Pemerintah Propinsi Lampung berencana mengembangkan singkong sebagai pembangkit energi listrik. Teknologi yang diterapkan di salah satu pabrik tapioka di Lampung dengan memanfaatkan singkong menjadi biomas pembangkit listrik sebagai salah satu solusi mengatasi krisis listrik di daerahnya.

“Produksi singkong Lampung mencapai 10 juta ton per tahun. Ada pabrik tapioka di Lampung yang telah mengembangkan singkong menjadi pembangkit energi listrik dan kami akan mencontohnya,” kata Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan Provinsi Lampung Fahrizal Darminto, pada seminar energi baru dan terbarukan sebagai solusi krisis energi Sumatera, di Kampus Institut Teknologi Sumatera (Itera), Lampung Selatan, Selasa (4/10) seperti dikutip dari Antara.

Menurutnya, pabrik itu mampu menghasilkan tenaga listrik sebesar 1 Mega Watt dengan 10 ton singkong. Selain itu, dengan adanya pembangkit listrik diharapkan dapat mempengaruhi harga singkong yang meningkat.

“Dua hasil didapat dari hasil produksi singkong, yakni kebutuhan energi dan harga singkong meningkat,” katanya.

Rektor Itera Ofyar Z. Tamin mengatakan seminar energi baru dan terbarukan sebagai solusi krisis energi Sumatera untuk membedah persoalan krisis energi di Sumatera.

Menurutnya, selama ini persoalan energi di Sumatera menjadi permasalahan yang belum bisa diselesaikan pemerintah. Hal itu, karena laju permintaan energi yang terus meningkat dan melampaui pertumbuhan pasokan energi.

“Salah satu solusi yang banyak didengungkan adalah dengan memaksimalkan potensi energi terbaru dan terbarukan. Pemanfaatan potensi itu dibahas pada seminar ini.

Seminar itu, ujar Rektor, diharapkan bisa menghasilkan suatu gambaran tentang potensi energi baru dan terbarukan yang ada di Sumatera, kebijakan pengelolaannya, dan juga rencana pengembangan teknologi baru terbarukan untuk kemandirian energi di Sumatera.

 

Sumber: Antara