Beras adalah salah satu produk makanan pokok paling penting di dunia. Indonesia merupakan produsen beras ketiga dunia yang anomali. Selain menjadi produsen, Indonesia juga menjadi negara yang rutin mengimpor beras setiap tahunnya. Salah satu faktor penyebabnya ialah penduduk Indonesia memiliki konsumsi beras per kapita tertinggi di dunia, selain masih rendahnya produktifitas sawah padi di Indonesia.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto mengatakan, konsumsi beras per kapita Indonesia termasuk tertinggi di dunia, jika di bandingkan dengan China, Jepang dan Malaysia.

Konsumsi beras Indonesia saat ini 124 kg per kapita pertahun, China 60 kg, Jepang 50 kg, Korea 40 kg, Thailand dan Malaysia 80 kg. Menurut Unggul Priyanto, dengan konsumsi beras yang tinggi tersebut belum cukup dengan program intensifikasi dan ekstensifikasi, harus disiapkan solusi lain melalui diversifikasi pangan, khususnya beras. Terlebih, Indonesia memiliki kekayaan ragam pangan yang berkualitas. Berikut inovasi pangan yang bergizi:

Beras Enak dengan Indeks Glikemik Rendah

Penderita diabetes melitus umumnya mengurangi makan nasi dan menggantinya dengan umbi-umbian karena beras dianggap pangan ber-indeks Glikemik (IG) tinggi. Jika dikonsumsi, beras biasa dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat.

Inovasi yang dihasilkan oleh Sri Widowati dari Balai Besar Pascapanen, Balitbang Pertanian ini dapat mengubah gabah menjadi beras ber-IG rendah dengan proses teknologi pratanak yang unik. Melalui proses pratanak ini, tingkat kandungan vitamin (B1,B2,B3,B6), mineral (Mg, Ca, K, Na, Fe, Zn), amilosa dan serat pangan dalam beras meningkat, namun kadar gula, daya cerna pati, dan IG menurun.

Dengan mengonsumsi beras IG rendah (IGr) secara teratur maka kadar gula darah dapat diturunkan dan dikendalikan.

Beras Analog Kaya Gizi Rendah Gula

Tingginya konsumsi nasi masyarakat Indonesia menyebabkan tingginya impor beras. Inovasi yang dihasilkan oleh Direktorat Riset dan Inovasi IPB ini berupa beras tiruan (analog), diharapkan dapat membantu mengurangi volume impor beras yang tinggi tersebut. Cita rasa beras ini tidak kalah dengan beras biasa, memiliki bentuk butiran yang mirip dan dapat ditanak menggunakan rice cooker maupun tanak nasi biasa sehingga tidak merubah kebiasaan.

Beras ini diformulasikan dari bahan-bahan lokal Indonesia dan tidak dihasilkan dari tanaman padi, sehingga diharapkan dapat mengurangi besarnya konsumsi beras padi, diantaranya tepung umbi dan kacang-kacangan, serta difortifikasi dengan vitamin, mineral dan serat.

Komposisi gizi beras analog yang baik dan indeks glikemik yang lebih rendah membuat beras ini baik dikonsumsi sebagai pangan fungsional.