Salah satu komoditas agribisnis unggulan dari Indonesia adalah udang. Bahkan, Indonesia dikenal sebagai produsen udang terbesar di kawasan Asean. Pada tahun 2014, total produksi udang Indonesia mencapai 645 ribu ton. Udang tersebut sebagian besar atau 70 persen diekspor dalam bentuk beku, kemudian dalam bentuk olahan 27,9 persen dan udang segar 1,5 persen. Apa saja inovasi dan invensi dalam budidaya Udang?

Apartemen Untuk Udang 

Sifat alami dari udang adalah membutuhkan tempat untuk singgah dan pada umumnya menempati bagian dasar kolam serta butuh ruang yang cukup untuk hidup atau terjadi kanibalisme di antaranya. Hal ini membatasi jumlah optimal udang yang dapat dipelihara di kolam budidaya udang galah intensif dan hasil panennya (1-2 ton / ha kolam).

Penggunaan ranting bambu, pelepah kelapa atau pisang untuk melindungi bibit udang pada proses pengembang biakan menunjukkan bahwa bibit udang ternyata merambat naik. Ini memberikan ide pembuatan apartemen dari bambu bagi udang galah dewasa dengan ukuran 20x20x20 cm dengan tinggi (jumlah tingkat) dan luas disesuaikan dengan keadaan kolam meningkatkan hasil panen beberapa kali lipat, juga keuntungan. Inovasi ini dikembangkan oleh Fauzan Ali dan Gunawan dari LIPI.

Inovasi ini bermanfaat dalam pemanfaatan air kolam lebih optimal sehingga ruang pemeliharaan bibit udang lebih luas, frekuensi penemuan antar udang berkurang sehingga meminimalisir kanibalisme, memudahkan proses pemeriksaan udang sehingga pemberian pakan bisa efisien dan efektif, dan tidak mengganggu aliran air sehingga kandungan oksigen air tetap baik karena desain apartemen yang vertikal dan horizontal.

Bakteri Yang Baik Untuk Udang

Masalah utama pada setiap kolam budidaya intensif adalah akumulasi senyawa beracun amonia, nitrit, nitrat dan hidrogen sulfida, sebagai proses alami ekskresi hewan air dan pembusukan sisa pakan. Senyawa alami yang merugikan ini mengganggu metabolisme hewan air dan dapat menyebabkan kematian.

Inovasi yang dikembangkan oleh Tri Widiyanto, Muhammad Badjoeri, Sekar Larashati dan Widi Riyanto dari LIPI ini Mampu memperbaiki kondisi kualitas air, menjaga udang menjadi lebih sehat, meningkatkan nafsu makan udang, dan mampu menjaga keseimbangan populasi plankton dan mikroorganisme dalam kolam.

Alat Pemantau Pakan Udang Dengan Ultrasonik

Akumulasi sisa pakan di dalam tambak udang dapat menyebabkan turunnya kualitas air tambak, turunnya produktivitas hasil panen dan merugikan para petani tambak. Pemantauan secara manual tidaklah efektif, menyita banyak waktu dan tenaga, rentan terhadap kesalahan, apalagi untuk areal yang sangat luas.

Inovasi alat yang dikembangkan oleh Agus Cahyadi dari Pusat Riset Teknologi Kelautan ini Dapat memantau sisa pakan dalam ancho sehingga kualitas air dapat tetap dijaga, penggunakan gelombang suara intensitas rendah yang aman bagi manusia dan lingkungan sekitarnya, melakukan pengontrolan waktu makan udang disesuaikan dengan fisiologi udang di dalam tambak, pemberian pakan yang terkontrol akan meningkatkan efisiensi biaya pembelian pakan, berukuran sangat kompak sehingga tidak membutuhkan banyak tempat di dalam tambak dan mudah dioperasikan sehingga operator tidak mengalami kesulitan dalam mengoperasikan alat ini

Alat yang diberi nama Ancho (diameter 1m x 1m) ini digunakan sebagai alat pantau di tambak dan secara berkala sampling dilakukan oleh operator tambak. Ancho meter pun dikembangkan untuk membantu tugas rutin operator ini. Ancho meter mampu mendeteksi aktivitas udang yang menandakan ketersediaan pakan berupa pelet di dalam tambak. Hasil menggunakan suara ultra lebih akurat dan lebih terjamin, ditambah teknologi telemetri memungkinkan pemantauan jarak jauh untuk cakupan yang lebih luas.

