Teknopreneur.com –Tak  hanya memproduksi minyak sawit dan produk turunannya, PT Asian Agri juga sukses membangun pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG). Perusahaan sawit ini telah membangun lima PLTBG di Riau, Jambi, dan Sumatera Utara. Setiap PLTBG menghasilkan 2 megawatt listrik. General Manager Asian  Agri, Freddy Widjaya, mengatakan tenaga listrik tersebut bisa dihasilkan dari limbah sawit. Menurutnya, tenaga listrik dari limbah sawit ini bisa menjadi solusi terbaik bagi kelangkaan listrik nasional karena bahan bakunya terbarukan.

“Itu yang dibuktikan Asian Agri selama lima tahun belakangan dengan cara membangun lima pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG) di Riau, Jambi, dan Sumatera Utara. Masing-masing PLTBG itu menghasilkan 2 megawatt listrik,” tutur Freddy, pada wartawan.

Selain untuk kebutuhan kelistrikan pabrik sawit, energi listrik yang dihasilkan oleh PLTBG di beberapa perkebunan tersebut juga mengaliri listrik bagi rumah warga di sekitarnya. Menurut penuturan Freddy, jika kebutuhan pabrik hanya sekitar 700 kilowatt, maka ada sisa daya excess power sebesar 1,3 megawatt.

“Dalam perhitungan kami, jika satu rumah tangga membutuhkan 900 watt, maka kelebihan daya yang dimiliki Asian Agri saat ini bisa digunakan lebih dari 7 ribu rumah tangga,” tambahnya.

Asian Agri menargetkan ada ada 20 PLTBG yang dibangun sampai 2020. Dengan target demikian, maka menurut Freddy, Asian Agri bisa memenuhi kebutuhan 28 ribu rumah tangga.

Ia mengatakan, perintisan PLTBG ini merupakan komitmen ASian Agri untuk membantu pemerintah mengurangi ketergantungan bahan bakar minyak impor dan menyediakan energi alternatif ramah lingkungan.

Perusahaan ini membuktikan diri telah mampu menghasilkan energi terbarukan yakni biodiesel, dan mengolah limbah cair sawit (POME) menjadi biogas yang menjadi sumber energi listrik bagi PLTBG.

Diperkirakan Asian Agri merogoh investasi sebesar Rp60 miliar untuk satu PLTBG. Namun angka ini terhitung murah jika dibandingkan dengan biaya pengadaan solar bagi operasional pabrik yang diperkirakan mencapai  Rp14 miliar setiap tahunnya. Belum lagi dampak positif yang muncul dari pengolahan metan menjadi listrik.

Sebelum dimanfaatkan sebagai sumber biogas, POME hanya digunakan sebagai pupuk bagai kebun sawit mereka. Saat ini POME menjadi limbah yang penting dan komersil. Namun perannya sebagai pupuk tetap berlaku melalui limbah terakhir yang telah melewati proses produksi biogas yang dimanfaatkan sebagai pupuk untuk land application. IN