Teknopreneur.com – Provinsi  Kalimantan Timur boleh berbangga diri lantaran wilayahnya dianggap memiliki lahan potensial seluas 287 ribu hektar untuk pengembangan energi terbarukan bioenergi. Apalagi pamor energi baru terbarukan tengah moncer belakangan ini. Dalam Rencana Umum Energi Nasional, peran energi baru terbarukan terus ditingkatkan setiap periodenya hingga 2050 nanti.

Staf ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sigit Hardwinarto, mengatakan dalam target kebijakan energi nasional yang diatur di PP Nomor 79 Tahun 2014, EBT memiliki porsi 23 persen.  Kontribusi EBT dalam program listrik 35 ribu Megawatt (MW) di 2019 ditargetkan mencapai 8.750 MW.

Namun sayangnya, provinsi paling timur di Pulau Kalimantan ini justru masih minim listrik. Padahal dengan kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), akan memercepat penyediaan listrik untuk masyarakat sekitar hutan dan daerah terpencil.

Menurut Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Syarkowi V Zahri harga bio energi sekitar Rp1.150 per kwh. Dengan harga dan daya tersebut bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga. Selanjutnya tinggal upaya perusahaan perkebunan mengembangkan energi tersebut untuk menghasilkan dan mendistribusikan listrik.

“Saat ini kami sedang merevisi Perda 8/2002 tentang perusda ketenagalistrikan agara perusahaan mau kembangkan bio energi,” ujarnya seperti dikutip dari Radarkaltim.

Pemanfaatan bio energi sendiri diyakini lebih murah dibandingkan listrik dari eks lubang tambang. Menurut Owi sistem kerja seperti penggunaan wilayah usaha yang perlu dibenahi. Jika menggunakan sistem wilayah usaha, setiap daerah yang punya potensi listrik bisa dikembangkan oleh pihak ketiga.

“Apalagi sekarang ada UU 23 dimana daerah punya kewenangan untuk mengatur. Nanti kami akan bicarakn dengan Distamben (Dinas Pertambangan dan Energi) agar program ini (bio energi) bisa dievaluasi,” jelasnya. IN