Mau Lebih Untung Dalam Budidaya Kentang? Praktekkan Inovasi Ini

115

Kentang adalah salah satu tanaman pangan utama Indonesia yang tren permintaannya terus meningkat. Budidaya kentang terbilang memiliki keuntungan yang lumayan dibanding komoditas lain. Sayangnya, perluasan penanaman kentang terhambat oleh kebutuhannya akan dataran tinggi dan suhu rendah untuk tumbuh optimal, serta biaya usaha tani yang tinggi. Kini, telah ada inovasi yang mampu mengatasi kendala tersebut. Bagi anda yang ingin budidaya kentang, wajib tahu inovasi-inovasi berikut.

Kentang Dataran Rendah

Inovasi yang berasal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mencoba mengatasi masalah budidaya kentang dengan melakukan seleksi dari koleksi CIP (International Potato Center), sehingga didapatkan varietas unggul.

Keunggulan inovasi ini ialah kentang memiliki produktivitas lebih tinggi, bisa ditanam pada dataran menengah, dan lebih tahan suhu (cocok ditanam di datara menengah hingga tinggi). Terlebih lagi, kentang ini ramah lingkungan karena tidak ikut merusak lahan dataran tinggi, lebih tahan hama sehingga membutuhkan lebih sedikit Pestisida maupun fungisida.

Tanam Kentang di Udara (Aeroponik)

Inovasi ini merupakan karya dari peneliti Universitas Hasanuddin Makassar. Dengan memanfaatkan teknologi aeroponik dan kultur jaringan untuk melipatgandakan benih kentang. Menggunakan peralatan dimodifikasi dan disederhanakan dari bahan-bahan yang tersedia di Indonesia, ternyata mampu menghasilkan benih kentang yang melimpah dari setek aklimatisasi kultur jaringan.

Tehnik ini dapat mencapai produksi sebanyak 100 umbi/tanaman (20 kali lipat dibanding sistem konvensional), ukuran umbi meningkat 3-5 kali lebih besar, bebas OPT (organisme pengganggu tumbuhan), kemurnian varietas terjaga, mudah dipanen dan efisiensi nutrisi dan air mencapai 90% sehingga lebih hemat.

Benih kentang dapat diproduksi kapan dan dimana saja, tanpa mengenal musim karena menggunakan screenhouse yang lingkungannya dapat dimodifikasi. Inovasi ini menjadi solusi penawar untuk mandiri dalam menghasilkan benih dan untuk mendukung pencapaian swasembada benih kentang nasional.

Kentang Kultivar Jala Ipam

Dalam proses pembuatan french fries dibutuhkan jenis kentang khusus yang memiliki kandungan pati yang tinggi. Umumnya bahan baku french fries ataupun hasil olahannya menggunakan (bibit) kentang Atlantic yang masih diimpor, sehingga ketersedian bahan baku tidak kontinyu dengan harga tergantung pada nilai tukar rupiah.

Menjawab persoalan tersebut, peneliti dari Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi (PPSHB) IPB membuat inovasi kultivar kentang Jala Ipam yang telah diseleksi dan cocok sebagai bahan baku industri french fries. Keunggulan inovasi ini umbi kentang berukuran besar, berbentuk lonjong memanjang, dan memiliki kandungan pati yang tinggi. Kentang ini terbukti lebih tahan penyakit dan memiliki produktivitas lebih tinggi dibanding kentang Atlantic.

Sumber: BIC