk membeli lahan,” terangnya, Selasa, (8/11/2016).

Dia mengakui, untuk pembiayaan EBT masih menjadi kendala, sebab biaya yang diperlukan tidak lah sedikit. Apalagi untuk di Papua.

“Kita coba meng-empowering pemda untuk mengelola, kita lakukan beberapa kali koordinasi untuk memberdayakan pemda. Pemda sampai saat ini belum optimal, ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita. Apalagi ada UU 23,” ungkap Maritje.

Pembiayaan memang kerap jadi kendala pengembangan EBT di Indonesia. Pengembangan EBT membutuhkan biaya investasi yang sangat besar, sementara kemampuan anggaran pemerintah sangat terbatas. Maka perlu peran swasta dalam pengembangan EBT, negara harus menarik sebanyak mungkin investor masuk ke sektor ini.IN