Meneropong Teknologi Pertanian di Masa Depan

80

Populasi masyarakat dunia terus bertumbuh, kebutuhan pangan yang sehat semakin meningkat. Namun sayangnya fakta tersebut menghadapi tantangan menurunnya jumlah dan kualitas lahan pertanian, ditambah dengan semakin berkurangnya SDM yang bekerja di sektor ini dan terbatasnya kemampuan produksi.

Di bidang Pertanian, sejak beberapa dekade yang lalu pemerintah Indonesia masih berkutat pada tiga strategi: ekstensifikasi, intensifikasi dan revitalisasi. Sementara -negara- yang lain sudah move on untuk tak lagi mengandalkan ekstensifikasi dalam agenda pertaniannya. Karena mereka sadar, di masa depan kebutuhan lahan akan menjadi komoditi yang dikompetisikan antara pertumbuhan populasi manusia dan kebutuhan pangan itu sendiri.

Berikut ini lima prediksi perkembangan teknologi pertanian yang akan membantu manusia di masa depan. Beberapa teknologi bahkan sudah ada dan diterapkan. Sisanya, tinggal menunggu waktu. Persis seperti di era 1980an kita masih tertawa saat melihat ada manusia di masa depan mampu terbang mondar-mandir menggunakan jetboard di sebuah film fiksi. Faktanya: pada beberapa minggu lalu di AS -tayangan yang berpuluh-puluh tahun lalu masih imajinasi, telah berwujud – menjadi kenyataan.

Prediksi ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Envisioning. Sebuah lembaga penelitian swasta di Kanada yang merilis hasil penelitiannya “Metascan: Emerging Technologies” pada 2014 lalu. Meski telah lewat dua tahun sejak dirilis, justru menjadi validasi bahwa beberapa prediksinya telah benar-benar terjadi di tahun 2015-2016.

Agribots

Menurut penelitian tersebut, penggerak utama dalam revolusi pertanian di masa depan adalah robot. Karena tuntutan untuk meningkatkan produktivitas dan kurangnya tenaga kerja yang cukup, menjadikan teknologi robot sebagai pilihan alternatif mesin pertanian yang utama.

Otomatisasi ini menggunakan gabungan antara kecerdasan buatan, robotika dan sensor. Yang menghubungkan secara digital antara robot, drone, satelit dan pusat data yang dapat terkoneksi dengan tablet atau smartphone.

Robot ini bisa berwujud menjadi traktor otomatis, robot penyemprot yang dapat mengkalkulasikan dosis kebutuhan nutrisi tanaman dengan tepat, dan robot penanam benih hingga robot pemanen.

“Robot pemetik akan terus muncul dan, pada waktunya dapat memanen lebih banyak jenis tanaman. Otomatisasi pertanian bisa membuat pertanian indoor yang lebih layak di daerah terdampak perubahan iklim yang telah merusak lahan,” tulis Michell Zappa salah satu periset dalam penelitian tersebut.

Lihat: Daftar Lengkap Startup Pertanian di Indonesia

Manajemen Pertanian Berbasis Data Satelit

Manajemen pertanian berbasis pengamatan dari beberapa variasi bidang penaman. Melalui citra satelit dan sensor canggih, petani dapat mengoptimalkan pengembalian input citra data pada skala pengamatan yang akurat.

Termasuk data dari variabilitas tanaman, lokasi geografis yang menyajikan data cuaca dan curah hujan akan membantu petani untuk mengambil keputusan dan tehnik penanaman yang tepat

Pemetaan Produk Pertanian Berbasis Data Terestrial dan Udara

Informasi terkait makanan untuk pemantauan dapat ditingkatkan melalui penyematan chip yang berfungsi sebagai sensor dan bioinformatika. Dengan alat itu, pelacakan informasi terkait histori produksi pangan sampai jalur penyakit yang menjangkiti tanaman dapat diketahui dengan mudah. Produsen, pembeli dan pemerintah dapat memiliki informasi yang rinci darimana makanan itu berasal, siapa yang memproduksi, bagaimana makanan tersebut diproduksi dan kapan diproduksi.

Makanan Sintetis dari Rekayasa Genetika

Di masa depan, diprediksi biologi sintesis akan mampu menghasilkan berbagai jenis makanan. Termasuk daging hingga minuman yang berbiaya produksi lebih murah dari budidaya generik saat ini. Dengan memanipulasi genetika, makanan baru akan bisa dibuat dengan sifat, bentuk dan rasa yang baru dan lebih bervariasi sesuai dengan kebutuhan.

Lihat:Invensi Mengubah Sayuran Rasa Coklat

LED Akan Menggantikan Matahari

Model pertanian yang memanfaatkan cahaya dari LED ini memungkinkan petani untuk memanen 20-25 kali setahun dengan menggunakan “rumus cahaya” yang dapat dioptimalkan untuk produk mereka. Menggunakan 85 persen energi lebih sedikit, akan mempu menyediakan sayuran dan buah-buahan segar sepanjang tahun.

Di masa depan, cuaca ekstrem akibat pemanasan global telah merusak siklus tanam dan mempersulit manusia untuk melakukan kegiatan budidaya pertanian di ruang terbuka. Memanfaatkan ruangan yang dimodifikasi, tanaman akan tumbuh dalam kondisi optimal melalui pengaturan pemberian nutrisi, intensitas cahaya LED, hingga pengairan secara lebih baik. Metode ini juga menghilangkan kebutuhan untuk pestisida berbahaya, pupuk atau bahan pengawet, sehingga menghasilkan produk organik murah dan bebas kimia

Model pertanian dalam ruangan ini juga berpotensi menghasilkan hasil panen yang lebih banyak karena menggunakan kontruksi vertikal. Sangat cocok diterapkan di perkotaan yang lahannya sangat terbatas dan mahal. Inovasi ini juga akan memangkas biaya distribusi. Dibandingkan saat ini yang kebanyakan sayur dan buah-buahan disuplai dari perdesaan dan dijual di perkotaan.