Implementasi Riset Pertanian dan Bioekonomi di Perdesaan

196

Sektor pertanian harus mengambil peran menjadi leading sektor dalam memenuhi tuntutan kebutuhan pangan dan energi di masa depan. Tantangan sektor pertanian pada tahun 2050 dihadapkan pada pertumbuhan dan jumlah penduduk dunia yang mencapi kurang lebih 9,6 triliun, dimana Asia memberikan kontribusi jumlah penduduk sebesar 7,3 triliun atau 60 persen dari total dunia.

Produksi pangan Indonesia harus mengalami pertumbuhan atau capaian minimal sebesar 70 persen, untuk menjawab kebutuhan pangan yang terus membesar. Disaat bersamaan, sektor pertanian juga dihadapkan pada tingginya angka konversi lahan pertanian produktif yang berakibat kepada menyusutnya lahan subur (arable land).

Masalah lainnya yaitu peningkatan kebutuhan terhadap air bersih (aktivitas pertanian menghabiskan 70 persen air daratan dunia), terjadinya perubahan iklim, terbatasnya pasokan energi, dan pengelolaan sumberdaya manusia (SDM) dan pemerataan kesejahteraan.

Menurut Saefudin dari Puslitbangbun Kementerian Pertanian, Badan Litbang pertanian dalam perspektif ke depan harus berada pada garda terdepan untuk menjawab tantangan atau masalah di masa akan datang melalui berbagai riset unggulanya.

Keberadaan teknologi seharusnya mendorong peningkatan produksi berkualitas melalui varietas unggul. Percepatan produksi untuk komoditas pangan pun harus didahului dengan riset.

 

Tak Sekedar Publikasi Riset

Terpisah, membahas soal implementasi riset, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Jumain Appe menegaskan bahwa hasil riset harus dalam bentuk aplikasi dan bukan sekadar publikasi.

“Selama ini dalam pikiran kita bahwa hasil riset dan pengembangan tersebut hanya dalam bentuk publikasi, padahal yang lebih penting hasil riset itu bisa diterapkan atau diaplikasikan,” ujar Jumain dalam temuwicara dengan tim ahli inovasi di Bandung, Kamis 13 Oktober 2016 seperti dilaporkan oleh Antara.

Jumain menjelaskan Indonesia memiliki banyak institusi pendidikan, tetapi tidak semuanya melakukan penelitian dan pengembangan berdasarkan apa yang diperlukan masyarakat.

Kelemahan di Tanah Air, lanjut Jumain, adalah tidak adanya kesinambungan antara industri dan institusi pendidikan.

“Selain itu dilakukan secara konvensional dan tanpa standar atau model. Di Denmark misalnya, para peternak itu bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk menyelesaikan beragam persoalan yang ada di sektor peternakan,” papar dia.

Indonesia Mengejar Ketertinggalan

Jumain menyebut riset dan inovasi di Tanah Air masih terbentur beberapa kendala mulai dari sumber daya riset dan akademik yang rendah. Jumlah sumber daya manusia peneliti Malaysia dan Singapura adalah dua hingga tujuh kali lipat lebih besar dibandingkan Indonesia.

Publikasi ilmiah juga rendah yakni dua hingga empat kali lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia, Thailand dan Singapura. Indeks inovasi Indonesia juga tergolong rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, Thailand dan Singapura.

“Besaran anggaran riset kita juga kecil yakni 0,08 persen dari PDB. Kondisi ini sangat kecil dari angka ideal yakni satu hingga dua persen dari PDB,” papar dia.

Sementara itu, Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya dan Ekologi Strategis Kantor Staf Presiden, Yanuar Nugroho, mengatakan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan kerangka inovasi yang bisa diaplikasikan dan bukan sekedar publikasi.

“Publikasi penting tapi kita juga ingin meningkatkan daya saing melalui inovasi terapan,” kata Yanuar.

Terpisah, menurut Saefudin, saat ini Badan Litbang mengarahkan seluruh aktivitas penelitian sesuai dengan arah kebijakan pengembangan IPTEK untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional yaitu melalui pengembangan IPTEK dalam perspektif bioekonomi.

Langkah tersebut ditempuh karena dalam kenyataanya kondisi pertanian saat ini selain dihadapkan pada masalah hulu juga masih perlu pembenahan di aspek hilir yang langsung bersentuhan dengan pendapatan/tingkat kesejahteraan petani. Untuk itu pengembangan IPTEK berbasis bioekonomi menjadi cara dan langkah penting dalam memecahkan permasalahan selama ini yaitu kemiskinan dan pengangguran khususnya di perdesaan.