Energi Listrik Untuk Lampu dari Sedimen Tambak

Pengembangan budidaya udang sering mengalami permasalahan akibat pencemaran sedimen tambak dari sisa pakan. Inovasi ini dikembangkan oleh Bambang Riyanto, Akhiruddin Maddu, dan Yayan Firmansyah dari IPB dengan mengembangkan sistem pengolahan limbah perikanan yang menghasilkan energi listrik melalui mekanisme Microbial Fuel Cell(MFC).

MFC adalah sistem bioelektrokimia yang mampu menghasilkan arus listrik dengan memanfaatkan interaksi bakteri yang ditemukan di alam, dalam hal ini di sedimen sisa pangan tambak udang. Hasil uji coba menunjukkan bahwa kandungan bahan organik sedimen akan menurun setelah 40 hari dan arus listrik dari proses MFC akan mencapai puncak produksi pada hari ke-24, yaitu sebesar ~161,99 mA/m2 dan tegangan sebesar ~0,39V. Inovasi ini mampu memberi nilai tambah untuk mengatasi limbah sedimen tambak udang sehingga menghemat biaya operasional petambak udang.

Blumbang Reksa, Pemantau Kondisi Tambak Jarak Jauh

Petani udang tradisional berpotensi mengalami kerugian karena upaya pencagahan terhadap kematian udang masih sangat manual. Biasanya, petani melihat kondisi abnormal air kolam sebatas pengecekan fisik dan mata yang tentu saja tidak akurat.

Melalui sebuah alat sensor bernama Blumbang Reksa, dua mahasiswa S2 Teknik elektro UGM yakni Ridwan Wicaksono dan Imadudin Madjid membantu para petani udang agar kematian udang vaname dapat diminimalisir. Kerja alat ini yakni mendeteksi kondisi abnormal air kolam hanya dengan bantuan SMS. Melalui inovasinya, kondisi air kolam dapat terpantau secara real time oleh petani.

Benih Unggul Udang MacroJenerik

Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati perairan yang berharga, dimana salah satunya adalah strain udang galah. Inovasi ini adalah teknik perkawinan silang antar strain udang galah dilakukan untuk memperoleh benih yang unggul yang diberi nama MacroJenerik.

Inovasi MacroJenerik yang dikembangkan oleh Fauzan Ali dan Gunawan dari LIPI ini merupakan prototip benih yang diperoleh dari perkawinan silang antara jenis JENEBE dan jenis TARIK yang memberikan hasil terbaik dalam jumlah telur, masa inkubasi telur, jumlah larva, masa pemeliharaan larva, sintasan dan keseragaman ukuran.

Alat Pemantau Kesegaran Udang

Tingkat kesegaran udang menentukan mutu atau kualitas produk, yang pada gilirannya berperan penting dalam menentukan tingkat daya saing (competitiveness) hasil industri pascapanen produk tersebut. Untuk menjamin mutu (quality assurance) ikan agar tetap konsisten maka diperlukan suatu alat ukur atau instrumen yang dapat menunjukkan tingkat kesegaran udang atau ikan.

Invensi yang dihasilkan oleh Indra Jaya, Ayi Rahmat, dan Muhammad Faisal Sagala yang berasal dari IPB ini adalah suatu alat pengukur elektronik tingkat kesegaran ikan/udang yang menggunakan metode akustik frekuensi tinggi. Metode yang digunakan ini bersifat tidak merusak (non-destructive), tidak menyentuh secara langsung ikan/udang (sample), dan penerapannya bersifat praktis.