Sejak 1996, lndonesia masih mengimpor bawang putih dalam jumlah yang cukup besar dari China. Untuk memenuhi kebutuhan bawang putih nasional, setiap tahunnya pemerintah masih melakukan impor sekitar 500.000 ton, atau setara dengan Rp4 triliun. Padahal, bawang putih lokal lebih wangi dan besar ketimbang bawang putih impor. Persoalan ini telah berlangsung dua dekade, kemana perginya bawang putih lokal?

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2016, impor bawang putih mencapai 21.858 ton atau senilai US$ 18,6 juta. Untuk akumulasi Januari-Maret 2016, impornya telah sebesar 98.414 ton dengan nilai US$ 74,8 juta.

 

Bagus dan Mahal  (Lokal) Vs Jelek dan Murah (China)

Sementara itu, menurut data dari Kementerian Pertanian, persentase bawang putih lokal hanya kisaran 3 – 5 % saja. Sisanya, 95 – 97 % pasokan bawang putih nasional masih didominasi bawang putih impor. Hal ini telah terjadi sejak era 1990an silam.

Padahal, ketimbang bawang putih impor asal china, bawang putih lokal  jauh lebih besar dan lebih wangi. Harga bawang putih China yang jauh lebih murah rupanya membuat petani lokal tak bisa bertahan saat impor dibuka lebar pada tahun 1996. Petani lokal digerus oleh kebijakan pemerintahnya sendiri. Kondisi itu terus terjadi hingga sekarang.

Varietas Lokal Yang Tak Populer

Sentra – sentra produksi bawang putih selama ini umumnya di dataran tinggi, karena varietas-varietas bawang putih kebanyakan hanya cocok ditanam antara 600 – 1.100 m di atas permukaan laut (dataran tinggi). Dataran rendah yang arealnya lebih luas justru tak dikenal sebagai penghasil bawang putih.

Dalam rangka peningkatan produksi bawang putih nasional, pengembangan bawang putih dataran rendah merupakan alternatif yang harus dipilih, karena peningkatan produksi untuk dapat berswasembada sulit tercapai tanpa usaha perluasan areal pada dataran rendah. Hal ini diutarakan oleh Sang Made Sarwadana dan I Gusti Alit Gunadi asal Universitas Udayana Bali dalam penelitiannya mengenai potensi pengembangan bawang putih di dataran rendah.

Kini, sudah banyak varietas bawang putih yang dapat dibudidayakan di dataran rendah. Beberapa varietas lokal tersebut antara lain varietas Lumbu Putih, Lumbu Hijau, Bagor, Layur, Jatibarang, Tawangmangu dan Sanur.

Sinergi Quadraple Helix

Baru-baru ini di Tegal dan Batang, telah berhasil dilakukan budidaya Bawang Putih varietas unggul lokal yang berhasil dipanen sebanyak 14,5 ton per hektar. Pada pertengahan Oktober 2016 harga bawang putih di pasar induk kramat jati mencapai Rp32 ribu per kilogram. Jika diasumsikan harga di tingkat petani adalah Rp25 ribu per kilogram, maka petani akan mendapatkan omset Rp362.500.000 per hektarnya. Angka ini jauh melampaui hasil panen petani yang biasanya paling banyak berkisar 10 ton per hektar dengan potensi omset Rp250 juta.

Seperti dikutip dari Kompas, demplot penanaman ini telah dilakukan sejak 2015 silam. Hasil kerjasama antara Bank Indonesia dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, kelompok tani dengan didampingi tim dari Institut Pertanian Bogor.

“Keberhasilan inisiasi pengembangan bawang putih ini diharapkan mampu menjawab permasalahan dalam pengendalian inflasi yang disebabkan oleh komoditas bawang putih dan mengurangi ketergantungan impor bawang putih,” ujar Humas Bank Indonesia cabang Tegal, Tulus.

Kedepannya, ada 7 daerah di Jawa Tengah yang akan menjadi percontohan penanaman bawang putih lokal yaitu Batang, Pekalongan, Magelang, Temanggung, Karanganyar, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Dari pemaparan keberhasilan budidaya bawang putih di Tegal dan Batang membuktikan, bahwa apabila inovasi akan memberikan solusi jika dikerjakan bersama-sama antar stakeholder. Jika merunut pada teori Quadraple Helix, keberhasilan adopsi inovasi dipengaruhi oleh bersinerginya empat elemen yaitu akademisi, pelaku bisnis, pemerintahan, dan asosiasi. Mungkinkah langkah dan inovasi di Jawa Tengah akan diikuti oleh daerah lainnya?